stopgoblog

PRINSIP PASANGAN MUDA-MUDI SEBAGAI ANALOGI PRINSIP KENEGARAAN (SEBUAH ANALISIS KRITIS)

In Esei on Desember 5, 2006 at 1:30 pm

Aku adalah orang yang percaya bila tatanan jaringan dalam lingkup kecil terkadang merupakan sebuah miniatur dari tatanan jaringan dalam bentuk yang lebih besar. Begitupun juga dengan pola hubungan antar pasangan kadang ada prinsip-prinsipnya, walaupun itu terlihat terlampau sangat sederhana namun tetap itu merupakan sebuah miniatur kecil dari prinsip ke-Negaraan. Aku mau mencoba untuk mengajak pembaca untuk mengalihkan perhatiannya terlebih dahulu ke permasalahan dan prinsip-prinsip hubungan antar Pasangan lalu setelah hal itu sudah terlaksana aku akan menjabarkan hubungan antar pasangan itu sebagai analogi untuk menjelaskan prinsip kenegaraan (walaupun kedengaran banyol dan lucu, tapi kenapa tidak kita coba saja?)

Kalau kalian bilang, khususnya yang anak muda seperti aku ini, yang mendasari hubungan antar pasangan lawan jenis hanyalah kasih sayang. Itu adalah kesalahan, karena dalam dinamika perjalanan hubungan yang mulus kasih sayang hanyalah satu hal yang relatif bagi kelanggengan hubungan, karena apa? Kasih sayang saja ternyata tidak cukup, sebesar apapun kasih sayang itu. Kalau kata kawanku (kebetulan, kita kemarin sedang membicarakan hal ini, karena persoalan pasangan memasangan ini juga masuk kedalam bahasan diskursus Psikologi) yang mendasari kelanggengan dan kesuksesan suatu hubungan adalah Komitmen dan Komunikasi. Lalu dia memberikan penjabaran yang aku kira cukup memberi wawasan dan pengertian baru untuk pandangan hubungan antar pasangan lawan jenis. Setelah dia selesai menjabarkannya, aku bertanya ke-dia,
“kalau hanya dua itu saja, dimana letak kasih sayang? Bukannya dia yang mendasari hubungan antar pasangan?”
kawanku itu menjawab “kasih sayang itu hanya background dan pemanis saja, dari komitment dan komunikasi, ibaratnya (sebelumnya aku beritahu, kawanku ini orang Palembang) kalau kita memakan Empe-empe, inti dari semuanya adalah empe-empe, namun perekat dan pemanis yang membuat empe-empe itu semakin berarti dan memiliki rasa adalah cukanya, nah kasih sayang itu adalah cukanya. Pemanis dan Background dari konsep utama dari hubungan antar pasangan”

Terus terang, kalau aku bandingkan dengan pengalamanku berhubungan dengan perempuan aku kurang setuju dengan hal ini. Karena aku berpandangan bahwa kasih sayanglah merupakan pondasi utama dalam terbangunnya hubungan antar pasangan, yang dari-sana komunikasi dan komitmen setelahnya dapat diberlakukan. Namun tetap, pada saat itu, aku tidak begitu memberi perhatian lebih tentang komunikasi dan komitmen, karena aku memandang komunikasi nanti bisa diselaraskan kalau saja kasih sayang itu sudah dibangun sehingga kedua aspek tersebut bisa diselaraskan. Namun pada akhir dari perbincangan dan kontemplasi yang aku lakukan akhirnya aku mengambil kesimpulan. Yang mendasari kelanggengan hubungan antar pasangan adalah, Kasih sayang, Komunikasi, Komitment dan Keterikatan (kalau orang departemen sosial mau mensosialkan hal ini ke-masyarakat, bisa disingkat dengan 4K)

Jika kasih sayang telah dibangun namun dalam mengkomunikasikan kasih sayang antar pasangan satu dengan yang lain sama sekali tidak dimengerti oleh masing-masing pasangan, tentu akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Contoh saja, kalau aku pacaran dengan Luna Maya, Aku kangen dengan si Luna, dan si Luna juga kangen berat juga sama aku, namun dalam mengkomunikasikan kangennya denganku si Luna bersikap kaku dan nervous karena salting dan bingung memposisikan diri ketika berada didekatku. Sedangkan aku mengkomunikasikan kangennya aku ke dia dengan cara membicarakan keseharianku dan kegiatan yang telah aku lakukan selama dia tidak ada, karena aku merasa takut dan malu untuk mulai membicarakan perasaanku dan betapa kangennya aku ke dia. Jika yang terjadi seperti ini, dengan kata lain keduanya mengkomunikasikan dengan cara yang tidak dimengerti satu sama lain, walaupun kangen itu betul ada dan terjadi diantara keduanya namun satu sama lain tidak merasakan dan tidak menikmati pelepasan kangen yang seharusnya menjadi inti dari pertemuan mereka. Karena cara mengkomunikasikan kangen dari masing-masing pasangan tidak dimengerti oleh masing-masing pasangan, mereka akan melihat tidak ada kerinduan pada pasangan mereka masing-masing (walaupun itu sebetulnya ada) dikarenakan salah persepsi dalam menanggapi komunikasi, maka hal ini akan menimbulkan konflik. Luna akan marah kepadaku, karena sewaktu bertemu dia, aku hanya bercerita tentang keseharianku dan menyia-nyiakan dia yang ada didepan mataku ketika itu, akupun marah dengan Luna karena sewaktu bertemu dia, ekspresinya hanya dingin seakan tidak tergerak sama sekali dengan kehadiranku didepan dia. Dari sana pertengkaran mulai terjadi, karena satu sama lain saling tidak mengerti dimensi perasaan yang terjadi diantara mereka berdua. Walaupun seharusnya bila mereka tau bagaimana sebetulnya perasaan mereka berdua di-kala itu, seharusnya mereka berdua sedang bermesra-mesraan bukan sedang bertengkar.

Begitupun juga dengan Komitmen, walaupun kasih sayang sudah terbangun sebesar gajah bengkak sekalipun, namun jika tidak ada komitmen yang jelas tentang apa yang diharapkan oleh masing-masing pasangan, maka hal ini juga tetap akan menimbulkan konflik. Misal saja, Luna hobi sekali bercerita tentang mantan-mantannya yang hebat-hebat untuk dijadikan contoh bagaimana harusnya aku bersikap ke-dia, namun setiap kali dia menceritakan mantannya aku menjadi cemburu setengah mati dan hal ini membawa suatu kecurigaan tersendiri untukku “jangan-jangan dia masih kebayang-bayang lagi sama mantannya yang dulu?” sedangkan maksud dia adalah “aku mau dia termotivasi untuk menjadi lebih baik dari mantanku”, namun setelah aku katakan “jangan berbicara soal mantan” dia masih saja berbicara soal itu dan melanggar komitmen yang sudah disepakatin. Hal ini akan menjadikan aku merasa dia tidak memperdulikan dan menganggap remeh perasaanku serta tidak memandangku dengan serius, dan cemburu hadir sebagai “bonus” bahkan “mega-bonus” dari pelanggaran komitmen yang telah dia buat, dan penyebab dari ini semua adalah ke-tidak-percayaan dan ke-apatisan dalam memandang hubungan itu sendiri.

