stopgoblog

Pengaruh Rok Mini Seorang Mahasiswi Terhadap Perubahan Relasi Kekuasaan Antara Negara dan Kampus Ditinjau Dari Keberadaan Aparatus Negara Represif dan Aparatus Negara Ideologis Serta Timbulnya Kemungkinan-Kemungkinan Peristiwa Revolusioner Antara Mahasiswa Dan Birokrasi

In Esei on Desember 2, 2006 at 7:15 pm

Kawan-kawan pembaca, apa kabar anda semua? Anda sehat walafiat bukan? Syukurlah, saya senang sekali membuat anda tersiksa membaca judul menyakitkan untuk membuka tulisan ini. Bukan maksud saya untuk mengagetkan anda dengan menuliskan judul yang sangat panjang untuk tulisan saya ini. Sesungguhnya, judul tersebut sudah melalui banyak sekali pertimbangan. Dan kalau boleh saya jujur, sebenarnya judul panjang tersebut sudah mengalami pemotongan kata berulang kali. Awalnya, saya berkehendak untuk memberi judul berikut: Pengaruh Ketidakseimbangan “Fashion” Dalam Sistem Kapitalisme Global Di Penghujung Abad ke-20 Terhadap Perubahan Relasi Kekuasaan Hegemonik Antara Negara dan Kampus Ditinjau Dari Keberadaan Aparatus Negara Represif dan Aparatus Negara Ideologis Serta Timbulnya Kemungkinan-Kemungkinan Konflik Antagonis-Revolusioner Antara Mahasiswa Pro Gerakan Non-Kooperatif Dengan Aparatus Kampus Represif-Ideologis. Namun saya membatalkan rencana itu. Setelah saya pertimbangkan, judul tersebut terlalu panjang dan akan melelahkan mata. Maka saya pun memotong beberapa kata hingga menghasilkan judul akhir yang menurus saya sangat layak untuk dibaca oleh anda semua, Kawan-kawan pembaca. Judul itu akhirnya berbunyi berikut: Pengaruh Rok Mini Seorang Mahasiswi Perubahan Relasi Kekuasaan Antara Negara dan Kampus Ditinjau Dari Keberadaan Aparatus Negara Represif dan Aparatus Negara Ideologis Serta Timbulnya Kemungkinan-Kemungkinan Peristiwa Revolusioner Antara Mahasiswa Dan Birokrasi. Tidak mengecewakan, bukan?

Saya akan memulai tulisan ini dengan membahas mengenai pengertian negara. Negara, sebagaimana yang kita-anak-anak muda-pahami dewasa ini, diartikan sebagai peristiwa yang tidak berarti. Tetapi, kita tidak bisa mengikuti kemauan banyak orang untuk menganggap negara sebagai suatu peristiwa yang tidak berarti. Kalau negara itu tidak berarti, maka saya tidak punya alasan untuk menuliskan tulisan ini. Apalagi saya membayangkan tulisan ini akan menjadi suatu rujukan bagi para kritikus sastra karena mengandung nilai-nilai keindahan romantik di dalamnya. Oleh karena itu tidak perlu dibantah lagi, sudah jelas bagi kita untuk menganggap negara sebagai peristiwa yang berarti.

Nah, apabila negara itu ternyata merupakan suatu peristiwa yang berarti, lantas peristiwa apa pula yang membuatnya menjadi berarti? Hmmm, pertanyaan jenius, bukan? Catat baik-baik jawaban saya berikut ini, kawan-kawan pembaca. Negara menjadi berarti karena ia merupakan peristiwa perebutan kekuasaan antara kelas penguasa dengan kelas yang tak berkuasa. Negara adalah peristiwa pertarungan kolosal antara para penguasa kejam berwajah budiman melawan banyak orang-orang kecil berwajah mengenaskan. Peristiwa apalagi yang lebih berarti dibanding pertarungan kolosal ini? Kalau kau melihat pertarungan kolosal ini di televisi sebagai film atau sinetron, maka kau akan melihat drama membingungkan. Kenapa membingungkan? Karena kau tidak tahu harus berpihak kepada siapa. Karena orang-orang yang berkuasa tidak berwajah seperti penjahat yang biasa kau lihat, sementara orang-orang yang ditindas tidak memiliki karakter memelas seperti yang kau pernah tonton di sinetron. Bayangkan, sepanjang hari di suatu negara manapun, sesungguhnya sedang terjadi peristiwa perebutan kekuasaan tersebut.

