stopgoblog

Archive for Januari 2007

aku dan kau adalah george walker bush

In Puisi on Januari 31, 2007 at 11:13 am

Aku dan kau
Adalah george walker bush
Dan tak satu orang pun bisa membantahnya
Percayalah, kita semua adalah orang yang paling berdosa di dunia ini
Kita bukan ribuan pasukan amerika yang terjebak dan mati di perang(kap)nya sendiri
Kita bukan gerilyawan irak yang terjebak dan mati di tanah airnya sendiri
Kita juga bukan anak anak dan rakyat yang terdesak dan mati disana
Tapi aku dan kau persis seperti george walker bush saja
Jauh dari bau pertempuran, dan tak pernah tahu apapun
Tak pernah tahu
Dalam perang(kap) itu
Harus ada mayat yang bergelimpangan
Maka tak usah merasa suci seperti pen(y)a(ir) yang berlindung di balik kertasnya
Yang tak mau mengakui betapa berdosanya dirinya sesungguhnya
Maka tak usah merasa suci bila tak pernah meneteskan darah
Aku dan kau tak perlu lagi bermimpi masuk surga
Biarlah orang irak dan tentara amerika saja yang masuk surga
Dan aku dan kau di neraka bersama george walker bush saja
Sebab, di neraka ada perang(kap) yang sama
Dan kita akan tahu rasanya terjebak disana.

Tomy DG

Indonesia

In Puisi on Januari 26, 2007 at 11:17 am

indonesia
tanah tumpah amarahku
ah, biarlah aku akui
biarlah aku akui, aku bi(c)ar(a)kan diriku dan bukan orang lain
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang rela berkorban jadi idiot asal bisa jadi idola di tv,
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang lupa nasionalisme tvri
yang menjalin persatuan dan kesatuan itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang suka fetisisme mtv yang lokal abis
yang narsis dan gue banget itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang bosan menonton dunia dalam berita
apapun seputar indonesia itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang muak pidato kenegaraan presiden
di gedung dpr/mpr senayan itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang kesal pada talk show politik
penuh basa basi hipokrit itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang lelah membaca buku buku busuk
di perpustakaan yang sepi itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang anti aksi turun ke jalan
tapi sinis pada para demonstran itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang ngantuk mendengar komentar
para komentator sepakbola itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang suka komik-komik jepang
yang penuh mimpi dan fantasi itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang tak tahu mau apa selain nyanyi
lagu lirik cinta picisan itu
aku bi(c)ar(a)kan diriku ini yang suka main game sepak bola
di sony playstation dan pc itu
indonesia, akankah kau terus sia sia ?
o tanah air kelahiran generasi sia siaku
o tanah tumpah amarah generasi sia siaku
disinilah aku berdiri
di tengah upacara asing, tepat di bawah bendera merah putihmu
menaikkan benderamu yang tak sampai sampai ke pucuk tiang
seakan upacara ini jadi merayakan bendera setengah tiang selamanya
disinilah aku berdiri, jadi terdakwa
jadi terdakwa
yang menanggung malu dari dosa para koruptor negara
jadi terdakwa
yang menanggung utang najis jutaan dolar amerika
jadi terdakwa
yang menanggung beban lingkaran setan kemiskinan
jadi terdakwa
yang menanggung subsidi mobil dinas mewah itu
jadi terdakwa
yang menanggung negara tak bertanggung jawab ini
ah, indonesia
tanah tumpah amarah generasi sia-sia
biarlah aku akui
aku bi(c)ar(a)kan amarahku tumpah di atas kertas ini
jadi hakim atas generasiku
dan diriku.
o indonesia
o tanah air para penyairku
bangunlah indonesia
bangun(kan)lah anak anak muda
yang bukan penyair dan pura pura suka chairil
anwar yang tak suka orang yang bukan penyair ambil bagian
bangun(kan)lah anak anak muda
yang hilang dan berkelana ke mal dan plaza
seperti sitor situmorang yang rindu bisa pulang lagi ke negerinya
bangun(kan)lah anak anak muda
yang baru bisa bercinta dan baru bisa menemukan potret
dirinya, tapi bukan dalam sajak-sajak protes pembangunan ws rendra
bangun(kan)lah anak anak muda
yang mengaku suka membaca prosa erotis penulis perempuan
tapi tak suka sajak-sajak prosa taufik ismail yang suka nangis di tv
bangun(kan)lah anak anak muda
yang bukan penyair dan lahir diatas tanahmu,
makan nasi di atas tanahmu, minum air putih dan meneguk coca cola
bangun(kan)lah anak anak muda
yang bukan penyair yang tak bangun bangun
sehabis mabuk malam ekstravaganza dan mimpinya pesta glamor
bangun(kan)lah anak anak muda
yang bukan penyair yang ci(n)ta-ci(n)tanya
bukan apa-apa selain meniduri kekasihnya di malam yang sepi itu
bangun(kan)lah aku
bangun(kan)lah aku yang suka membeli koran hari minggu
hanya untuk membaca cerpen dan sajak-sajak
hanya untuk kecewa setelah membaca cerpen dan sajak sajak itu
hanya untuk berharap minggu depan akan ada sajak protes disana
hanya untuk kecewa, minggu depannya tak ada sajak protes disana
o indonesia
o tanah kelahiran para penyairku
menangislah, menangislah
menangislah karena penyair-penyairmu
tak lagi mau menangis untukmu
tak lagi mau menetes air mata marahnya
tak lagi mau menulis protes di atas potretmu
tak lagi mau aku membaca sajak-sajak mereka
tapi aku mau menulis sajak
tapi bukan potret
tapi luk(is)a(n)
luk(is)a(n) yang merah semerah mukaku
karna aku baca sajak howl allen ginsberg yang jadi saksi
hancurnya generasi amerikanya
luk(is)a(n) yang lebar selebar koran hari minggu
yang tak mau ada sajak sajak para penyairnya jadi saksi
hancurnya generasi indonesianya
luk(is)a(n) yang makin merah setelah aku baca sajak falling james dickey
yang jadi sajak karna kutipan berita new york times-
terlemparnya seorang pramugari dari pintu darurat pesawat terbang
dan tubuhnya ditemukan 3 jam setelah kecelakaan itu. Ah God!
luk(is)a(n) yang makin lebar setelah aku baca koran
yang jadi panjang karna jatuhnya pesawat adam air
entah dimana jatuhnya dan
entah bagaimana nasib penumpangnya
luk(is)a(n) yang lebih luk(is)a(n) dari luk(is)a(n) karena aku baca koran hari ini
dan berminggu-minggu pesawat adam air belum ditemukan
belum ditemukan entah bagaimana jatuhnya
belum ditemukan entah bagaimana nasib penumpangnya. Ah.God!
indonesia
dari sabang sampai merauke
berjejer ribuan pulau pulau kecil yang tak pernah diberi nama
kapal laut tenggelam, kereta api anjlok dari rel, dan pesawat terbang ambruk disini
gempa hingga tsunami mengintai selalu
bikin panik kami disini
indonesia
tanah air insomnia
siapa bisa tidur dengan tenang
bila bencana selalu tiba tiba datang
indonesia
tak kan hilang kau
dari mimpi buruk generasi kami
oh, indonesia .

