stopgoblog

BH Merah

In Esei on Oktober 25, 2006 at 2:50 pm

Pelajaran filsafat bisa hadir kapan saja, oleh siapa saja dan dimana saja. Contohnya kisah yang aku alami ini. Kejadiannya di rumah kawanku, di jalan Ngagel Jaya Utara, Surabaya. Pagi itu, Mario (nama sebenarnya) memanggil aku dan Erwin (nama sebenarnya juga) dengan sedikit berteriak: ” rek, sini cepetan liatin tu “. Kami pun terburu-buru mendatanginya. Mario sudah berdiri di depan pintu sebuah kamar, tepatnya di sebelah dapur. Tangannya menunjuk ke arah kasur. Dan dengan sedikit berteriak dan sedikit dramatis dia bilang gini : “itu rek, ono BH merah. Punya sopo iku ? “. Erwin, yang sedang memasak air untuk membuat kopi, mengaku tak tahu apa-apa. Aku terkejut, dan mengatakan kepada mereka bahwa kemarin aku dan seorang kawan membersihkan kamar itu dan tak menemukan BH merah. Kesimpulan kami sama: BH merah itu tiba-tiba ada disana dan kami perlu membicarakannya dengan serius dan seksama.

Lalu kami meninggalkan BH merah itu tetap ditempatnya dan membahasnya di ruang tamu. Erwin kembali mengaku tidak tahu apa-apa. Aku kembali menegaskan kemarin BH merah itu tidak ada. Dan kesimpulan kami, masalah ini perlu dibahas lebih serius dan seksama. Kami pun menunggu Mardun (nama panggilan) , kawan kami si pemilik rumah itu. Rumah itu sendiri baru ditempati, belum genap dua minggu. Kejadian ini menimbulkan asumsi-asumsi jenius. Asumsi Mario: ada salah seorang di antara kami yang diam-diam membawa seorang cewek dan BH-nya ketinggalan karena terburu-buru. Aku sendiri punya asumsi: BH merah itu kepunyaan kakak sepupu si Mardun, yang dulunya menempati rumah ini. Asumsi Erwin tidak sempat terlontarkan, karena ia harus pergi untuk suatu urusan di tengah-tengah pembahasan ini. Maka tinggallah Mario dan aku meneruskan pembicaraan seputar kemungkinan-kemungkinan ontologis di balik kemunculan BH merah ini. Mario pun bercerita tentang misteri gaun merah. Kisah ini dialaminya sendiri ketika mengunjungi kerabatnya di Malang. Katanya, semua penghuni kos kerabatnya disana dihantui oleh hantu bergaun merah. Konon, ada seorang mahasiswi yang pernah bunuh diri di sana dan hantunya masih tinggal di sana. Dan Mario sendiri pernah didatangi oleh mahasiswi bergaun merah itu di dalam mimpinya.

“Mungkin kalau kita mengambil BH merah itu, ada suara yang berbunyi gini: mas, itu BH-ku”, kata Mario menduga. Dan tak lama setelah Mario bercerita, datanglah Mardun. Mario langsung mengajak Mardun yang tak tahu apa-apa itu menuju kamar tadi. Pintu pun dibuka. Dan Mario menunjuk ke arah kasur tadi, ke arah BH merah tadi. Mardun bilang bahwa kemungkinan BH merah itu punya kakak sepupunya yang ketinggalan. Mario bilang kalau tadi aku bilang kemarin BH merah itu tidak ada. Masalahnya menjadi semakin misterius. Dan Mardun menghidupkan lampu kamar agar dapat melihat lebih jelas lagi. Dia pun melangkah menuju kasur tadi. Dan tangannya meraih BH merah itu ! Dan Mardun berteriak : “o asu! Ini kan tali gorden! “. Aku dan Mario tak langsung percaya. Dan setelah kami mendekatinya, menatapnya dengan serius dan seksama, ternyata memang itu hanya seutas tali pengikat gorden berwarna merah. Misteri BH merah ditutup. Kami pun tertawa semuanya.