Keterikatan adalah, adanya fenomena memberi dan menerima yang saling membutuhkan dan saling mengikat diantara kedua pasangan. Contohnya : Misal Luna Maya membutuhkan aku untuk menjadi pendengar yang baik untuk seluruh keluh kesah dan cerita-cerita kesehariannya karena dia menyukai respon, feedback serta jalan keluar yang aku berikan untuk seluruh permasalahannya. Sedangkan aku membutuhkan Luna Maya untuk memotivasi aku untuk terus berproduktifitas dan menjalani apa yang telah aku cita-citakan, dan ketika aku memiliki keraguan terhadap potensi dan kemampuan diriku, dan seluruh orang bahkan seluruh dunia juga ragu akan kemampuanku, Luna Maya tetap percaya padaku dan memberikan dorongan agar aku terus membuktikan kemampuanku, dan Luna Maya akan dengan canggihnya berhasil memotivasiku dengan caranya yang unik yang dapat dengan mudah menaikkan adrenalin. Namun ketika yang terjadi sebaliknya, pasangan yang satu memberikan apa yang tidak diharapkan bahkan mengganggu pasangan satunya dan begitu juga sebaliknya maka yang tejadi adalah keretakan. Misal saja, walaupun aku sayang sama Luna Maya, sayang sekali, sebesar 10 gajah bengkak dijadikan satu, dan dalamnya sedalam kedalam laut Abysal yang dihuni oleh ikan-ikan tuna-netra tapi aku muak ketika Luna Maya membicarakan perihal dunia kerjanya yang menurutku sangat tidak penting dan membosankan. Begitupun juga sebaliknya, Luna Maya juga sayang banget samaku, dan dia tidak pernah mengalami rasa sayang yang sebegitu besar sebelumnya sangking sayangnya dia sampai suka lompat-lompat sendiri dikamarnya, tapi dia merasa yang aku cita-citakan itu muluk-muluk dan tidak masuk akal dia lebih menginginkan kalau aku menjadi kontraktor atau karyawan Swasta tingkat upper-manager yang lebih masuk akal dibandingkan menjadi sesuatu yang menurut dia, sejuta banding satu. Hal ini akan menimbulkan retaknya hubungan saling membutuhkan, Luna Maya akan mencari pemenuhan kebutuhannya ke orang lain, dan akupun juga, dan hal ini akan menjadi rawan konflik sekaligus merapuhkan ikatan hubungan karena ketika kita berada dekat pasangan kita, kita tidak merasa termotivasi.
Walaupun seluruh hal ini sudah aku jabarkan, namun aku tetap menaruh Kasih Sayang sebagai pondasi utama. Karena realibilitas dari komitmen akan menjadi konkrit bila komitmen itu dibangun didasarkan saling men-sayangi dan mencintai satu sama lain, darisana akan ada suatu totalitas dan keberanian untuk mengorbankan diri demi sesuatu yang betul-betul kita sayangi, dan pengorbanan ini tentu bukan sepihak namun kedua belah pihak. Dan komunikasi perasaan cinta dan terikat tanpa didasari oleh kasih sayang kita bisa menamakannya sebagai gombal, dan komunikasi kebutuhan dan kepentingan tanpa kasih sayang kita bisa menamakannya sebagai komunikasi antar rekan bisnis bukan komunikasi antar pasangan. Dan bila ini tejadi maka hal yang paling mewarnai dari komunikasi pasangan bukannya saling pengertian dan saling mendalami kebutuhan dan perasaan masing-masing, namun warnanya lebih seperti transaksi jual beli di wall-street atau argumentasi hangat antar dua pengusaha atau dua kader organisasi tertentu yang saling mengerti duduk letak permintaan dan argumentnya masing-masing. Tentu bukan hal ini yang akan menjadikan hubungan tersebut harmonis bukan?. Dan keterikatan tanpa kasih sayang, ini sama halnya dengan keterikatan kebo dengan burung pemakan kutu, bukan keterikatan antar pasangan.

Dan seluruh komunikasi yang hancur lebur, komitmen yang berantakan serta keterikatan yang renggang dapat dengan mudah diperbaiki bila kasih sayang masih terjadi antar pasangan, khususnya bila kasih sayang itu besarnya sebesar Kudanil dan Gajah Bengkak dikali seratus (aku merasakan hal ini). Dan ingat, komitmen ini juga masuk kepada ranah Loyalitas serta kesepahaman konsep berpasangan dalam lingkup awal dan berumah tangga dalam lingkup finalnya, bila pelaksanaan komitmennya ini setengah-setengah maka hubungan yang terjadi juga akan sama setengah-setengahnya, kekecewaan dan konflik akan menjadi latar belakang hubungan tersebut dan kehancuran menjadi bentuk utamanya.

Nah letak analogi hal tersebut dalam hubungan kenegaraan bila saja kita melihat Negara adalah sebuah peleburan dari konsep sepasang kekasih yaitu Rakyat dan Pejabat Negaranya. Kasih sayang yang terjalin antara rakyat dan Aparaturnya yang pertama adalah rasa nasionalis dan kebanggaannya terhadap Negara yang sedang mereka bangun bersama yang sekarang makin di-eksploitasi dan tergusur dengan kejam oleh kepentingan-kepentingan lain diluar lingkup regional kenegaraannya. Yang kedua adalah, rasa simpati dan kesedihan yang mendalam karena rakyat, dengan kata lain pen-konkritan symbol Negara itu sendiri sedang mengalami kemiskinan multi-dimensional, dari mulai dimensi moneter, kualitas kerja, moral hingga nilai kemandirian yang tidak dapat bertahan tanpa supply kebutuhan dan pembangunan infrastruktur dari pihak lain untuk sekedar dapat memenuhi kebutuhan dasar dan pengisian lapangan kerjanya.
Nah Pejabat Negara sebelum naik menjadi Pejabat akan menembak sang kekasih yaitu rakyat dengan cara mengkomunikasikan kasih sayang, simpati dan empatinya kepada rakyat ketika kampanye “rakyatku sayang, aku mengerti kalian miskin, tapi rakyatku, kamu harus tau, kalau Bapak sangat mencintai kamu. Bapak dan temen-temen Bapak tidak akan mengecewakanmu dalam jangka waktu 5 taun Bapak akan memperbaiki nasib burukmu.” Nah, kebanyakan rakyat akan bersikap mirip seperti perempuan-perempuan yang sudah muak di-rayu oleh laki-laki mereka akan merespon dengan “Gombal! Janji palsu! Speak! Lintah Darat (kalau dalam dimensi berpasangan biasa kita kenal dengan Buaya Darat)!, dan yang lain, dan juga yang sebagainya.” Tapi karena terkadang rakyat ini memang tidak banyak pilihan, dengan kata lain harus cepat-cepat memilih pasangan daripada nganggur sama sekali, maka mereka harus cepat-cepat menentukan pilihan yang terkadang mereka rasakan sebagai “yang buruk diantara yang terburuk” ataupun sebagian lain tidak memilih sama sekali.

