Filsafat adalah senjata di kepala kita. Hal ini membuat kita harus bijak menggunakannya. Filsafat itu sejak semula mensyaratkan keluasan pemikiran. Hal ini agar kita tidak menembak kepala kita sendiri secara konyol di muka orang banyak. Seorang yang dibawahi oleh kegelapan pemikiran tentu tidak keberatan menembak kepalanya sendiri, tapi orang lain yang melihatnya akan tersiksa dibuatnya.
Aku pernah merasakan kesakitan di bawah kegelapan pemikiran. Aku pernah mengetahui pentingnya memasuki alam pemikiran dari tulisan Soekarno. Ah, ya, aku adalah seorang pengagum Soekarno. Kebetulan, ketika itu tahun 2000-2001 semarak mengenai peringatan 100 kelahiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Soekarno (1901-2001), sang penyambung lidah rakyat Indonesia. Nah, kebetulan sekali. Pada suatu hari, di suatu siang yang kubenci-karena harus mengikuti les privat yang menjemukan-aku mendapati buku-buku berusia tua yang lusuh di meja di kediaman Bibiku.
Buku-buku itu ternyata baru diturunkan Bibi dari loteng, karena hujan membuatnya basah. Memang, sebagian dari buku-buku itu aku lihat dalam keaadan basah menuju lembab. Aku tertarik mendekati tumpukan buku-buku itu, karena sangat mencolok kekumalannya. Aku periksa satu persatu, kebanyakan bahasa Belanda. Kebanyakan buku yang memuat peraturan kolonial Belanda, aku tak suka. Tapi ada satu yang menarik. Coba tebak, judulnya Dibawah Bendera Revolusi. Dan coba tebak siapa pengarangnya-our great lover, Soekarno. Aku buka halaman-halaman awal, dan aku langsung suka sekali membaca kata-kata Soekarno. Kata-katanya hidup, seakan-akan melompat-lompat di kepala kita untuk mendesak keluar dari kebodohan dan ketakutan di kepala kita. Aku baru tahu, ternyata Presiden Pertama Republik Indonesia adalah seorang yang piawai menulis. Selama ini, aku hanya mengetahui ia seorang singa podium, walaupun bayanganku sangat lemah-sebatas rekaman suara Soekarno ketika membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada suatu pagi yang mendebarkan di tanggal 17 Agustus 1945. Aku pikir kekuatan pidato seorang Seokarno yang digembar-gemborkan hanya sebatas suara bariton tertahan itu saja. (Belakangan aku tahu, Soekarno sedang diserang malaria dan tidak tidur semalaman ketika membacakan naskah proklamasi itu). Ternyata tulisan-tulisan Soekarno kuat bagaikan singa yang mengaum dan anggun mengalun bagaikan mekarnya Merak. Les privatku yang menjemukan menjadi hari-hari yang kutunggu, agar aku bisa pergi ke rumah Bibiku dan membuka harta karun literer masa remajaku. Setamat menyelesaikan Dibawah Bendera Revolusi, aku keranjingan buku-buku sejarah.
Pada suatu hari, ketika tabunganku aku rasa cukup untuk membeli sebuah buku (nahan diri nggak ngerokok dua bulan, itupun kadang-kadang jebol pertahanannya), aku pun mencari suatu buku sejarah mengenai Soekarno di Toko Buku Gramedia, jalan Gajahmada Medan. Tapi tak ada. Dan disitu, ada satu buku yang mencuri perhatianku: Madilog, karya Tan Malaka. Sedikit pengetahuan sejarah membuatku sedikit mengenal namanya, walaupun judul Madilog itu asing. Tapi karena covernya adalah wajah si penulis, Tan Malaka, maka aku menebak itu adalah buku otobiografi yang ditulis oleh Tan Malaka sendiri. Aku pun membelinya.
Dan mulailah hantu-hantu bergentayangan di kepalaku. Pukimak! Kataku memaki kesal di dalam hati. Buku itu halaman-halaman awal sesuai dengan harapanku: Ada bagian yang menceritakan sosoknya berhadapan dengan kepentingan Soekarno. Tapi gelagat buruk mulai datang, buku itu beratnya minta ampun!
Aduh Mak, kataku dalam hati, sudah suah payah menabung uang jajan, membanting tulang menahan menjauhi rokok, eh tahu-tahu malah dapat buku keparat. Madilog bukan filsafat, kata Tan Malaka, tapi suatu hukum berpikir. Terserah kau mau bilang apa, Tan, kataku dalam hati, bagiku buku itu hukum pikiran buatku. Buku itu membuat kepalaku pusing, berputar tujuh keliling.
