Namanya John Bongkar. Ia adalah seorang detektif politik. Detektif politik adalah profesi yang diciptakan John Bongkar sendiri agar ia tidak perlu lagi mengakui statusnya sebagai penganggur terbuka. Ah, ya. Di negerinya, John Bongkar termasuk bagian dari penganggur terbuka yang jumlahnya mencapai 11,1 juta orang itu. Menurut Badan Pusat Statistik di negerinya John, jumlah penganggur terbuka pada Februari 2006 bertambah sebanyak 200 ribu orang dibandingkan jumlah penganggur terbuka pada setahun sebelumnya. John termasuk diantara 200 ribu orang itu. Read the rest of this entry »
Archive for Nopember 2006
Rebel (6)
In Tak Berkategori on Nopember 18, 2006 at 8:13 pmMatahari masih di langit, ketika kebosanan menghampiri Rebel. Siang itu, ia sedang berada di suatu warung yang terletak diantara aspal jalan dan got. Di depannya ada segelas teh dingin, kelihatan baru diminum separuh. Batu esnya sudah mencair sebagian. Sisanya mengapung, menyembulkan puncak-puncak batu es kecil. Untuk menghentikan kebosanan tadi, ia menekan-nekan sedotannya untuk menenggelamkan batu es kecil-kecil itu ke bawah permukan teh dingin itu. Kelihatannya menjadi keasyikan tersendiri bagi Rebel, karena batu-batu es kecil itu seolah-olah melawannya. Batu-batu es itu tidak mau ditenggelamkan, tapi ingin menunjukkan mukanya ke atas permukaan dunia. Huh, betul-betul membosankan melihat Rebel dan batu es di gelas teh dinginnya. Seakan-akan dunia ini diciptakan hanya agar manusia mengisi hidupnya untuk sekedar mempermainkan es batu.
MACAN DI BENGKULU SANA
In Esei on Nopember 15, 2006 at 10:01 amAda satu dusun di-propinsi Bengkulu didaerah selatan kecamatan Talo nama Dusun itu Dusun Tinggal. Suatu hari dalam rangka meng-apresiasikan seni berburu dan adu kejantanan, penduduk dusun pergi memburu harimau dihutan dekat desa, dan merekapun berhasil menjebak dan mengurung seekor harimau, setelah mempermainkan harimau tersebut harimau itu mereka bunuh dan mereka potong kepalanya.
INI TUMPAH DARAHKU, MANA KEBANGGAANMU?!!
In Esei on Nopember 15, 2006 at 10:00 amAda sebuah penyakit mental yang selama ini tidak kita sadari. Ada sebuah gangguan, kegilaan, sindrome bahkan depresi psikologi yang mengidap jiwa masyarakat kita. Yaitu kepercayaan diri dan rendahnya perspektif kita terhadap kualitas diri secara utuh, dan terhadap kekayaan daya cipta asal budaya sendiri.
Lemahnya prioritas masyarakat terhadap budaya ini disebabkan oleh kondisi bangsa yang miskin dan tidak mempunyai harga diri serta kurangnya contoh yang baik dari petinggi keparat(tur) Negara yang cenderung oportunis, hipokrit dan korup, sebuah tatanan mental yang didapat oleh cara berpikir pragmatis positivisis yang tidak bertanggung jawab yang dipelopori oleh filsuf kontemporer positivistic sekelas John Semaunya Dewek (John Dewe). Rendahnya prestasi serta kurang diprioritaskan ilmu pengetahuan dan daya kreasi pada zaman OrdeBaru -karena sejak zaman ini ada penyumbatan daya kreasi dalam menentukan arah pembangunan dalam negeri sendiri, tersangkut dalam proposal-proposal luar negeri dan peraturan serta saran-saran aneh dari IMF, Indonesia terjebak dalam krisis kualitas kebijakan regulasi –pergantian produksi mandiri menjadi pemenuhan import, orientasi kemandirian menjadi orientasi laba-, dan akhirnya terjebak dalam masa depan yang miskin, hal tersebut juga ikut menghambat daya cipta bangsa serta prestasi-prestasi yang sebetulnya menunggu untuk muncul kepermukaan.
Rebel (5)
In Esei on Nopember 14, 2006 at 10:29 pmGelas bening itu berdiri dengan heningnya di atas meja kayu. Rebel memandang gelas bening itu. Gelas itu terisi air putih hampir penuh. Rebel menggenggam gelas itu, sehingga telapak tangannya tampak dibiaskan oleh air di dalam gelas itu. Rebel masukkan sendok, maka sendoknya seolah-olah bengkok karena air lagi-lagi membiaskannya. Mungkin karena air biasa membelok-belokkan dirinya mengikuti wadah atau alurnya, sehingga cahaya pun mampu dibelokkan, pikir Rebel.
Rebel (4)
In Esei on Nopember 14, 2006 at 8:50 pmKali ini, Rebel mengasingkan diri di suatu mal. Mal itu terletak di suatu pusat kota yang berlagak metro di suatu negara dunia ketiga ini. Mal, di negaranya Rebel, adalah manifestasi fisik dari suatu ambisi penguasa untuk memberikan ‘ruang publik’ bagi warga kotanya. Padahal seringkali mal justru menggusur ruang publik yang sebenarnya. Dan untuk ambisi ini, Rebel sudah cukup kenyang dengan basa-basi berlagak ilmiah penguasanya. Biasanya, pembangunan mal dihubungkan dengan ‘kemajuan’ ekonomi. Untuk mendukung basa-basi ilmiah tadi, biasanya, para penguasa akan memberikan angka-angka statistik yang seolah-olah mampu mengubah rencananya apabila dibantah oleh orang banyak sekalipun.
Rebel (3)
In Esei on Nopember 13, 2006 at 7:17 pmHujan harusnya sudah turun hari ini di pertengahan bulan November ini, begitulah Rebel berharap di atas bangku panjang di suatu warung di pinggir jalan di suatu kawasan di sebelah timur kota Surabaya. Rebel merindukan hujan turun dengan rintik-rintiknya, yang satu persatu jatuh menetes dari langit seakan mengingatkan manusia untuk segera bersiap-siap menyambut gerimis. Lalu gerimis pun membasahi aspal jalanan, menaikkan debu jalanan dengan sekejap, dengan bau khasnya yang menyergap hidung.