Nah setelah hal itu mereka lakukan, mereka akan melihat masa-depan yang dijanjikan dari para peminang mereka dari “Komitmen” yang diberikan oleh si Peminang, mereka dijanjikan dalam waktu sekian taun akan begini, lalu begitu, lalu begini lagi, dari-sana rakyat akan menguji kebenaran kata-kata dari relevansi komitmen yang diajukan oleh para Pelamar tersebut.

Setelah ada keputusan dengan kata lain, aparatur telah diterima untuk melamar rakyat, dan menjadi sepasang kekasih yang dapat saling mendukung dan membangun Negara bersama-sama (analogi dari rumah tangga). “aku membutuhkan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia untuk membangun negeri ini menjadi Makmur” ini adalah salah satu dari contoh kecil yang melambangkan “keterikatan”, dengan kata lain, para aparatur itu merasa membutuhkan rakyatnya untuk bersama-sama membangun Negara Indonesia tanpa tangan rakyat maka perekonomian dan nasib berbagai dimensi yang ingin disejahteraan tidak akan bisa terwujud. Hal ini dikomunikasikan oleh Negara dengan contoh “kami akan menguatkan UKM-UKM yang ada ditanah air, dengan menyediakan pinjaman lunak khusus UKM lewat korporasi-korporasi pembina yang telah mapan dan mempermudah jalur akomodasi pelaksanaan kegiatannya”.

Namun ketika pelaksanaan masih saja ada yang tidak sinkron, contoh saja Negara mengkomunikasikan perduli terhadap kesejahteraan UKM dengan menggusur tempat kerja mereka dan memberlakukan batasan Jam kerja malam, dimana diatas jam 9 malam mereka tidak boleh bekerja (kebijakan Otonomi di Wilayah Sulawesi), sebaliknya malah mereka mendukung pembangunan Mall dan supermarket secara besar-besaran untuk menyerap habis pasar UKM dimana dari sanalah sumber pendapat UKM.

Kalau sudah begini rakyat terkadang akan bingung, atau si kekasih jadi bertanya “katanya abang sayang?”. Dimana letak itikad Negara untuk menguatkan kesejahteraan UKM? Apa itu salah satu gombalan saja? Tapi ada sebagian rakyat yang masih bingung lalu berkata “Aparatur begitu karena Aparatur sayang sama kita” tapi terkadang mereka yang seperti ini mirip seperti perempuan lugu yang berhasil digombalin buaya darat, apa bedanya dengan petani lugu yang di-iming-iming lintah darat? Atau rakyat lugu yang termakan gombal apologi ketidak-becusan dalam realisasi visi-misi awal peng-aparaturan yang tak kunjung menyampai ujung? ini bukan soal sayang-sayangan, tapi ini soal kemendua-an.

Aku beritahu pada kalian, Pejabat kita yang katanya setia kepada rakyat bisa jadi telah pindah kelain hati ketika mereka naik kekursi pemerintahan, cintanya telah pindah ke seorang Gadis yang lebih cantik dan semok daripada UKM, nama gadis itu “korporasi skala besar dan usaha para Konglomerasi”. Namun sebagian rakyat yang lugu dan berkeyakinan penuh terhadap pemimpinnya tidak percaya kalau Pemimpinnya ini sedang mengadakan selingkuh “aku tidak percaya, pasti ini terpaksa. Semuanya seperti mimpi, ahhhh tidakkkk” memang kawan betul sekali bila ada yang bilang cinta itu buta…

Nah setelah itu perkara keterikatan, yaitu pemerintah membutuhkan rakyat, dan rakyatpun butuh pemerintah. Kalau memang betul, pemerintah membutuhkan rakyat dalam membangun negeri ini mengapa tugas-tugas pembangunan selalu dilewatkan dari tangan rakyat dan dihibahkan ke kekuatan lain diluar rakyat? Kalau memang rakyat diperlukan persiapan terlebih dahulu untuk dapat membangun Negara ini dan menjadi tuan dalam menentukan dan mengendalikan nasib nasionnya sendiri, mengapa subsidi pendidikan yang harusnya menjadi ajang persiapan bagi kualitas kerja rakyat justru ditarik? Dan kampus-kampus negeri sekarang ini menampung Mahasiswa dengan harga yang sama saja mahalnya dengan kampus swasta? Bahkan beberapa jalur yang mereka sediakan ada yang lebih mahal dan lebih tak wajar dari itu. Apa betul Negara membutuhkan Rakyat? Selama ini, kapan Negara merangkul rakyat untuk membangun aspek-aspek penting yang menentukan keberlangsungan negeri ini selain ketika Pemilu? Mesin demokrasi hanya berjalan ketika pemilihan suara dilangsungkan itupun kadang-kadang berjalan dengan setengah-setengah, setelah itu mesin demokrasi kembali dimatikan, yang terjadi setelah itu? Perebutan bargaining antar kelompok kepentingan-kepentingan.
Kalau benar Negara membutuhkan rakyat kebanyakan agar membangun krisis Agraria yang berlangsung sekarang ini, dimana 70 persen petani yang ada tidak dapat menjual produksinya melainkan hanya memakainya untuk konsumsi sendiri, mengapa jalan keluarnya malah di-berikan ke pihak lain yaitu para peng-import, mengapa tidak melibatkan dalam peng-efisienan kerja Tani agar Negara dan Rakyat dapat saling meng-akomodasi tercapainya kemakmuran yang didapat dari hasil Kemandirian berdirinya suatu Negara? Mengapa kita harus memberangkatkan DPR untuk studi banding ke Mesir dan entah kemana lagi yang tidak membawa perubahan apapun, mengapa tidak memberangkatkan sarjana dan tim-tim ahli untuk berangkat ke Taiwan dan mengembangkan Tissue Culture untuk pengembangan repitasi produktifitas Tani dalam negeri? Mungkin karena kekasih hatinya dan cintanya tidak mengarah kerakyat kebanyakan, tapi cinta sucinya mengarah kepada para korporasi besar, konglomerasi. Dan hukum untung rugi dalam bisnis skala besar selalu berlawanan dengan hukum kemakmuran bersama, itulah sebabnya garapan tersebut tidak pernah dilirik.
Nah untuk itu, agar pasangan antara pemerintahan dan rakyat dapat berjalan mulus, dengan kata lain rakyat cinta mati dengan pemerintah dan pemerintah juga cinta mati dengan rakyat dan mereka bisa awet berhubungan dalam waktu lama, perlu adanya pensinkronan dalam 4k tersebut. Dalam Komunikasi, pemerintah haruslah nyambung, kalau dia bilang “kami menyuarakan kepentingan orang banyak” dalam cara bahasa aplikasinya pun harus sejalan, dengan kata lain program-program dan fokus pengembangan yang ada haruslah terkonsentrasi kepada kepentingan strata masyarakat kebanyakan yaitu apa? Petani dan Buruh. Jika pemerintah berkomitmen untuk mengadakan program-program yang dapat menguatkan sektor UKM, komitmen itu harus diselaraskan dengan niat yang benar, komunikasi yang nyambung (jangan bilang “aku menguatkan kamu nak” sementara dalam prakteknya malah ditindas.) dan janji serta komitmen tersebutpun harus ditepati dan tidak dilanggar. Yang terakhir, keterikatan, dimana rakyat mempercayai dan merasa membutuhkan keterlibatan pemerintah dalam peningkatan kesejahteraannya dan pemerintah membutuhkan serta meng-akomodasi rakyat sepenuhnya dalam kerja pembangunan harus segera direalisasikan. Bila tidak ada keterikatan simpul pengikat yang menentukan keberlangsungan suatu Negara secara sehat dan efisien akan semakin merenggang, dan ketika terdapat jurang pemisah antara pemerintah dan rakyat yang semakin membesar maka dapat dikatakan bila Negara telah terbelah dan rapuh secara tidak langsung. Mudah sekali untuk disusupi dan digunakan oleh pihak-pihak luar yang berkepentingan untuk memecah belah Negara. Karena itu kalau ingin mesra dengan rakyat, maka pemerintah harus terlebih dahulu mengerti rakyat, karena rakyat ingin dimengerti.