Peristiwa perebutan kekuasaan negara itu tidak melulu berupa konflik represif, tetapi lebih banyak bersifat konflik ideologis. Konflik ideologis tidak bisa didengar seperti letusan senjata atau meriam, tetapi ia bisa dibuktikan melalui intuisi hingga rasio. Perebutan kekuasaan itu tidak melulu seperti peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kontroversial itu. Ia juga tidak melulu seperti Peristiwa 10 nopember 1945 di Surabaya. Tidak juga melulu seperti bulan Mei 1998 di banyak kota di Indonesia itu. Pertarungan kekuasaan tersebut juga dapat berupa pertentangan kepentingan antara seorang atau semua buruh dengan majikannya yang hendak melakukan Penutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak. Dapat pula berupa pertentangan kepentingan antara seorang atau tukang becak dengan aparatus pemerintahan kota yang hendak menggusurnya. Anda semua dapat menambahkannya sesuka anda.

Begitulah, kawan-kawan pembaca. Jadi, kita sudah sepakat bahwa, pertama, negara adalah suatu peristiwa yang berrarti. Kedua, negara merupakan pertarungan antara kelas yang berkuasa dengan kelas yang tidak berkuasa. Dan pertarungan tersebut tidak melulu merupakan konflik represif, tetapi juga konflik ideologis. Huh, penjelasan yang melelahkan!

Negara dan Aparatus Negara Ideologis
Ok, kita sekarang sudah memasuki suatu pembahasan teoritis yang membosankan. Saya akan memperkenalkan kepada kalian: seorang filsuf Perancis yang tidak asing lagi di blantika alam pemikiran dangdut kita, Louis Althusser! Ya, ia adalah pemikir yang paling membosankan yang pernah saya baca tulisannya. Tulisannya yang paling membosankan berjudul ‘Negara dan Aparatus Negara Ideologis”. Sangkin membosankan, saya lupa tahun dan penerbitnya. Malah kemungkinan besar judul esei itupun salah saya kutip. Tapi begitulah, saya harus menggunakan kesabaran saya untuk menjelaskan negara dalam perspektif marxis-strukturalis itu.

Singkat saja, Louis Althusser mempercanggih distingsi antara kekuasaan negara (state power) dengan aparatus negara (state apparatus). Kekuasaan negara diartikan sebagai pertarungan antagonis antar kelas yang sudah saya jelaskan dengan penuh kemalasan diatas itu. Sedangkan aparatus negara diartikan sebagai seluruh alat kelas yang berkuasa untuk melanggengkan kekuasaannya melalui represi. Nah, menurut kawan kita Louis Althusser itu, aparatus negara bisa dibedakan lagi. Ada aparatus negara represif dan ada aparatus negara ideologis. Aparatus negara represif adalah seluruh alat dari kelas yang berkuasa untuk melakukan tindakan represi, contohnya: polisi, tentara, birokrasi, pengadilan, penjara, dan lain-lain. Aparatus negara ideologis adalah seluruh alat dari kelas yang berkuasa untuk melakukan penguasaan ideologi terhadap kelas yang berkuasa. Contoh aparatus negara ideologis adalah hukum, pendidikan, agama, budaya, dan lain-lain yang malas saya tuliskan disini.

Pendidikan Sebagai Aparatus Negara Ideologis Yang Paling Dominan
Menariknya, kawan-kawan pembaca, Louis Althusser menunjukkan kepada kita bahwa aparatus negara ideologis yang paling dominan adalah pendidikan. Di dalam tatanan sosial kapitalis masa kini, pendidikan adalah aparatus negara ideologi yang paling dominan. Dulu, lanjut pemikir Perancis sok bernostalgia itu, aparatus negara ideologis yang paling dominan ialah institusi agama, contohnya gereja di Eropa di masa tatanan sosial feodal. Sekarang, pendidikan merupakan aparatus negara ideologis yang paling dominan.