Malah yang lebih parah, Tan Malaka di bagian-bagian awal memberi nasihat agat seorang pejuang jangan terikat pada kekasih atau istri, karena ia harus siap sebagai pelarian politik. Bajingan tengik, kataku menjerit dalam hati. Masih lumayan Soekarno, walaupun ia dengan gaya yang muram mengatakan bahwa ia memilih membaca Das Kapital ketika kawan-kawan remajanya berpecaran di bawah rembulan, kita semua tahu bahwa ia adalah seorang yang pantang jauh dari perempuan. Malah di pembuangan di Bengkulu ia memadu cintanya pada Fatmawati, padahal ketika itu ia sudah menjadi suami sah dari Inggit.
Madilog karya Tan Malaka ini adalah kutukan buat kepalaku. Gara-gara membaca Madilog, Sejak remaja aku suka membaca filsafat. Usia 15 tahun aku membaca Madilog, karya Tan Malaka. Buatku filsafat adalah sesederhana senjata. Terserah kita, dia mau digantungkan atau ditembakkan dalam perang. Dan bagi para pemula sepertiku yang tak tahu cara menggunakannya, ia sering kali tertembak ke kepalaku sendiri. Rasanya sakit sekali. Kepala rasanya pusing.
Ketika itu, pandangan mataku sering kabur sehabis membaca buku filsafat. Aku pikir itu dipengaruhi karena kebiasaan merokok di usia remaja. Tapi setelah setahun berhenti merokok, aku masih sering merasa kepalaku pusing sehabis membaca buku-buku filsafat. Karena sudah terbiasa dengan silogisme klasik, aku yakin bahwa kepercayaan lamaku sudah usang:
aku membaca filsafat dan merokok
membuat kepalaku pusing
membaca filsafat dan merokok membuatku pusing.
maka aku memperbaharuinya:
aku membaca filsafat
membuat kepalaku pusing
membaca filsafat membuatku pusing
Maka aku menemukan bahwa membaca filsafat membuat kepalaku pusing. Tapi kenapa, dan apa yang salah dari membaca filsafat? Aku tak pernah mau berhenti membaca buku-buku filsafat, karena sudah terlanjur memulai dan mengorbankan masa remajaku yang seharusnya diisi dengan menonton film-film bioskop dan mendengarkan musik-musik pop sebanyak-banyaknya, atau ngecengin cewek-cewek cakep di mal.
Aku kembali merokok. Merokok membuatku bisa melupakan kegetiran hatiku yang direnggut masa remajanya oleh buku-buku pukimak di sekitarku. Aku juga tak berhenti membaca buku-buku filsafat. Dan semakin meluas. Entah itu meminjam dari perpustakaan, nongkorong di toko buku seharian, tukar menukar buku dengan teman, semua itu memperluas ketertarikanku di dunia pemikiran. Semakin menantang. Semakin banyak membaca buku-buku filsafat, kebutuhan untuk memperluas jenis buku bacaan pun semakin mendesak.
Dengan keluasan berpikir dan meluaskan cakrawala teman berdiskusi, sakit kepalaku berkurang. Aku pun tak suka lagi menembakkan peluru filsafatku di sembarang percakapan. Lebih indah rasanya bercakap-cakap dengan kesederhanaan bahasa, persis seperti seorang anak kecil yang dengan kepolosan dan kesederhanaan perbendaharaan bahasanya bisa bertanya hal-hal hebat. Seperti kata keponakanku suatu hari, kenapa daun warnanya hijau? Kalau nggak hijau, terus kenapa?, katanya.
Semakin lama aku semakin tertarik untuk mendengarkan siapa saja. Tak peduli apapun bahan percakapan. Di waktu lain aku membaca buku-buku pusi. Puisi bisa menghantarkan kita pada keluasan langit dan kedalaman laut dengan caranya sendiri yang unik. Kalau filsafat adalah senjata, puisi adalah rokok dalam setiap medan pertempuran. Seorang serdadu akan menikmati merokok di sela-sela peperangan yang melelahkan fisik dan pikirannya.
Filsafat itu seperti senjata. Semakin canggih senjatanya, kita akan semakin bingung dan kalau kita tidak mengetahui karakteristik senjata itu, semakin sering pula kita menembak kepala sendiri. Senjata seperti model Gatling Gun yang didesain pertama kali tahun 1861 tentu berbeda kecanggihannya dengan senjata mesin mini model Gatling yang lebih canggih yang dipakai tentara Amerika Serikat di Perang Vietnam di pertengahan abad ke-20 . Kita bisa mengetahui keterkaitan suatu pemikiran persis dengan cara yang sama seperti kita bisa mengetahui sejarah morfologi suatu senjata. Tapi bila kita menggunakannya di sembarang tempat, dan sembarang waktu, tetap saja senjata itu bisa mencelakakan tak hanya kita sendiri, tapi juga orang banyak.