Dion Priatma 

  1. Hahahaha, gak usah nyindirrrr.. Kalo kangen bilang ajaa.. Gak usah blagu2!! Hehehehe..

  2. hehehe, iya iya kangen.

  3. ya ileh… iseng terus lw, udah diusulkan belum ke Joni?

  4. Baca dulu sampai habis Zu, baru habis itu liat sisi keseriusan dari tulisan ini. Cuma tulisan ini dibawakan dengan cara yang santai saja tapi tidak melepaskan keseriusan dan visi pewacanaan awalnya.

    Soal Penerbitan karya itu, nanti aja di-Hp ya?

  5. Ass…wr…wb.pengen nanggapi yang diatas neh. hehehe………….boleh ya…………..Move.
    Gw sepakat dengan apa yang diexplore diatas, dan wajar saja ketika itu bisa menjadi hegemoni Fundamental secara objektif, bukan subjektif !!! jelas itu berkaitan dengan ideologi yang anda maksudkan di atas, tapi apakah ini ideologi yang anda banggakan lalu dimana letak eksistensi anda sebagai manusia yang memanusiakan manusia, banyak masalah yang diexplore diatas, kalau kamu dengan kenarsisan dan ideologi yang kamu katakan dan kamu angkat dari sisi manusiawinya kapan kamu bisa bergandeng tangan dengan semua element kaum muda-mudi bangsa ini untuk melakukan perubahan secara reel bukan hanya sibuk mengurusi wacana yang diangkat dari satu sisi saja. ingat mahasiswa adalah agent of change bukan agent berpangku tangan, agent duduk diam, agent berkhayal, agent berdiskusi kusir, atau agent masturbasi. Maaf kalau ini terlalu lancang, tapi ini hanya sebagai suatu bentuk respect ku padamu, dan sebagai suatu bentuk militansi konkrit sebagai mahasiswa dan warga negara yang baik. Coba saat ini anda terlibat intens di organisasi atau komunitas yang menuju kearah wacana yang anda explore, pasti telah banyak perubahan yang anda hasilkan dengan materi dan strategi yang anda miliki. jangan coba melakukan perubahan sendiri, ingat sifat heroik bisa menghancurkan dedikasi dan mampu membunuh karakter anda sebagai mahasiswa. organisasi mengikat kita secara ideologi dan azas organisasi bukan secara penghambaan terhadap organisasi. tapi kalau tulisan ini anda maksud kan hanya sebagai media agitasi massa aku sangat kagum, anda orang yang cerdas.
    ini hanya sekedar masukan dan komentar yang saya harap perlu dipertimbangakan
    salut buat kawan dion aku Respect 4you.salam buat maz Tommy.
    makasih dan salam kenal buat teman2 yang aktif dalam Blog ini.
    lain kali kita diskusi lagi ya…hehehehe.hei…indonesiaku tanah subur rakyat ngangur.

  6. Walaikumsallam Bung Rizky.

    Senang sekali melihat kamu disini, jadi baca koment saya sampai habis ya…

    Tulisan ini (kalau anda sudah membacanya) menjelaskan tentang bagaimana harusnya rakyat itu dipandang sebagai wujud real dari Negara, dengan kata lain Rakyat adalah Negara, Negara adalah Rakyat. Target untuk para Pejabat serta Aparatur-aparaturnya adalah untuk bisa mensejahterakan dan meng-akomodasi kepentingan mereka secara massif, dengan kata lain mereka harus sesuai dengan janji awalnya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia secara mayoritas (Petani, Nelayan, Buruh). Bukan segelintir, bukan segolongan (Korporasi besar). Karena seluruh uang dan kas rakyat diberikan kepada para pejabat itu dengan harapan mereka becus untuk mengurusinya, mampu menepati janjinya, tapi yang saya katakan diatas adalah mereka tidak becus dan mereka tidak mampu.

    Kalau Kawan Rizky baca juga, tulisan ini mengkritik tentang bagaimana korporasi-korporasi besar yang justru selama ini men-tidak-manusiakan manusia Indonesia dengan menutup seluruh mata pencaharian yang menjadi sumber kehidupan mereka dengan menguasai jaringan sektor distribusi dan produksi dari hulu ke hilir, dan ditulisan ini keberpihakan pemerintah yang katanya “berpihak” kepada UKM kembali dipertanyakan (dengan analogi sebagai kekasih yang mendua), berpihak kepada UKM kok tapi uangnya dikasih ke Para Konglomerat? dengan mengangkat para konglomerat itu sebagai pengasuh (Rizky sudah baca bagian itu?). Nah kalau sudah baca komentar saya sampai disini, tolong dibaca terus sampai habis dan dimengerti betul-betul, kalau ada yang tidak ngerti bilang jangan langsung di klaim kawan Rizky.