Tomy DG

Semua Mau Jadi Penyair Terkenal

In Puisi on Januari 24, 2007 at 5:39 am

Aku rasa, kau atau aku bisa jadi penyair terkenal,
Kita tinggal tuliskan hal-hal yang tak masuk akal
Tentang ci(n)ta-ci(n)ta yang kandas dan gagal
Atau tentang hidup orang-orang aneh yang kesepian,
Kematian yang tak pernah kita akrabi dalam keseharian
Semakin sukar dipahami semakin sarat keindahan
Tapi jangan tuliskan politik atau protes apapun, Kawan
Kelihatannya semua redaktur sastra koran tak suka sajak-sajak kritik sosial
Kalau tak masuk koran sama dengan kau atau aku tak mungkin akan dikenal

Tapi, aku rasa, kita tak mungkin jadi penyair, Kawan
Kita tak mungkin memaksa orang banyak membeli buku kumpulan puisi yang mahal
Tak mungkin, tak mungkin memaksa orang yang tinggal di bawah kolong jembatan itu membaca puisi
Tak mungkin memaksa petani yang masih khawatir pemerintahnya mengimpor beras itu membaca puisi
Tak mungkin memaksa nelayan yang masih khawatir cuaca buruk menghantui laut itu membaca puisi
Tak mungkin memaksa anak-anak yang masih khawatir gedung sekolahnya roboh lagi itu membaca puisi
Tak mungkin memaksa ibu rumah tangga yang takut keluarganya kena virus flu burung itu membaca puisi
Tak mungkin memaksa sopir-sopir angkutan yang masih harus mogok kerja seharian itu membaca puisi
Tak mungkin, Kawan, di negeri yang miskin dan terbelakang ini, jutaan orang tak mungkin memilih puisi
Aku rasa, kau atau aku kini tahu tak ada artinya jadi penyair yang namanya kekal
Aih, penyair itu memang seakan spesial
Tapi dibanding sesuap nasi aking di piring yang harus dimakan

Tetap tak ada artinya jadi penyair terkenal

Tomy DG

Protes!