Di awal tulisan tadi aku mengatakan kisah di atas adalah suatu pelajaran filsafat. Memang kisah BH merah itu adalah suatu pelajaran filsafat. Dan aku malah berani menyatakan bahwa kisah di atas adalah suatu inspirasi untuk menemukan jalan keluar dari suatu masalah besar dalam ketidakseimbangan sistem filsafat: mitos dan logos. Aku ingin menguraikan bahwa peradaban manusia adalah suatu interaksi antara mitos dan logos, dan tidak mungkin menghilangkan keduanya atau melebih-lebihkan salah satunya. BH merah di atas adalah mitos. Kenyataannya, BH merah itu tak pernah ada. Ia hanyalah bentuk ketidaksempurnaan penemuan manusia. Mario menemukan BH merah, dan Mardun menemukan BH merah tadi itu ternyata hanyalah sekedar tali gorden merah. Proses penemuan tadi melibatkan kerja inderawi, pembuktian rasional, hingga pengalaman empiris. Artinya, proses penemuan tadi melibatkan suatu penjelajahan logos. Dan kisah BH merah tadi adalah suatu penjelajahan logos untuk membuktikan mitos. Inilah yang dinamakan peradaban, kawan-kawan pembaca.

Peradaban manusia adalah kisah penjelajahan logos untuk membuktikan mitos. Dan filsafat, yang menurut definidi klasik diartikan sebagai ilmu yang mencintai kebijaksanaan, bisa kita kembangkan lagi pengertiannya. Filsafat bisa kita artikan sebagai ilmu yang mencintai setiap penjelajahan logos untuk membuktikan mitos. Friedrich Nietzsche adalah filsuf yang paling awal mengkritik penjelajahan logos ini. Itu sebabnya ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati, dan manusia yang membunuhnya”. Ini harus dipahami baik-baik, dan jangan dipotong-potong. Nietzsche tidak bermaksud membunuh Tuhan dengan pernyataannya. Ia justru bermaksud menunjukkan bahwa orang-orang Eropa sudah membunuh Tuhan karena mereka terlalu mengagungkan logos untuk menjelaskan Tuhan. Tuhan tidak perlu dijelaskan. Ia sudah menjelaskan dirinya sendiri dengan alam ini. Itulah sebabnya Nietzsche banyak sekali menggunakan aforisme ketika menulis. Dan ia banyak sekali menggunakan metafora. Tujuannya hanya satu: menghindari diri dari kekurangan logos dan mengangkat mitos sebagai media untuk membuktikan kekurangan logos.

Saat ini, aku melihat banyak sekali penulis fasih mengutip Foucault, Derrida, atau Lacan. Tapi mereka melupakan mbah-nya: Friedrich Nietzsche. Namanya seakan tercemar karena ia dibebani dosa membunuh Tuhan. Padahal, orang yang paling berdosa adalah orang yang mengira Nietszche bisa membunuh Tuhan. Bukankah itu berarti sama dengan menganggap bahwa Tuhan bisa dibunuh oleh seorang filsuf biasa? Bagiku pribadi, Nietszche adalah seorang filsuf yang berani membuktikan bahwa BH merah itu adalah sekedar tali gorden. Dialah yang membuktikannya. Memang, caranya membuktikan sedikit unik: mengambil seutas tali gorden merah, merangkainya agar kelihatan seperti BH merah, dan ia letakkan di ranjang sejarah filsafat Eropa. Hasilnya bisa diduga. Hingga saat ini pun orang-orang masih meributkan filsafat a la Nietszche itu. Orang-orang meributkan usangnya mitos karena tidak mau kehilangan suatu peradaban logosentris yang lahir dan disebarkan di Eropa itu.