Tidak mengherankan, sebab sejak usia dini, anak-anak dididik untuk mempelajari “know-how” yang ujung-ujungnya akan mereka pergunakan untuk melanggengkan penindasan dalam bentuk sistem produksi dimanapun mereka berada. Anak-anak diajari menulis, membaca, dan berhitung untuk mengerti bahwa mereka melakukan itu semua demi masa depan yang bahagia dan cemerlang. Padahal ujung-ujungnya kalau tidak menjadi penindas ya menjadi orang tertindas. Huh, seperti drama yang tidak pernah berubah. Ketika lulus dari tahap pendidikan tinggi, mereka akan memilih masa depan mereka: menjadi agen ideologi, agen profesional, agen represi, atau agen koran (hehehe…bercanda yang terakhir ini, tapi ada benarnya juga khan!)

Nah, pendidikan tinggi sangat menentukan. Dan anda tahu dimana lokus dari pendidikan tinggi ini? Kampus! Kampus adalah lokus dari pertarungan ideologis tingkat tinggi. Negara mempertaruhkan kekuasaannya melalui pertarungan di dalam kampus. Dan selanjutnya, kawan-kawan pembaca, kita masuki tahapan pembahasan teori tahap kedua yang mengagumkan dari saya. Pembahasan teori tahap kedua ini merupakan pengembangan yang tidak bertanggungjawab dari saya sendiri. Simak baik-baik kekurangajaran berikut ini. Simak baik-baik. Sekali lagi saya ingatkan, simaklah baik-baik. Jangan palingkan mata anda. Simak baik-baik, Ok!?

Aparatus Kampus Ideologis dan Aparatus Kampus Represif
Apabila Louis Althusser menuliskan mengenai distingsi aparatus negara ideologis dan aparatus negara represif, maka saya berpendapat bahwa di dalam aparatus negara ideologis masih terdapat pembedaan lagi. Aparatus negara ideologis yang paling dominan ternyata juga paling kuat represinya. Memang, Louis Althusser sudah menunjukkan bahwa aparatus negara ideologis juga dapat berlaku represi dan demikian pula sebaliknya.

Saya ingin mengembangkan suatu pemikiran membosankan lagi untuk membedah struktur aparatus kampus. Aparatus kampus dapat dibedakan atas aparatus kampus ideologis dan aparatus kampus represif. Aparatus kampus ideologis adalah seluruh alat kekuasaan negara yang bekerja di dalam kampus melalui ideologi. Contohnya sistem kurikulum. Hal ini bisa dilihat di tahun 1978. ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk mengarahkan mahasiswa menjadi manusia penganalis (man of analysis). Manusia penganalisis adalah sama seperti yang ditakutkan oleh pemikir membosankan lainnya, Herbert Marcuse. Ia menyebutnya sebagai manusia satu dimensi. Dan untuk menjadi manusia satu dimensi, mahasiswa harus dijauhkan dari imajinasinya sendiri.

Selain aparatus kampus ideologis, ada juga aparatus kampus represif. Aparatus kampus represif adalah seluruh alat kekuasaan negara yang menjalankan represi di dalam kampus. Nah, di Indonesia, aparatus kampus represif ini dimapankan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef dengan memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) di tahun yang sama. NKK/BKK tidak ada lagi karena sudah dihapuskan sebagai konsekuensi ditumbangkannya diktator Soeharto oleh gerakan perlawanan mahasiswa ‘98. Namun, sisa-sisa aparatus negara Orde Baru masih ada di dalam kampus, yaitu, Pembantu Rektor III bdg. Kemahasiswaan dan struktur dibawahnya. Aparatus kampus represif dan aparatus kampus ideologis ini saling mendukung. Hal ini dapat dilihat dari adanya skorsing akademik terhadap aktivis-aktivis mahasiswa. Contoh paling menyedihkan bisa dilihat di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang belasan mahasiswanya baru dijatuhkan skorsing terkait keterlibatannya dalam kegiatan kemahasiswaan. Pola-pola aparatus kampus bekerja adalah seperti ini: sanksi akademik untuk kegiatan kemahasiswaan. Itu saja.

