stopgoblog

Pendeta Tanpa Gereja (7)

In Puisi on April 17, 2007 at 12:40 pm

Dari kumpulan puisi PENDETA TANPA GEREJA:
10 Perintah

10 PERINTAH

Ada seorang pendeta yang selalu habis akalnya
Bila ditanya mengapa harus kaum Yahudi
Yang menerima 10 Perintah Tuhan pertama kali
Hingga akhirnya si pendeta menemukan caranya
Bila ditanya soal yang sama, ia akan bercerita:

Tuhan pernah mengunjungi tanah Amerika
Kepada orang disana, Dia berkata
“Maukah kalian menerima perintahKu?”
“Contohnya apa?”, kata orang Amerika
“Menghormati kedua orangtua “, kataNya
“Maaf, kami tidak mampu”, jawab orang Amerika

Tuhan juga mengunjungi tanah Indonesia
Kepada orang disana, Dia berkata
“Maukah kalian menerima perintahKu?”
“Contohnya apa?”, kata orang Indonesia
“Dilarang berbohong”, kataNya
“Maaf, kami tidak mampu”, jawab orang Indonesia

Tuhan juga mengunjungi tanah Perancis
Kepada orang disana, Dia berkata
“Maukah kalian menerima perintahKu?”
“Contohnya apa?”, kata orang Perancis
“Dilarang berzinah”, kataNya
“Maaf, kami tidak mampu”, jawab orang Perancis

Akhirnya, karena tak punya pilihan lagi
Tuhan pun mengunjungi kaum Yahudi
Kepada orang disana, Dia berkata
“Maukah kalian menerima perintahKu?”
“Harganya berapa?”, kata orang Yahudi
“Tentu gratis”, kataNya

“Ok, kami ambil 10!”, sahut orang Yahudi

Tomy DG

  1. Tom, ko ki wong Yahudi ta?
    ups!! pssttttttttt…

  2. ups……islamfeminis.wordpress.com

  3. Sentimen rasial!
    Tapi lucu juga…
    hahahahaha….

  4. Dari jenis pertanyaan yang dilontarkan sebagai jawaban atas pertanyaan Sang Tuhan menggambaran pemikiran si Yahudi yang berbeda dengan yang lain.
    Tomy DG, seorang Yahudi….?atau seorang Nazi…?atau seorang…………….?

  5. Ha ha ha
    Btw, gimana kabar terakhir kasus ‘makelar’ Lapindo Bung Tomy?

  6. Wuahwah lucu ternyata! Tadinya saya pikir serius lho ini :)

  7. tom kon yahidi asli ta?
    aku keberatan kalau indonesia cuma di tanya tentang kebohongan…
    karna saat ini indonesia sedang menghalalkan segala cara……
    salam perjuangan..

  8. he he he. gak usah seuriuslah nanggapinya. critanya kan juga san tai

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.