    Jadi, aku perlu belajar banyak dari kawan Rizky dari sisi mana dari tulisan aku ini yang “kurang memanusiakan manusia”. Kalau tidak salah itu kata-katanya Multatuli bukan? Orang yang tidak memanusiakan manusia dalam segi pewacanaan itu adalah sebuah wacana yang melegalisir atau mendorong tindakan-tindakan yang tidak memanusiakan-manusia, contoh saja wacana-wacana pro globalisasi dan pro AFTA, NAFTA. Atau pewacanaan yang melupakan faktor kebocoran distribusi pangan sebagai akibat dari meningkatnya harga pangan (karena jalur harga sekarang ini banyak dipotong oleh tengkulak) dan menyarankan import sebagai solusi satu2nya (bukan pembenahan sitem dengan campur tangan pemerintah dalam membersihkan para tengkulak, dan mengangkat distributor yang dapat dikontrol langsung aktifitas distribusi secara tranparatif, untuk apa fungsi BULOG selama ini?).

    Nah kenapa Multatuli bisa berbicara dengan kata-katanya yang terkenal itu (yang menjadi prinsip hidupnya Pram) “Memanusiakan manusia?” karena pewacanaan yang ada pada zaman itu membela dan menguatkan perbudakan yang dilakukan pemerintahan Hindia Belanda terhadap Indonesia. Nah sebetulnya kata-kata Bung Rizky itu harus dipertanggung jawabkan betul-betul, karena ini penting, karena saya ingin tau dari segi mana wacana ini bisa dikategorikan sebagai wacana perbudakan yang tidak memanusiakan manusia? atau jangan-jangan Bung Rizky tidak tau betul arti memanusiakan manusia? artinya ini, membinatangkan manusi atau membendakan manusia, dengan kata lain tidak menempatkan manusia ditempat manusia itu sepantasnya. nanti jangan2 dibilang aku ini eksplationg der long par long pula lagi nanti. Walah memang, interprestasi terhadap Quote itu sudah jadi Fashion belaka, dan ini gejala kawan, anda harus hati2. Aku serius, Waspadalah.

    Kalau tidak salah, Kawan Rizky ini pengurus LMND bagian Pewacanaan ya? Kalau mau nge-rekurt aku ikut aktif dalam perjuangan kepahlawanan teman-teman organisasi (organisasi manapun dan apapun) silahkan rekrut saya diluar ruang pewacanaan. Lagipula kawan, kalau dibilang Mahasiswa adalah Agent Of Change itu adalah suatu kebohongan besar apalagi kalau dibilang Pilar Demokrasi segala tambah tipu lagi itu, karena apa? lihat saja, ketika kata-kata “Mahasiswa Agent Of Change” mulai diberlakukan, ketika mereka lulus dari kampus mereka melupakan fungsinya sebagai manusia yang harus terus menggunakan nalar kritisnya dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaannya serta keluhurannya sebagai bagian dari sistem yang harus melakukan perubahan tersebut (agent Of Change), lalu apa yang biasa mereka lakukan setelah lulus? mereka melupakan akfitas dan idealismenya karena mereka tidak lagi “Agent Of Change” tapi mereka adalah “rakyat” yang harus nurut didalam sistem dengan hukum tindas menindas. Mereka buka rental HP atau masuk di pegawai negeri sebagian ada yang jujur kebanyakan dari mereka akhirnya menyerah juga dengan trend lamanya, ikut korupsi juga.

    Karena apa? kata Mahasiswa sebagai Agent Of Change telah memanipulasi dengan menyempitkan ruang Agent Of Change sebetulnya, tentu saja ego Mahasiswa menjadi terbuai dan kepalanya menjadi membesar sebesar entah apalah ketika dia dibilang sebagai Agent Of Change. Tapi pada realitasnya, Agent Of Change bukanlah terletak di Mahasiswa saja, tapi seluruh jaringan yang ada didalam sistem ini adalah Agent Of Change, dan Agent Of Change ini tidak bisa diwakilkan, tidak bisa di-institusikan mereka bisa jadi siapa saja, sejarah tidak pernah berkata bohong tapi bualan bisa berkata bohong, contoh saja bualan Agent Of Change yang memposisikan Mahasiswa sebagai seorang Elite ditengah masyarakat, dalam perkara rubah merubah.

    Karena itu pewacanaan ini yaitu tulisan ini dibuat, agar mereka, siapapun mereka yang membuka dan membaca Blog ini, dapat memperoleh suatu kesadaran tentang realitas sosial dan mempunyai kesadaran baru tentang itu. Setelah kesadaran muncul, baru perubahan secara massif (bukan perubahan kelompok) dapat diberlakukan. Yaitu dengan apa? mengikuti kultur yang paling massif dengan kata lain kultur paling populer sekarang ini, kalau target kita adalah, para muda-mudi kita harus masuk kedalam kultur populer mereka dan berkomunikasi disana, contoh apa? Blog, Friendster, Mall, Cafee, justru disanalah agent2 of change yang pikirannya terbius oleh realita yang seakan-akan wajar dan adil (padahal jauh dari itu) menunggu untuk dibangunkan. Bahkan Soekarno memerdekakan Indonesia dengan berdiskusi diRumah Bordil, Hitler melakukan perubahan dengan melakukan diskusi rutin di-Bar-Bar, kaum buruh Rusia melakukan perubahan dengan bermastrubasi dan beronani wacana semalaman suntuk didalam rumah mereka (udah baca Gorky?)

    Nah karena itu, justru kalau kamu ingin betul2 membaur dengan massa dan melakukan perubahan. Yang kamu bangun pertama bukanlah pergerakan, tapi kesadaran. Karena logikanya disini, orang tidur itu tidak bisa diajak bergerak, berjalan-jalan atau melakukan perubahan, nah kalau kondisi massa kita ini sekarang bukan lagi sekedar tidur tapi terbius. Dan siapa yang ingin kamu sadarkan? masyarakat kebanyakan. nah bagaimana kamu sadarkannya? dengan mengkomunikasikan dan membuat sebuah tawaran kultur baru didalam kultur populer yang mengalami disorientasi sekarang ini. Nah penyadaran ini dengan apa? kesadaran ini bisa dibangunkan dengan disadarkan, diberitahukan, diajak berbicara, diajak mengulas permasalahan, diajak berdiskusi, yang pasti bukan didalam wadah kita, tapi didalam wadah mereka, didalam wadah yang populer (kalau lw tau betul soal ini, lw tidak perlu lagi bertanya ini agitasi massa atau tidak).

    Mengapa kebobrokan dan tindakan-tindakan kriminil seperti korupsi, penipuan dan nepotisme serta kerakusan korporasi terus merajalela sekarang ini? Karena mereka menganggap bahwa apa yang mereka kerjakan itu sesuatu yang wajar dan benar, yang nikmat itu adalah sesuatu yang benar, ketika sesuatu itu menyenangkan maka sesuatu itu benar. Nah disini, tunas-tunas awal dari para pemimpin bangsa yang masih muda, yang lagi hobi2nya membaca Blog harus disadarkan dari awal tentang “mana yang benar dan mana yang salah” sehingga setidaknya ada rasa malu dan rasa bersalah ketika dia melakukan hal itu. Nah penyadaran ini dilakukan dengan apa? Pergerakan? dengan ikut organisasi? tidak harus! Pergerakan ini bisa dilakukan dengan mengkomunikasikannya dengan massa populer, didalam ruang publik yang populer, dengan cara yang populer namun tema tidak populer (tentang kemanusiaan, orientasi kebenaran).