Aparatus kampus ditempatkan oleh kelas yang berkuasa untuk memastikan segalanya baik-baik-baik saja. Maksudnya, aparatus kampus memiliki fungsi stabilisator. Dan lawan dari stabilitator sudah jelas adalah dinamisator. Dan mahasiswa selalu mengambil peran sebagai dinamisator di dalam kampus, dan sering kali juga di luar kampusnya. Inilah yang menyebabkan antara mahasiswa dan aparatus kampus terdapat kemungkinan-kemungkinan revolusioner.

Posisi dan Fungsi Rok Mini Seorang Mahasiswi Di dalam Kampus
Kawan-kawan pembaca, yang patut dipertanyakan sejak awal ialah mengapa rok mini seorang mahasiswi di bawa-bawa dalam pembahasan serius ini? Sekali lagi saya tanyakan, siapa yang membawa-bawa urusan rok mini ini kedalam gejolak alam pemikiran teoritis dan filosofis dan visioner dan revolusioner saya? Huh, tidak ada yang mengaku. Tidak bertanggung jawab.

Baiklah, biar saya saja yang bertanggung jawab. Begini, kawan-kawan. Pernahkah anda melihat seorang mahasiswi mengenakan rok mini di dalam kampus? Dan lihat bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya. Kalau tidak ada reaksi, maka kelihatannya anda salah menilai kampus anda. Berarti anda sedang berada di mal, sehingga pemandangan seperti itu sudah biasa bagi kalian semua. Bila kalian berada di kampus, rok mini seorang mahasiswi adalah perlambang ketidakseimbangan sistem. Rok mini adalah perlambang ketidakseimbangan antara model kekuasaan tertutup dan model kekuasaan terbuka. Begini. Ketika seseorang melihat rok mini seorang mahasiswi, sesungguhnya ia sedang melihat bagian yang terbuka atau bagian yang tertutup? Saya perjelas pertannyaannya. Ketika seseorang melihat rok mini seorang mahasiswi, sesungguhnya ia sedang melihat bagian paha yang terbuka atau bagian rok mini yang tertutup? Saya akan jawab. Ia melihat bagian paha yang terbuka sembari berharap bagian bagian yang tertutup rok mini itu bisa dibuka. Itulah yang terjadi. Dan itulah sebabnya revolusi selalu gagal.

Revolusi akan gagal apabila semua orang mengharapkan bagian yang tertutup rok mini bisa terbuka sembari melihat bagian paha yang terbuka. Dan lebih konyol lagi, kampus juga merupakan lokus dari harapan tersebut. Gerakan mahasiswa 98 ternyata menghasilkan suatu kenyataan pahit di dalam kampus. Konsekuensi dari deregulasi dan liberalisasi politik, maka orang terlena ketika liberalisasi dan deregulasi ekonomi mulai diterapkan. Contoh liberalisasi ekonomi adalah privatisasi pendidikan tinggi.

Privatisasi pendidikan tinggi yang dimulai sejak tahun 1999 adalah akibat mahasiswa mengharapkan bagian yang ditutupi rok mini akan terbuka apabila bagian yang sudah terbuka semakin luas dan merata. Kampus adalah bagian yang ditutupi rok mini. Dan otonomi kampus, bagi banyak mahasiswa, adalah merupakan penelanjangan rok mini tadi. padahal tidak. Otonomi kampus adalah privatisasi kampus. Dan privatisasi kampus membutuhkan aparatus kampus yang kuat. Maka mulailah teror terhadap demokrasi kampus.

