stopgoblog

Bahasa Indonesia Campur aduk

In Esei on Mei 4, 2007 at 4:15 pm

Di-Indonesia kesepakatan Bahasa persatuan sebagai Bahasa Indonesia telah dibentuk sejak Sumpah Pemuda (secara de Facto), yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa yang sah sebagai Bahasa pemersatu. Jadi ketika kita menggunakan Bahasa Indonesia jelas sudah kesepakatan kita untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa pemersatu yang ter-realisasi hingga detik ini, dengan harapan setiap warga Indonesia di-kedepannya dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa mengalami kesulitan dengan seluruh manusia yang berada di-wilayah Indonesia. Akhirnya, setiap kali kita menggunakan Bahasa Indonesia kita akan teringatkan oleh satu identitas atau peran dari diri kita yaitu : Aku ini Orang Indonesia. Dan setiap kali kita berbahasa Indonesia kita telah mewujudkan salah satu impian Tunggal Ika (Persatuan) dalam Ke-Bhinekaan (Kemajemukan) kita, karena Bhineka adalah sebuah kenyataan sedangkan Tunggal Ika adalah suatu harapan yang terus-menerus sedang di-usahakan realisasinya dalam bidang apapun dan persepsi manapun, kelak harus dikonsensuskan.

Namun belakangan ini ada cara pemakaian Bahasa yang sedang populer yang berlangsung dimana-mana dan dilakukan oleh semua orang dari semua kalangan yaitu : Penggunaan Bahasa Indonesia campur aduk. Sekarang ini orang sedang Hobi untuk mengkombinasikan Bahasa Indonesia mereka dengan bahasa asing, terutama dengan Bahasa Inggris, seperti kata-kata “Fuck banget gitu lho” “You punya barang berapa” “so what gitu lho” “sampai ketemu later ya!” “saya sudah katakan sebelumnya kalau emotion itu selalu terpisah dengan cognition, thats why its very hard to reach konklusi dari kedua hal tersebut.” Dalam argument, dalam bincang-bincang santai, dalam televisi, bahasa Indonesia tipe mutant ini selalu keluar. Mengapa bisa begitu?

Sebetulnya hal ini sudah terjadi sejak dulu, namun fenomena krisis tersebut baru meledak hari ini. Sewaktu Soekarno berdebat dengan salah satu aktifis feminis, dia menggunakan Bahasa Indonesia, Belanda dan Sunda secara campur aduk sehingga membuat orang-orang yang ada disekitarnya jadi bingung. Dan ketika itu Sjahrir menegur “tolong jangan gunakan 3 bahasa sekaligus ketika berpendapat, karena banyak peserta yang bingung. Lagipula kan Indonesia sudah ada Bahasa pemersatu, kenapa tidak gunakan itu saja?” Soekarnopun minta maaf lantas meneruskan musyawarah dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebiasaan seperti itupun bisa kita temukan dalam catatan seorang Nasionalis seperti Soe Hok Gie (Dalam bukunya Catatan seorang Demonstran), yang biasa mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.

Sebetulnya mudah sekali untuk mencari penyebabnya, Soekarno menggunakan Bahasa Belanda karena Bahasa Belanda ketika itu dijadikan sebagai Bahasa Akademis oleh sekolah-sekolah tingkat tinggi yang memang dikelola oleh bangsa Belanda. Dan banyaknya para Intelektual Indonesia yang belajar di Belanda pada saat itu telah mengesankan adanya identitas “intelek” bagi mereka yang mahir Bahasa Belanda (sebuah Halo Efek), juga ada kesan “Belanda sebagai pusat kegiatan akademik puncak” yang akhirnya memberikan efek pada kesan-kesan pusat ilmu ataupun peradaban tinggi pada identitas Negara Belanda dan seluruh kandungan yang ada didalamnya (Pakaian, Bahasa, gaya hidup, makanan, selera musik, dsb).

Begitupun juga kehadiran Belanda yang saat itu sebagai Negara Adikuasa bagi Bangsa Indonesia menyelipkan identitas superior bagi Bahasa Belanda. Karena Bahasa Belanda adalah Bahasa yang digunakan oleh kaum yang menjajah kita, perintah-perintah yang membudaki kita keluar dari bahasa itu, umpatan merendahkan kepada bangsa Indonesia juga keluar dari bahasa itu, maka menggunakan Bahasa Belanda akan secara tidak sadar membuat kita berfantasi menjadi seorang Belanda. Seorang yang superior, intelek, kuat dan yang lain sebagainya. Dari sekian Bahasa yang dikuasai Soekarno pada waktu itu, mengapa ia memilih Bahasa Belanda? hal itu adalah untuk menandakan bahwa “Saya ini pinter lho” “Saya ini kaum akademisi” dan banyak hal lain.

Dalam “Impian Pamanku (my uncle dream)” Karangan Fyodor Dostoyevsky disini disibak kebiasaan buruk orang-orang Russia dikala itu terutama dari kalangan kaum bangsawannya, menggunakan Bahasa Perancis dan Russia secara campur aduk untuk menunjukkan identitas keninggratan, kesopanan, kehalusan, selera, kelas sosial, menunjukkan kesan “ber-adab” kesan “intelek” dan peningkatkan gengsi. Kata-kata selamat tinggal dengan Au Revoir dan memuji kecantikan wanita dengan bahasa-bahasa Perancis, atau mengucapkan permintaan maaf atau teguran ramah dengan bahasa Perancis, biasa digunakan untuk ajang menjelaskan identitas diri sekaligus (pemalsuan/pseudo) peningkatan Identitas dan penandaan status kelas sosial, lalu mengapa harus Bahasa Perancis? Karena dikala itu, Perancis menjadi pusat literatur. Tempat para pemikir, seniman, sastrawan yang dipercaya memiliki budaya lebih tinggi dari mereka.