Kita sekarang mengenal Foucault yang telah menjelaskan relasi-relasi kekuasaan di wilayah ketidaksadaran (kesadaran? hehehe) yang tak pernah dibahas sebelumnya: kegilaan, seksualitas. Kita sekarang mengenal Derrida yang mengkritik logosentrisme. Kita sekarang mengenal Lacan yang menunjukkan bahwa ketidaksadaran (kesadaran? hehehe) punya strukturnya sendiri, seperti bahasa. Tapi ternyata, penemuan demi penemuan tersebut tidak mengubah apa-apa di negeri tumpah darah kita, Indonesia. Lihat saja, mengapa masih ada seragamisasi sekolah, bukankah hal ini merupakan manifestasi kekuasaan atas tubuh wahai kaum pembaca foucault yang terhormat ? Lihat saja, mengapa masih ada seragamisasi bobot waktu belajar melalu Sistem Kredit Semester (SKS), bukankah hal ini merupakan konstruksi peradaban yang mengabaikan hukum relativitas waktu, wahai para pembaca derrida yang terhormat? Lihat saja, mengapa murid-murid dari SD sampai kuliah harus menunjang suasana diam di dalam kelas, bukankah hal ini merupakan upaya penyeragaman struktur kesadaran melalui pembiasaan untuk menghilangkan kemandirian struktur bahasa yang dimiliki oleh seorang manusia, wahai pembaca Lacan yang terhormat?

Sesungguhnya, aku malah membicarakan Foucault, Derrida, Lacan maupun mbah Nietszche. Tapi kemarahan pada kaum akademisi taek kucing yang merasa jenius di negeri inilah yang membuatku harus mengatakan bahwa seutas BH merah lebih berharga daripada setumpuk buku-buku posmodernisme import di rak-rak buku berdebu itu. Membaca Foucault, seorang manusia yang waras harusnya segera menjadi seorang radikal karena negeri ini dibangun atas relasi kekuasaan yang menjijikkan mulai dari rektorat di kampus-kampus hingga di kantor-kantor pemerintahan. Tapi ternyata tidak. Yang terjadi saat ini adalah negeri ini seperti gua plato yang di dalamnya kita melihat kaum terdidik melihat pegelaran bayangan pemikir-pemikir impor sementara di luar sana ada ketidakadilan dimana-mana. Cuih!

Tomy D G

  1. hmm… lucu ah, masa sih tali pengikat gorden dan BH merah sama tu bentuknya? beda amat…

  2. dimata Tomy segala tali adalah tali BH. Itu namanya proyeksi dipsikologi. Ya ga Tom?

    hihihi

  3. tuh kan… jangan salahkan ‘the first impression’ if ‘what people see is what they will get’ aja…. huhuhu

    tomy dan filosofi dewasa bangetnya… creative minds have always been known to survive any kind of bad training ~ Anna Freud, mungkin? hihihh…

  4. hihihi (gua cengar-cengir)

  5. bagaimana perjalanan dari mitos ke logos?

  6. Kawan Vanesya Shelomita,
    Pada tahun 1871, jarak dari tanah mitos ke tanah logos itu sama seperti menghitung jarak antara berdirinya dua orang filsuf Jerman di tempat yang berbeda. Yaitu antara seorang Karl Marx yang menggebu-gebu, terinspirasi oleh revolusi proletariat hingga lahirnya Komune Paris di satu sisi, dan disisi lain dengan seorang Friedrich Nietzsche yang termenung sendirian seolah-olah tidak peduli dengan perang antara Prussia-Perancis dan bahkan dengan Komune Paris itu sendiri. Jarak itu dihitung secara kasar saja, dihitung dari F. Nietzsche di satu sisi dan K. Marx di tempat lain.