Kampus, karena sudah diserahkan untuk mengelola dananya sendiri, merasa kuat aparatus kampusnya. Maka kampus pun tidak segan-segan untuk melakukan tindakan represif. Contohnya yang terjadi pada mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta yang harus berhadapan dengan Satuan Keamanan Kampus (SKK) ketika melakuakn aksi demonstrasi massa beberapa waktu lalu. Hal ini merupakan manifestasi kekuasaan represif di dalam kampus. Represi tidak terelakkan apabila suatu ideologi sudah melekat pada pendidikan. Represi berfungsi untuk memastikan segala sesuatunya berada di dalam tatanan nilai ideologi tersebut. Di dalam kampus, represi tersebut terjadi dalam rangka mendudung suatu tatanan sosial kapitalis. Kampus merupakan lokus dari reproduksi kekuatan produktif. Untuk menjamin keberlangsungan reproduksi kekuatan produktif terebut, aparatus kampus harus menjalankan suatu sistem pencetakan agen-agen profesional untuk dimasukkan ke dalam bagian industri. Itulah yang menyebabkan mengapa mahasiswa didorong untuk secepatnya lulus dari kampusnya.

Kelihatannya sudah semakin jelas, revolusi pendidikan semakin kabur kalau mahasiswa hanya bergerak di luar kampus semata. Sebab, kontuinitas gerakan mahasiswa dipengaruhi juga oleh struktur aparatus kampus. Mengapa tidak dicoba untuk merombak negara dari dalam kampus secara serentak dan terorganisir. Siapa tahu justru dari dalam kampuslah demokrasi dapat ditegakkan dan menjalar ke seluruh lapisan masyarakat. Mahasiswa sudah berulang kali menggerakkan dirinya untuk mengubah struktur kekuasan, tapi berulang kali pula mendapati bahwa penguasa tidak pernah berubah. Tentu saja tidak akan pernah berubah, sebab kelas penguasa hanya berganti rupa tetapi jiwanya sama: penindas. Dan untuk mengubah seluruh struktur kekuasaan, kita harus mendobrak aparatus negara yang paling kuat. Bukankah aparatus negara yang paling dominan berada di pendidikan? Masa’ mahasiswa menyuruh anak-anak SD atau SMA yang memulai pendobrakan aparatus pendidikan tersebut. Mahasiswanya kemana kalau tidak di depan. Sebagai lelucon, tulisan ini tidak terlalu membosankan, bukan?

Tomy DG

  1. kampus, terminologi asal-asalan saja : camp dan us, mengingatkan saya pada judul sebuah buku berbahasa jerman Mein Keimpf. Tempat para korban menikmati ajalnya, dan sepertinya tak berbeda dengan kampus pada zaman ini, tempat penyaliban intelektual,hehehe…

  2. kondisi obyektif mahasiswa yang terprimordialkan (keberhasilan budaya budaya baru yang diterapkan oleh neo_kolonialisme)melekat dalam setiap sel-sel otak mahasiswa, untuk terus bodoh, membudak dan bertindak seperti halnya binatang (kawin_sebuah prioritas).
    orientasi subyektif mahasiswa adalah sumber masalahnya, kerja (membudak) dapet uang, terus punya istri yang cantik dan penyayang.
    Solusi: wacana bukan basis material yang harus ditawarkan, tetapi langkah-langakh konkrit untuk mengorganisasikan masa, bergerak bersama atas satu orientasi yang produktif, untuk masa rakyat tercinta.

  3. adakah yang lebih membosankan dari tulisan ini?

  4. Ada: semua tulisanmu.

  5. ssssssssssssssstttttttttttttttttttttttttttttttttt
    adakah satu sel otak anda (kawan strezz) yang mencoba berpikir secara obyektif, untuk menilik lini kehidupan sosial rakyat??????????????????????
    faham_vacum, adalah pecundang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. Tulisan yang bagus. Sayangnya ada bagian yang mengganggu karena melecehkan perempuan:

    “Ketika seseorang melihat rok mini seorang mahasiswi, sesungguhnya ia sedang melihat bagian paha yang terbuka atau bagian rok mini yang tertutup? Saya akan jawab. Ia melihat bagian paha yang terbuka sembari berharap bagian bagian yang tertutup rok mini itu bisa dibuka. Itulah yang terjadi. Dan itulah sebabnya revolusi selalu gagal.”