In Puisi on Januari 24, 2007 at 4:06 am

buat apa ada pen(y)a(ir)
buat apa ada pen(y)a(ir) bila tak punya ingatan, cuma bisa lupa
lupa pada orang-orang yang digiring membangun jalan pada masa daendels berkuasa
lupa pada para petani yang dipaksa meninggalkan sawahnya pada masa tanam paksa
lupa pada anak-anak perempuan yang diperkosa tentara fasis jepang perang dunia II
lupa pada orang-orang houkiau yang diusir dari indonesia yang juga tanah kelahirannya
lupa pada pembantaian massal para anggota partai komunis dan soekarnois tahun 1965
lupa pada aktivis-aktivis yang diculik dan sekarang tak tahu entah bagaimana nasibnya
lupa pada anak-anak lapar dari aceh sampai papua yang berjejer tulang-tulang tubuhnya
lupa pada bahasa intelektual dan elit politik jakarta yang mulutnya penuh busa dan dusta
buat apa ada pen(y)a(ir) di dunia ini, dunia yang tak pernah damai dan selalu haus kuasa
pen(y)a(ir) tak bisa berbuat apa-apa, cuma bisa jadi pen(y)a(ir) saja !
tak bisa melepas orang-orang tawanan yang disiksa di penjara guantanamo sana
tak bisa mengusap air mata ibu yang rumah dan keluarganya hancur di palestina
tak bisa memeluk anak anak irak yang digempur tank dan pesawat tempur amerika
tak bisa meninju muka george walker bush yang mimpi amerikanya menguasai dunia
tak bisa menampar tony blair yang keras kepala tak mau menarik pulang pasukannya
tak bisa mengubah air mata dan darah rakyat Lebanon jadi anggur di kota Kana
pen(y)a(ir) tak bisa berbuat apa-apa, cuma bisa jadi pen(y)a(ir) saja !
cuma bisa melepas kata-katanya sendiri di atas kertas entah untuk dibaca siapa
cuma bisa mengusap air matanya sendiri agar tak membasahi sajaknya yang tak berguna
cuma bisa memeluk tubuh ringkih pen(y)a(ir)nya di malam dingin yang sepi dan luka
cuma bisa meninju muka kusamnya sendiri yang selalu pura-pura menangis dan tertawa
cuma bisa menampar wajahnya sendiri yang lelah karena terus membaca buku-bukunya
akuilah, akuilah pen(y)a(ir) tak bisa apa-apa selain sekedar mimpi minum anggur saja
buat apa malu bila aku dan kau tak tahu buat apa ada pen(y)a(ir) di dunia
buat apa malu bila hingga kini aku dan kau hanya bisa pura-pura tahu saja
buat apa malu bila pen(y)a(ir) tak bisa apa-apa dan memang bukan apa-apa
akuilah ! akuilah
bila pen(y)a(ir) bisa dan akan terus ada di dunia
supaya suatu protes bisa ditulis dan dibaca
itu pun bila tidak lupa.

                                                                                                                                         Tomy DG

Afmadow

In Puisi on Januari 20, 2007 at 4:35 am

Seperti danau yang tenang

Dijatuhi kerikil dari ketinggian

Tak bisa menghindar kemana-mana

Seperti itu pula Afmadow di Somalia Selatan

Dibombardir pesawat tempur AS dari udara

Ada kaum nomaden sedang bermukim di sana

Mereka tak bi(a)sa berlama-lama hidup tenang

Masih bi(a)sakah kau dengar suara kematian

Dengan tenang?

Seperti danau yang tenang

Dijatuhi kerikil dari ketinggian

Ah, aku bisa dengar (te)riak(an)nya.

Tomy DG 

Bukan Survei Yang Membuktikan, Tapi Sejarah

In Esei on Januari 18, 2007 at 8:43 pm

Survei membuktikan….., begitu kata satu iklan yang menjual produknya.  Dan kini, para politikus pun berteriak serupa. Mereka menggunakan survei sebagai legitimasi untuk menjual kecap mereka. Tentu saja ini karena bakat terpendam para politikus sebagai tukang ngecap. Fenomena ini menarik, tapi tidak mendidik. Disebut tidak mendidik, sebab rakyat yang kelaparan tidak akan menjadi kenyang apabila sekedar ditunjukkan survei, survei, dan survei melulu. Ini menarik, tapi lama-kelamaan pasti jadi memuakkan. Read the rest of this entry »

Masihkah Percaya Kapitalisme, Tuan Presiden?

In Esei on Januari 17, 2007 at 6:19 am

Dalam pidatonya 16 Agustus 2006 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan ada penurunan angka kemiskinan dari 23,4 persen menjadi 16 persen. Data tersebut kemudian menjadi pergunjingan nasional, dan diketahui merupakan data tahun sebelumnya yang sudah basi. Kepala badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta mengakui kalau data yang disajikan dalam pidato Presiden bukan data terbaru, melainkan data 1999 hingga 2004. Paskah beralasan pemerintah belum bisa menyajikan data terbaru hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional karena Badan Pusat Statistik baru mengumumkannya pada bulan September 2006 (tempointeraktif, 21/08/06).

Nah, mengingat Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengeluarkan data kemiskinan terbarunya, maka perlulah bagi saya untuk menunjukkan betapa pemiskinan demi pemiskinan masih menjadi kebijakan utama di tanah tumpah darah dan amarah Indonesia ini. Terlebih lagi lembaga keuangan internasional Bank Dunia (World Bank) juga sudah merilis laporannya menyangkut data kemiskinan di Indonesia. Read the rest of this entry »