    Nah sekian aja kawan. Salam buat Multatuli lw itu, nanti kalau baca tulisan gw lagi, atau baca koment gw yang ini gw sarankan untuk baca sampai habis dulu. Karena kalau tidak sampai habis nanti bahaya.

    Ok gw juga respek sama lw, apapun itu terimakasih untuk komentarnya.

    “Tempatkanlah manusia dimana manusia layak ditempatkan”
    dengan kata lain, tempatkanlah komentar sesuai dengan topiknya. Dan ingat lho, ini kertas, ini tulisan, bukan lapangan, jadi kalau kamu kesini tidak ada pergerakan apa-apa cuma ada pergerakan teks. Tapi setelah orang membaca dan berwacana, mereka akan melakukan sebuah pergerakan dengan kesadara baru dan dengan cara baru pula.

    Salam!

  7. Wah, pemikir kesukaannku, mbah Louis Althusser, bisa sewot baca tulisan diatas. Kalian ini kok jadi mundur ke belakang. Sejak Marx menuliskan Kapital, maka lapangan teori itu jadi sama pentingnya dengan lapangan politik. Perjuangan kelas melalui teori, itu sama pentingnya dengan perjuangan kelas melalui politik. Tapi, memang kuakui, alangkah naifnya apabila perlawanan-perlawanan teoritis dianggap lebih agung dari perlawanan-perlawanan politis. Dan begitu pula sebaliknya.

    Marx menyadari peran perjuangan kelas melalui teori ini. Ia menghabiskan bertahun-tahun, menarik diri dari lapangan politik, lalu berjuang melalui teorinya, hingga Kapital pun bahkan belum dituntaskannya. Dan perjuangan Marx di bidang teori itu tidak kalah hebatnya dengan perjuangan dibidang politik.

    Yang kita butuhkan sekarang, adalah kerja-kerja politik dan kerja-kerja teori sekaligus. Hanya memilih salah satunya sama saja dengan menarik diri ke masa lampau yang menyebabkan negeri ini dijajah ratusan tahun oleh kekuatan kolonial. Anak-anak muda seperti Tan Malaka, Semaun, Soekarno, Hatta, Syahrir, sangat sadar akan perlunya kerja-kerja teori dan kerja-kerja politik.

    Saat ini, Stopgoblog ternyata hanya sekedar menjadi media-borjuis-kecil. Dan ini kuakui. Keberadaannya sebagai blog borjuis kecil ini tentunya dikarenakan karena ia terlalu berupaya menjadi filosofis. Dan upaya itulah yang ditentang oleh Louis Althusser. Maxim Gorky itu disebut Lenin sebagai borjuis kecil karena ia membentuk kelompok diskusi yang berorientasi filosofis. Tapi walaupun begitu, Lenin menyempatkan hadir dalam diskusi-diskusi itu, karena kekuatan anti-revolusi harus dihadang bersama-sama. Keberadaan teks-teks yang kutulis dalam Stopgoblog inipun didasari oleh inspirasi dari kehadiran Lenin dalam diskusi borjuis-kecil tersebut.

    Inilah yang menjadikan Stopgoblog bukanlah yang terpenting dan bukanlah segalanya. Ada atau tidak ada blog, ada atau tidak ada Stopgoblog, perjuangan di bidang teori dan politik pasti akan tetap ada.

  8. wAh.. ada sisiPan curhatNya ya Dion.. esaI nya PanJanG yaa.. taPI menurut gw bisa aja si dIOn nGasIH Pemikiran begitu.. TaPI kinerJa apemerINtaH bukannya Harusnya diHargaI.. ga MUdah loo jadi pemimpIn itu.. dan MungKIn ga semua OraNG dalam pemerINtahan begitu..(walau emang kita liatnya secara keseluruhan) taPI emang MUngKIn kalO dilihat seCara Garis besar diseMUa sektor.. masIH laMa negara KIta INI aKan mencapai perbaikan di segala sektornya.. (humm) bizz nya OraNG2 ny kan masIH BanyaK oraNG lamaNya.. MUngkin masiH nunggu 20 tahUN laGi untuk regeneRasiNya alias giliran aNgkatan KIta .. masIH lama yaa.. naH oranG2 kaya LO ni kaLI yanG punya pemikiran Model2 gini yaNG MUngkin Bisa memberi perubahan pada Negara KITa ini.. apaLaGI kalo setiap OrAng bekerJa BUkan untuk dirinya atau orang lain taPI untuk tuhannya.. sebagai bukti keimanan.. bakalaN minim tuh yang dioN paparin di esai :))
    dimana2 emang leBIh gampaNG mengomentari dan menyalaHkan OraNG laIn.. (dalaM hal ini pemerintah kali yee) taPI Liat aja ORang2 yang dulu Hobi mengomentari pemerINtahan sebeLUmnya.. saat mereka terPIlih, Mungkin ga banyak yanG bisa mereka laKukaN .. soalNya kemUNgkinan menurut gw eMang susaH.. susah apaNYa?? yaa susah Indonesia ini kan Luas dengan baNyak masalah..ga sekecil siNgapura atau brunai yang negaranya kecil jadinya MudaH diatur.. jadinYa keliatan hasiL kinerja pemerintahaNnya ga bisa sekalian keliatan bagus laNgsUNg.. Musti pelan2 gitu.. (bener ga si Gw :P ) hehehe so tau yaa.. tapi gt deh menurut gw… oiy satu lagi cinta itu bisa menGalaHkan seGalaNya.. dan udah Bisa gw bUktiin sendiri.. The POwer Of LOve.. hoho jadi curhat.. ok gitu aja KOmentar gw.. NgAntuk niii ^–^

  9. Ass…wr…wb
    kalian ini aneh, apa kalian ga` sadar bahwa kekuatan dan kemenangan atas politik ditentukan oleh massa, ingat ini bukan dizaman bar2 lagi, yang hanya ditentukan oleh semangat doang…benar kata tomy bahwa kita harus berjuang berbarengan secara teori dan secara politis, tapi ketika di benturkan dengan kondisi obyektif sekarang kita di tuntut untuk memilih salah satunya. karena aksi pergerakan sekarang memerlukan fokus yang lebih baik untuk mampu melakukan perlawanan dah perubahan secara terorganisir. nah…apa solusinya ??? kita perlu wadah untuk melakukan perlawanan dan perjuangan tersebut baik secara politik dan secara teori wadah tersebut ada di organisasi…

    Kalau yg mau berjuang secara teori dia bisa masuk pada organisasi yg berbasic ke arah tersebut, begitu pula dengan yang langsung bergerak melakukan langkah2 politik, tetap membutuhkan suatu wadah…. Tapi sebaiknya mbah Louis Althusser tidak perlu sewot meninjau pemikiran diatas, karena dia pasti paham akan management forum yang harus tarik ulur. aku banyak ga` sepakat dengan pikiran kalian, aku takut orang2 seperti kalian hanya mampu memanfaatkan moment, tanpa ada follow up yang jelas. waspadalah..!!