    Kenapa ’seseorang’ di kalimat itu harus berarti laki-laki yang memiliki libido tinggi?

    Kalau saya sih mikirnya, alasan revolusi gagal adalah karena kecenderungan kebanyakan pelakunya untuk melakukan generalisasi secara berlebihan. Contohnya dapat terlihat di bagian tersebut.

    Itu hanya kritik kecil. Terserah mau diterima atau tidak. Pada intinya saya setuju dengan tulisan santai bin serius ini. Mahasiswa memang harus berani melakukan perlawanan mulai dari dalam kampus sendiri. Tanpa itu, semua yang dia lakukan di luar akan jadi sia-sia.

  7. huehehe
    itu cuma sindiran.
    pandangan pertentangan kelas a la marx kan dianggap usang sama pandangan pertentangan antara laki-laki dan perempuan.
    sebab, konon, sejarah selalu merupakan penguasaan laki-laki atas perempuan.

  8. kekuasaan akan cepat hangus tanpa hadirnya seorang wanita.sejarah telah membuktikan kekuasaan dan kejayaan seorang raja akan luluh lantak oleh ganasnya wanita mulai dari zaman romawi hingga masa kholifah-kholifah.sebagai mana sabda nabi : “suatu bangsa atau negara (kerajaan) akan menjadi (jaya) jika wanita-wanita di negara tersebut baik maupun sebaliknya.

  9. Amin.

  10. Suatu negara jadi jaya bila perempuannya baik dan hancur bila sebaliknya?

    Jadi, para perempuan, kalian ‘baik-baiklah’ supaya tidak menghancurkan negara. Kalian tidak perlu menjadi pemimpin atau apa pun, cukup bersikap ‘baik’ ajalah. Kalau kalian melenceng dari sikap ‘baik’ itu, negara dipastikan akan hancur.

  11. Yaa….!!!kalo maunya ngumbar kecantikan kenapa ngak pake Mini jeans ampe keliatan batang Paha n Pake Baju yg cuma Nutupin dada..biar sekalian Keliatan Puser n Jadi sasaran Kejahatan truz..masuk neraka deh..hehe emank dunia udah jadi aneh…

  12. loe mo nulis apaan sih…pake rok mini segala. sensasi doang. analogi salah kaprah.

  13. se IDE BGT!!!!
    bagi yang merasa itu berarti orang cerdas.
    bagi yang tau tapi punya ribuan dalih berarti orang goblok.
    bagi yang tidak tau sama sekali berarti punya nurani yang mati.

  14. tom kenapa sih ditulisan ini kamu bilang bosen melulu?apa kamu sudah sering membahasnya atau teori-teori itu memang membosankan?kalo membosankan berartikan memang ndak menarik atau njelehi ya kan?bosan itu sebenarnya ungkapan tidak setuju atau terpaksa setuju sih?waktu pertama baca judulnya, dalam pikiranku nanti ada hubungannya secara langsung dan konkret antara rok mini dengan yang seterusnya itu. tapi ternyata itu hanyalah perumpamaan atau analogi kamu bahwa kampus yang sudah terprivatisasi adalah suatu bagian yang sebenarnya ndak boleh dilihat/ada tapi ingin diadakan/dilihat oleh banyak mahasiswa, dan buat tomi tidak?lalu apakah otonomi lantas bisa menjadikan adanya privatisasi?menurutmu kenapa mahasiswa seringkali gagal melakukan perubahan atas struktur kekuasaan?dan kenapa penguasa yang suka berganti rupa tapi jiwanya masih sama:penindas itu muncul terus? bukankah mereka itu dulu juga kebanyakan adalah mahasiswa?apakah benar anggapan masyarakat yang mengatakan bahwa mahasiswa itu ketika menjadi mahasiswa memang idealis banget tapi coba nanti kalau sudah terjun didunia kerja banyak yang akhirnya bubar idealismenya. kayak pejabat-pejabat di DPR itu to?semoga sih buat tomi dkk ndak begitu walaupun mungkin sekarang kamu lebih bisa diajak kompromi misalnya.iya kan?kompromi boleh tapi idealismenya tetep dong.

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.