Filsafat seperti senjata mesin Gatling juga. Senjata yang kuno akan tidak berbunyi di medan perang abad ke-20 hingga abad ke-21 ini. Filsafat Yunani kita anggap tidak lagi berbunyi di abad para pemikir post-structuralist seperti Michel Foucault. Filsafat perenial kita buang jauh-jauh. Filsafat Karl Marx juga kita jauhi karena kita lebih silau dengan Jean Baudrilard siapapun yang disebut pemikir post-marxism. Memang, akhir-akhir ini kita kelimpahan buku-buku filsafat kontemporer di rak-rak buku di berbagai toko buku maupun di loak buku-buku bekas.
Tapi, semua itu selalu aku lihat sebagi senjata di kepala. Tak peduli apakah senjata mesin mini Gatling yang dipakai di Perang Vietnam itu dipromosikan di Film Predator yang dibintangi oleh Arnold Swarchzneger. Tak peduli apakah para intelektual sering mengutip kata-kata filsuf postmodernist. Tapi aku memandang filsafat itu seperti senjata. Dan walaupun senjata mainanmu, ia tetap saja senjata, bisa melukai dirimu sendiri atau orang banyak bila kau gunakan di sembarang tempat dan sembarang waktu.
Dari sinilah kita menemukan bahwa senjata hanya berarti di tangan orang bijak. Ah, aku baru ingat. Bukankah filsafat itu dari kata philo dan sophie, cinta dan kebijaksanaan?
Tomy DG
Terkadang, orang suka menyamakan perjalanan waktu dengan kemajuan, semakin waktu berjalan semakin maju dunia ini. Padahal, ada satu peradaban yang mundur hingga menghilang selama perjalanan waktu itu terbentang, ada kebudayaan yang besar pelan-pelan mengalami kematiannya hingga runtuh selama perjalanan waktu. Walaupun ada juga dari mereka yang bangkit selama perjalanan waktu, tetapi selalu ada juga yang jatuh selama perjalanan waktu.
Dalam beberapa hal, tokoh Bernard Shaw didalam Novelnya Manusia Adimanusia yang bernama Tanner tampil terlalu tengil dan serampangan, kadang juga terlalu berlebihan. Tapi ada satu perkataannya ketika dia berbicara Ann yang selalu gw ingat, waktu itu dia ngomong :
“Ann kamu membenci penghancuran karena kamu menyamakan antara penghancuran dengan kejahatan dan pembangunan dengan kebaikan. Sedangkan ruang-ruang sekarang ini yang terlampau sesak dibangun dengan institusi-institusi tidak berguna menjadikan nafas kita sesak. Dan itu harus dihancurkan”
Gw tidak setuju dengan kata-kata diatas, tapi gw menarik satu kesimpulan disana. Dalam mengaitkan sesuatu yang terlihat sama orang suka memukulnya sama, padahal sesuatu itu tidak sama namun berbeda. Seperti Man behind the Gun, antara orang yang memegang senjata yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan, tergantung konteks apa yang digunakan. Sepakat. Namun dalam balik atau retro meninjau filsafat lama, itu adalah hal yang berbeda, karena yang lama tidak sepenuhnya mati dan terbatalkan karena perjalanan waktu, dia tidak langsung tiba-tiba menjadi usang.
Averos menjadi pengkritik Aristoteles sekaligus pengkaji, namun tidak menjadikan Aristoteles sepenuhnya telah terbantahkan, walaupun ada yang lucu dari Aristoteles ketika dia mengatakan “manusia berpikir dihati, otak hanya menjadi pendingin”, namun masih banyak hal lain yang mungkin masih benar yang ada di Aristoteles yang masih harus terus digali. Laingpun akhirnya mengakui bahwa perjalanan orang mati melewati sungai Styx itu adalah sebuah wacana kedokteran ilmiah tentang proses reproduksi, dan hal ini dipercaya didapat ketika orang-orang Yunani mengalami trans dia percaya akan hal ini setelah membuat penelitian pasien-pasiennya yang diberi LSD, mereka mengalami trans yang serupa hingga balik ke masa awal keberadaannya (walaupun terdengar aneh dan ganjil).