    Aku sarankan kalian coba analisa history lagi secara baik, jangan berdasarkan satu sumber yang sealiran saja, maaf kalau aku terlalu mengklaim dan menjusticefikasi kalian, tapi ini demi kemajuan kita bersama. aku katakan kita adalah agent of change karena dari dulu hingga sekarang mahasiswa tetap dijadikan icon perubahan. benar bahwa perubahan bisa dilakukan oleh siapa saja, tapi percayakah kalian bahwa ketika mahasiswa bergerak maka seluruh element buruh, petani dan kaum miskin kota ikut bergerak, karena yang mengorganisir mereka juga adalah dari kalangan mahasiswa, entah itu dari organ mahasiswa manapun.

    Sukarno, Hatta atau siapapun figur yang ikut andil memperjuangkan indonesia adalah sosok- sosok yang dijadikan icon atau panutan untuk bergerak melawan karena status mereka adalah kaum terpelajar, sedangkan tingkatan kaum terpelajar secara akademik yang tertinggi dan dianggap punya potensi yang lebih baik untuk melakukan perubahan adalah mahasiswa. makanya pada setiap rezim dinegeri ini selalu yang dikekang adalah mahasiswa, itu karena kita adalah perwakilan dari rakyat untuk mampu melakukan perubahan untuk menuju masyarakat yang madani. walaupun terkadang banyak kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa karena egosentris dan sikap heroiknya yang norak. bisa di tinjau kesalahan reformasi`98 itu karena belum bersatunya seluruh element mahasiswa dan rakyat, masih berjuang sendiri2 secara eliteis. apa kah ini harus terulang lagi.??? Gila kalau hanya bergerak melawan dengan hanya mengkomunikasikannya kepada massa populer, didalam ruang publik yang populer, atau dengan cara yang populer sekalipun. apa kamu punya massa yang konkrit ??? untuk mengkomunikasikan seperti itu kamu perlu populis dulu, mampu ?? kapan ?? kelamaan bro… ingat pepatah lama,” lidi sebatang mudah dipatahkan, tidak dengan seikat lidi “.

    “Memanusiakan manusia?” edan textual banget makan mentah2 apa yang dikatakan buku. di dialektika kan dong, meterialkan jika mampu…bedah dengan pisau MDH yang anda punya. aku katakan dimana keexistensian kita sebagai manusia yang memanusiakan manusia karena emang itu pantas diperjuangkan, why not ??? maaf kalau ini perlu aku pertahankan.karena emang pantas,, ingat multatuli membuat konsep itu karena kondisi objektif pada saat itu, dan dengan orientasi yang berbeda pula, kenapa kita tidak coba merubahnya berdasarkan kondisi objektif sekarang dan dengan orientasi yang berbeda pula, ingat ilmu pengetahuan dan wacana selalu mengalami evolusi dan dialektika. jadi jangan dimakan mentah2 apa yang anda baca dibuku tentang multatuli. pramoedya sendiri punya alasan tertentu untuk menjadikan itu sebagai prinsip hidup nya, apa mungkin figur sekaliber pramoedya hanya menjiplak apa yang dikatakan multatuli.???Renungkan !!! kalau mau merubah mulailah dari bawah, di tingkatan internal kita dulu.baik mahasiswa itu sendiri, doktrinasi mahasiswa lepas tanpa organisasi yang katanya mampu berjuang sendiri konstant tanpa mengalami kemajuan.

    buat bung dion, kami terbuka tangan untuk merekrut anda terlibat pada wadah kami.
    tapi tidak jika anda diluar ruang pewacanaan, ( TANPA MENGABAIKAN DINAMIKA ORGANISASI). saat ini Liga lagi memerlukan kader2 yang mampu terikat secara wacana agar lebih bisa satu visi dan misi. Coba perhatikan kata bung eggy di atas orang2 yang dulu katanya ingin memperjuangkan kesejahteraan rakyat, kini malah berbalik memusuhi rakyat, karena dianggap rakyat sebagai batu sandungan yang pantas disingkirkan dari jalan ambisi nya. Karena apa ??? karena mereka tidak bisa satu visi dan misi, tidak terikat sama sekali dalam ruang wacana dan doktrinasi serta penyadaran nasionalisme yang sebenarnya. sehingga mereka punya orientasi masing2 yang bisa menghancurkan indonesia, merekalah orang2 yang pintar memanfaatkan moment.

    Ok, sekian dulu. sangat menarik berdiskusi dengan bung dion dan bung tomy, juga bung eggy. salut buat kalian, ingat SITNAS, indonesia lagi mengalami masa transisi maka perlu metode yang tepat untuk bisa memantaunya.

    Indonesia Raya, tanah air Beta

    Ass..wr..wb.

  10. kALO KATA NASIB SI SUAR SAIR : RIBAAK LEK…..

  11. Perubahan diawali oleh Mahasiswa bukannya sejak dulu, tetapi baru-baru ini, karena itulah sekarang perubahan tidak dirasakan ke-massifannya karena hanya Mahasiswa yang sadar diri dan menjadi pengembala domba untuk sebuah perubahan, padahal Mahasiswa lupa satu hal, bahwa rakyat adalah rakyat bukan domba dan mahasiswa adalah rakyat sebuah element relatif yang sangat kecil sekali yang berada didalam tubuh rakyat, bagaimana juga upil kecil ini bisa merubah hidung menjadi berkerut? kalau bukan keseluruhan dari hidung itu memang bergerak serempak untuk mengkerutkan dirinya. Disana logika dan analogi dasarnya.

    Sebetulnya, kata-kata Mahasiswa sebagai Agent Of Change ataupun sebagai Pilar Demokrasi adalah sebuah produk kata-kata yang dihasilkan oleh kekuasaan dan itikadnya adalah jelas yaitu mengucilkan peran rakyat secara utuh sebagai agen perubah yang sebenarnya dan berdamai dengan Mahasiswa dengan memberinya makanan murahan untuk kesombongan mereka yang paling murah juga. Pernah suatu kali, disuatu Universitas, disuatu ketika pulak, adalah orang-orang yang berada dibalik meja didepan ruang sidang membahas soal kenaikan BBM (sekitar satu tahun yang lalu) yang mengatas-namakan rakyat untuk seluruh argument dan jalan keluar yang dia ajukan, setiap keinginannya dibilang sebagai “keinginan rakyat” dan kehadiran orang-orang disana disebut dengan manusia-manusia a-rakyat yang berjuang dan berkumpul “demi rakyat”, walaupun sebenarnya rakyat tidak pernah betul-betul menyetujui atau betul-betul merasa terwakili dengan seluruh pengajuan-pengajuan yang dia lakukan. Tapi karena dia sebagai “Agent OF Change” sebagai kaum akademisi yang berlaku sebagai “Otak Rakyat” merasa bahwa Rakyat dan seluruh elementnya adalah tangan dan kaki yang tidak tau mereka ingin kemana dan bagaimana tanpa sang “Otak” memberikannya tujuan.