    Nietzsche adalah seorang filsuf nihilis-romantis. Bagi kita orang Timur, tradisi nihilis-romantis tentu sudah kita akrabi. Tapi tidak dengan Eropa ketika itu. Nihilisme itu aib bagi pencarian modern, sejak Rene Descartes menuliskan ‘Diskursus Metode’. Aib, karena berlawanan dengan tradisi pencarian akan kepastian yang berdiri diatas fondasi sains yang kokoh, yang sudah dirintis oleh Copernicus di abad ke-15, dan Galileo, Kepler, hingga Newton di abad ke-16 (kalau tak salah ingat ini abadnya). Nah, proyek nihilisme Nietzsche itu dimulainya ketika ia menuliskan ‘Lahirnya Tragedi’, yang mengungkap betapa keagungan Yunani yang dikultuskan Eropa itu justru membutuhkan suatu tragedi yang bersumber dari musik. Hehehe…khas romantis sekali si Nietzsche kita ini. Tentu saja krya itu membuat berang Eropa. Nah, klimaksnya adalah ‘Sabda Zarahustra’ yang monumental itu, yang membuat Nietzsche tidak dianggap, karena karya itu dianggap sepi-sepi saja oleh publik. Kenapa kok dianggap sepi? Karena ia membangkitkan lagi si Zarahustra atau Zoroaster itu. Bagi Nietzsche, si Zarahustra dari Persia itu adalah pencetus moralitas ‘baik dan benar’ yang kemudian menjadi mitos dan diteruskan dalam tradisi Kristiani, hingga menghantui kesadaran Eropa ketika itu. ‘Sabda Zarahustra’ adalah monumen bangkitnya mitos untuk mengusir pergi tradisi rasionalis-modern, mengusir pergi empirisme juga, dan mengusir pergi jejak-jejak skolastik yang masih hinggap menghantui kesadaran orang-orang Eropa. Dan Zarahustra-nya Nietzsche merayakan kapal instuisi dalam kedalaman dan keluasan dan gejolak ombak samudera metafisika. Ah, indah sekali. Kawan kita Nietzsche ini adalah seorang seniman yang kesasar di rimba para filsuf. Sejak saat itu, tradisi pemikiran Eropa berjalan di jalan setapak yang melelahkan di pegunungan sepi yang penuh mitos.

    Sementara itu, periode itu juga ditandai dengan bangkitnya kembali sosok terbesar yang hendak mengusur tradisi metafisika dari rimba para filsuf. Ia adalah Marx. Ialah yang mengaku sebagai murid dari Hegel, yang darinya ia menggali dialektika. Dan ia pula yang mengakhiri bergentayangannya ruh metafisika dengan mengangkat tinggi-tinggi bendera materialismenya. Dan lahirnya tradisi logosentris itu memuncak dengan klaimnya akan dialektika-materialis. Ia pula yang menjadikan sejarah sebagai sains yang kokoh melalui hukum perkembangan masyarakatnya, hingga kemudian dikenallah: dialektika-materialisme-historis. Dalam ‘Tesis-tesis mengenai Fueerbach’, khususnya tesis ke-11, ia mengatakan: ‘para filsofos hanya mengubah penafsiran mereka atas dunia, padahal, yang terpenting adalah, mengubah dunia itu sendiri’. Dalam ‘Kapital’ ia membongkar ‘dunia’ kaum kapitalis dan dengan itu pula ia mengubah dunia hingga memberi api kepada gerakan buruh revolusioner. Sejak saat itu, tradisi pemikiran Eropa dituntut untuk selalu meniti di jalur yang tipis dan rapuh menuju tanah logos.

    Nah, Kawan Vanesya Shelomita,
    Perjalanan dari “Sabda Zarahustra’nya Nietzsche ke ‘Kapital’nya Marx itulah yang saya maksud dengan perjalanan mitos ke logos. Indah sekali perjalanan itu. Perjalanan itu adalah perjalanan yang tak linier. Aku tak bisa menggambarkannya.

    Di dalam planet filsafat ini, perjalanan itu bisa ditempuh melalui dialektika. Karena filsafat itu tidak punya sejarah, maka kita harus menempatkkannya di dalam sejarah melalui, dielaktika tadi.

    Ah, ia seperti perjalanan dari tanah nihil (Tiada) ke tanah kepastian (Ada). Suatu perjalanan (ti)ada.

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.