Gw juga melihat ada kesamaan antara pemahaman kebahasaan Zen dengan orang-orang poststruktural, mungkin mereka lebih canggih bahkan gw curiga Derrida mengambil konsep bahasa dari sana (karena agama mistikus Yahudi/Qaballa ada beberapa prinsipnya mirip dengan Zen, seperti kehampaan kata. Mungkin Derrida baca Zen) seperti kata-kata Huineng
“kata adalah telunjuk-ku sedangkan maknanya adalah bulan, jangan lihat telunjuknya tapi tataplah bulannya”
telunjuk adalah penanda, yang tidak punya hubungan dengan bulan (karena itu Huineng memperingati jika kita terjebak pada telunjuk kita akan selalu mengalami penyesatan untuk mencapai tanda yang sebenarnya atau bulan)
Bulan adalah Petanda.
yang gw lihat berbeda antara Huineng dengan Derrida adalah dalam mewujudkan ke-skeptikannya terhadap bahasa, jika Huineng dan para sesepuh Zen meminimalisir bahasa dalam pencapaian Koan, Derrida mempermainkan Bahasa agar pembaca dapat mencapai Koannya masing-masing. Huineng difokuskan pada petandanya dan Derrida fokus pada penandanya karena menurut Derrida disisi lain penanda hanya akan menyampaikan kita pada penanda lainnya dan tidak pernah pada petanda, sedangkan Huineng mengatakan penanda menunjuk petanda kita harus peka.
Dan banyak filsuf kotemporer yang kembali merujuk kepada filsafat-filsafat lama, menggali kebijakan timur dan membongkar kembali filsafat Yunani. Karena seharusnya wacana tidak dibenar atau disalahkan oleh waktu, tapi wacana mempunyai benar dan salahnya lewat bobotnya sendiri.
Itu menurut gw, sekedar meramaikan diskusi aja, mungkin tanggapan gw bisa dijadikan pertimbangan.
Ngomong-ngomong ada yang bilang kalau kita berdua ini adalah anak muda yang mengaku-ngaku ingin menuntaskan pembodohan? haahaha
sukses cutinya kawan!
3 bulan yang lalu aq pergi berjalan -jalan keluar daerah dengan mngendarai mabil aq menikmati pemandangan yang menakjubkan, sawah yang hijau….air gunung turun melalui muaranya..dan ada batu -batu yang besar dan kecil….seingatku bahwa batu itu adalah benda mati…tapi ada juga batu yang hidup …dulunya kecil dan tiba-tiba dalam masa perjalanan waktu, batu itu bisa membesar atau dinamakan batu hidup….yang aq ngak ngerti bahwa batu dikatankan benda mati tapi kok ada batu hiduo dan proses apa yang membuat dia hidup atau dengan cara apa dia bisa hidup..apa dengan nafas kah atau dengan yang lainnya ….terimaksh….
hmmm, madilog. Tadinya cep ndak tertarik dengan buku itu… sekedar iseng-seng muter-muter palasari buat cari bumi manusia and semua karya Pram untuk kategori tetralogi pulau buru. Bosan karena tidak juga ketemu, akhirnya cep teringat dengan MADILOG karya Tan Malaka. Hmmm, pusing karena ternyata buku itu tidak ada, ada juga yang sudah di photocopy alias dibajak. Menyedihkan…. mana mahal pula harganya berkisar antara Rp. 125.000 sampai Rp. 50.000 untuk harga yang paling murah…
Mencari di sekitar jalan Braga pun tidak ditemukan, kata ibu yang memiliki toko “itu buku lama Neng, sudah ndak dijual lagi” hmmm pusing. Mencari di areal pameran buku di jalan Land Mark tetap saja tidak ada, kata kang diding “buku itu sudah saya jual. Isinya biasa-biasa saja Neng” dan sialnya saya semakin penasaran. Ndak tahu harus cari kemana lagi, saya mau buku yang asli… Makanya kamu yang punya buku itu beruntung sekali, saya aja sampe muter-muter pegel, tetep aja kagak ketemu. Tapi masih ada niat mau cari di Kwitang cuma kagak tau jalan he..he…he
Apa ada yang tau dimana buku itu bisa saya temukan???
salam NKRI salam nasionalis,indonesia negara yang besar dan berdaulat jangan biarkan hal ini terusik oleh oleh negara -negara kecil seperti malaysia dan negara-negara tetangga lainya lawan dan tunjukan kalau angkatan kita masih punya taring,tarik seluruh harta negara yang telah dikorupsi oleh pihak-pihak terkait perkuat persenjatan kita karena negara NKRI harga mati salam perjuangan ……….
membaca esai ini jadi teringat masa kuliah dulu. waktu kuliah membaca adalah hal yang paling sunyi dan menyenangkan. bergelut dengan imajinasi lebih menantang daripada duduk, diam dan mencatat celoteh dosen yang tak berakar itu.
tapi satu-satu kendala adalah tak beruang. ini umum dihadapi mahasiswa kelas kampung Madura seperti saya. ke perpustakaan?awalnya iya, tapi kepemilikan pribadi sebagai salah satu geliat psikologis kayaknya terus mendera. aku tak puas jika hanya membaca buku, tapi tak pernah memilikinya. apalagi bukunya bagus.