    Nah disini sebetulnya ada kesalahan fatal, karena yang sebetulnya sebagai otak dari perubahan itu adalah rakyat sendiri. Kita menyangka rakyat tidak mengerti apa yang mereka inginkan dan jalan keluar apa yang mereka mau, padahal merekalah yang lebih tau tentang jalan keluar dari permasalahan dan keingnan mereka sebenarnya, tapi stigma Mahasiswa sebagai Agent Of Change sudah menciutkan nyali mereka untuk bersikap kritis terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka dan jalan keluar yang mereka inginkan sebenarnya, karena mereka bukanlah Agent Of Change mereka selamanya berkaca kepada cerminan kata sekedar “rakyat” yang tidak memiliki kapasitas apapun untuk sebuah pergerakan, perubahan ataupun pemikiran kritis tanpa sang “otak” terlebih dahulu mendikte dan mengkomandonya.
    Nah yang perlu kita sadari adalah :

    pertama. perubahan tak akan mungkin bisa berlaku apabila sesuatu yang ingin kita ubah itupun tidak sadar dan tidak merasa butuh tentang suatu perubahan.

    kedua. Selama Mahasiswa menjadi agent of change, dan berbicara tentang rakyat diruang diskusi seakan-akan mereka bukan rakyat, melainkan diluar dari rakyat itu sendiri sebuah rakyat plus plus yang mengerti betul dan dapat membimbing rakyat-rakyat yang tak tau apa-apa ini ke-arah perubahan yang mereka sendiri tidak tau perubahan macam apa yang mereka mau (tapi satu hal yang jelas-jelas mereka mau, kekuasaan dan otoritas, lalu? pengakuan). Ini kedepannya hanya membentuk sebuah elite kekuasaan baru yang sama dangkal, congkak dan arogan.

    Ketiga. Perubahan yang sebenarnya akan terjadi bila rakyat yang tertidur pulas dengan mimpi mereka sebagai domba tak berdaya yang tak tau apa-apa dan tak bisa apa-apa dapat dibangunkan dan dikagetkan bahwa Mahasiswa itu ilmu tak ada apa-apanya dibandingkan rakyat, bahwa para akademisi itu tidak pernah memberikan sebuah jawaban yang dapat membawa kepada kemakmuran bersama melainkan selalu berakhir kepada kemakmuran golongan karena mereka tidak mencari jawabannya dengan bahasa rakyat melainkan dengan bahasa golongan, dari sini saja sudah jelas efek dari jawaban itu nantinya akan kemana. Jadinya, ruang pewacanaan aktif itu harusnya bukan berada didalam organisasi, bukan, tapi dalam kehidupan kerakyatan yang paling normal pewacanaan harus menjadi sesuatu yang normal, dimengerti dan disadari semua orang, baru hal ini bisa terjadi.

    Ke-empat. Hadji Agoes Salim merobek-robek raport anaknya dan menyuruh anaknya keluar dari jalur akademis karena tau, bahwa sistem bobrok dari akademis itu akan merobotkan anaknya ataupun menjadikan anaknya vampir yang haus darah dan kekuasaan bila mentalnya tidak kuat. Karena apa? Akademis dan sistem yang diatur sekarang adalah sebuah mesin besar pencipta aparatur pelanggengan setan yang paling kejam bernama HiperKapital, dan beberapa wacana perlawanannya tetap dikontrol melalui organisasi yang siap daftar yang keberadaannya tidak lepas dari kongkalingkong ataupun perdagangan bargaining dari para Hiperkapital, bila begitu membahayakan Hiperkapital mengapa mereka tetap diawasi? tidak dibubarkan? jadi Organisasi adalah sebuah ruang karantina ideologi sekaligus berlaku sebagai penjara manusia kreatif agar sewaktu-waktu bila mereka ingin melakukan perubahan gerak dan arah mereka telah dibaca dan mudah untuk diringkus. Mudah sekali bukan untuk membaca wajib Organisasi? ini juga merupakan sebuah mitos yang dibuat kekuasaan, dan domba bodoh yang bermimpi jadi serigala sangar ikut juga percaya tentang hal itu.

    Dengan kata lain, kelak semua orang harus terlepas dari sangkarnya, ketika kader telah diselesaikan mereka semua harus lepas dan membaur menyebarkan virus perubahan didalam sarana paling populer dan paling massif, bukannya paling sempit dan elitis.

    Nah begitulah, dan mengenai Multatuli dan Pemanusiaan manusia, gw mau dengar. Kalau dimaterialkan dia jadi apa? hahahaha

    NB : Sori telat balas, gw kemarin jadi pimpinan sidang buat paripurna Gubernur Psiko jadi agak sibuk dikit, sekarang gw udah jadi Mahasiswa biasa lagi, kapan aja siap tempur.

  12. eseni dasar persoalan obyektif tidak akan pernah tergambar terminiaturkan dari prinsip 2-10 orang, dan menjadi pangkal tinjauan obyektif. sesuatu yang bersifat obyektif bagiku adalah kebutuhan masa rakyat, dan tak akan terwakilkan oleh 2-10 orang, bahkan Keberadaan legislatif sekalipun bukan langkah demokratisasi yang ideal, dan mampu mewakili kebutuhan rakyat.
    aku, kamu, dan dia tidak akan mampu menyelesaikan persoalan masa rakayat, menyelesaikan persoalan obyektif hanya dengan bergerak bersama-sama, deng membentuk pemerintahan rakyat sejati.

  13. Kita lupa, kalau awalnya pemerintahan itu memang dari rakyat, tapi bukan untuk rakyat pada akhirnya. Aku katakan, ini semua perkara moral, benahi dulu moral kita.

    Maka dari itu Mussolini bilang ke Rakyat Italy

    “Sana kalian pergi dari hadapanku, balik dulu kerumah dan bersihkan tubuh kalian”

    entah apalah itu hubungannya.

  14. Memang banyak yang pergi
    Tidak sedikit yang lari
    Sebagian memilih diam bersembuyi
    Tapi… Perubahan adalah kepastian
    dan untuk itulah kami bertahan
    Sebab kami tak lagi punya pilihan
    Selain terus melawan sampai keadilan ditegakan!

    Kawan… kami masih ada
    Masih bergerak
    Terus melawan!
    http://www.pena-98.com
    http://www.adiannapitupulu.blogspot.com

  15. swt
    ngomong lu ketinggian

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.