Nyolong??awalnya iya. aku rajin nyolong buku di perpustakaan. sejak kuliah hingga 14 semester setidaknya ada 15 buku yang aku colong dari perpustakaan. tapi mencuri adalah bentuk kesombongan manusia, menurutku. aku berhenti ngutil buku.
Tapi keinginan punya buku tetap tak terbendung. nah, entah setan apa yang merasukiku, salah satu buku yang aku colong dari perpustakaan adalah “Mengarang itu Gampang” karya Artwendo. aku suka. aku jadi termotivasi untuk menulis.
maka dimulainya pengembaraan panjang dalam dunia literasi itu. dan ternyata artwendo keliru. mengarang tak segampang yang dibayangkan orang. dua tahun luntang-lantung dari rental ke rental, memelototi internet hingga dini hari tak ada satupun tulisan yang dimuat. dan akupun sakit. tak tanggung-tanggung; Liver! dokter menyarankan istirahat total kalau mau berumur panjang.
oke, aku turuti. aku tak mau mati muda tanpa memberikan kontribusi apa-apa pada dunia. di tengah istirahatku, kabar menyenangkan itu tiba; Tulisan pertamaku dimuat di JAWA POS (setelah mengirim sekarang tulisan selama dua tahun).
tiba-tiba aku merasa sembuh. berjingrak kegirangan di kamar seperti orang edan. emak pikir aku gila. aku tunjukin koran itu. tapi emak tetap tak paham. “ah, dunia mereka berbeda dengan duniaku,’ begitu batin saya.
honornya? waktu itu (2003) sekitar 200 ribu. maka berangkatlah aku ke Surabaya dengan satu tekat beli buku.
sampai di Gramedia TP betapa senangnya. ribuan buku terpampang di sana. semua bagus-bagus. semua ingin kumiliki. tapi uang hanya 200 ribu. entahlah setan apa pula yang merasukiku setelah lama memilih buku, pilihanku jatuh pada Madilog, karya Tan Malaka. waktu itu penertbitnya Teplok Press, Jogya. (sekarang diterbitkan oleh Yayasan Tan Malaka). harganya, alamak, Rp. 130 ribu. tapi apa boleh buat terlanjur senang.
dan ternyata pilihanku tidak keliru. Tan Malaka mengajariku cara berpikir logis dan dialektis. cara menjawab fenomena dengan dialektika seakan lebih jitu daripada berputar-putar dengan gaya konservatip. menurut Malaka Gaya itu bukan untuk filsafat berperang!
berkat Tan Malaka dan tulisanku semakin runut dan punya pijakan. aku semakin keranjingan menulis. mengamen dari koran ke koran. ah, hidup memang tak bertulang!
hhmmmm….DBR dan MADILOG. 2 judul buku yang karena kebesaran sejarah atas judulnya sendiri telah memaksa aku untuk tidak pernah selesai membacanya. Tan pernah berkata bahwa MAdilog adalah pusaka orang timur dalam melepaskan sistem berpikir tahayul. Jujur, ketika aku membaca MAdilog yang tidak pernah selesai itu, aku berlesimpulan bahwa isi madilog sebenarnya adalah ramgkuman dari nilai2 pelajaran SD sampai SMA. Tan berbicara mengenai geometris, phytagoras, sampai apa itu roh. Yang jelas, bagi aku yang tak pernah selesai baca Madilog, ada dua kalimat Tan yang sangat aku ingat sampai sekarang. 1 adalah yang seperti diungkap Tomi, bahwa jadi pejuang tidak boleh berkeluarga dan berharta (tidak dianjurkan untuk punya istri, keluarga dan rumah) karena itu sangat membuat kita lemah, dan 2. adalah konsep Tan mengenai tindakan salah dan benar. menuut Tan, salah dan benarnya suatu tindakan adalah diukur dari rugi atau untungnnya rakyat atas efek tindakan kita…sangat sederhana dan mengena. Aku beli DBR dan Madilog di pasar buku di jalan Semarang, yang sampai detik ini belum pernah selesai aku baca dengan runtut. Otakku terlalu dangkal untuk dua judul besar diatas.
Tom, maju terus….