Dan kalau kita lihat TV sekarang ini, kita akan melihat fenomena-fenomena bahasa campur aduk seperti itu, contoh saja kita bisa melihat lagak Tantowi Yahya yang seakan sangat bangga sekali dengan Bahasa Inggrisnya yang sempurna. Nadine, lebih senang memakai Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia ketika diwawancara di kontes Miss Universe, padahal banyak dari pemenang kontes tersebut yang menggunakan penerjemah karena tidak menguasai Bahasa Adimanusia kontemporer atau Bahasa Inggris. Dan Thukul, si cerdas itu, dibodoh-bodohi dengan ketawa-ketawaan para tamu dan penonton semata-mata karena tidak bisa Bahasa Inggris, diberikan kesan tidak berpendidikan dan berpikiran sederhana, dikesankan menyandang budaya yang lebih rendah (Kampungan/Ndeso) padahal orang seperti dia kemampuan sosial dan penguasaan bahasanya bisa dikatakan melebihi rata-rata, kreatifitasnya dalam mengaitkan pembicaraan dan langsung dengan mudah menyimpulkannya mengisyaratkan kecerdasannya. Dan kerendahan hati juga kehidupan pribadinya yang prihatin tidakkah menggambarkan kebijakan prinsip hidup Jawa kuno yang mencari ke-prihatinan (bukan menghindari) dibandingkan dengan mengejar kerakusan pemuasaan syahwat?

Dan yang lucu lagi, di friendster, ada orang yang mencoba untuk menjelaskan profile-nya dengan bahasa Inggris. Memasukkan hobi berkemahnya dan menulisnya dengan Campang yang sebetulnya adalah camping, hobi bertualangannya dengan Adnventure, dia ingin menetapkan kelas sosialnya dengan Bahasa Inggris padahal dia tidak bisa Bahasa Inggris, bukankah ini sangat menyedihkan?. Atau juga didalam televisi serial Olah-raga basket, pembawa acaranya sungguh membuat kita mual. “Yo Brother and sister, this is our new-commer is in the house, so how is it Mc “Dog” Lohan? Bagaimana Kabar my brother belakangan ini? My brother and yang in the corner corner baik-baik saja kan?” Inilah disebabkan adanya pengertian bahwa Bahasa Inggris menandakan kultur dan kelas sosial yang tinggi, dan ada pemahaman bahwa Bahasa Indonesia adalah Bahasa Awam atau bahasa Kaum kebanyakan yang memiliki Kultur dan latarbelakang yang lebih rendah daripada Bahasa Inggris (Bahasa Massif, bukan elit). Sebuah dualitas antara Bahasa Kebanyakan (budaya rendah) dengan Bahasa Kelas sosial Tinggi (Budaya Tinggi). Ini berasal dari sebuah perasaan malu dan perasaan inferior terhadap identitas golongan dan diri yang melahirkan penghambaan yang akut yang terjadi tanpa kita sadari terhadap kultur barat. Akhirnya untuk menutupi rasa rendah diri terhadap identitas kita, kita berusaha untuk berpura-pura atau meng-imitasikan diri sebagai orang Barat, agar ada perasaan sesaat bahwa kita ini beda dari Bangsa Indonesia yang lain kita ini Bangsa Indonesia yang menguasai adat istiadat barat yang lebih tinggi, lebih ber-adab, lebih rasional dan canggih.

Dan banyak kawan-kawan yang bila sedang dalam argument mengembalikan keterdesakan mereka dengan kata mutiara atau merubah bahasa yang mereka gunakan dengan bahasa Inggris, atau Jerman atau Perancis, bahwa mereka itu cerdas karena bisa berbicara dalam bahasa orang-orang cerdas. Mereka mengkomunikasikan bahwa mereka itu orang yang menguasai kultur tinggi, bukan orang sembarangan, mereka masuk kedalam kelas sosial elite. Sindiran terbaik untuk ini adalah memalui pemeranan salah satu pejabat kita di satu dunia lain didalam TV, yang ketika terdesak karena tidak tau, untuk melindungi diri dari takut kelihatan bodoh dia berbicara Bahasa Inggris untuk menyelamatkan mukanya, “That’s Right my brother” sindiran maut dari Timnya Olga Lidya yang imut dan cantik itu bagus sekali untuk tempat berkaca salah satu pejabat PLN yang diwawancara di Q TV yang menggunakan Bahasa Inggris Indonesia campur aduk sekedar untuk membuat kita bingung akan ke-bobrokannya. Seharusnya kita menggunakan Bahasa untuk membuat sebanyak-banyaknya orang mengerti bukan untuk membuat sebanyak-banyaknya orang tidak mengerti, bahasa memiliki identitas dari maknanya bukan dari jenis bahasanya, hanya anak kecil yang tau akan bobroknya ilusi peradaban ini belajarlah dari mereka.

Karena itu dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam mengkomunikasikan Teknologi Informasi, perbincangan politik di televisi, hiburan dan berbagai hal lain, bukan sebagian kecil yang bisa meng-aksesnya tapi seluruh masyarakat Indonesia yang bisa mengerti Bahasa Indonesia bisa memahaminya, bisa memahami fenomena politik yang sekarang sedang berlangsung, bisa memahami lawakan yang sedang dibicarakan, bisa memahami wacana yang sedang diberikan, jadi tidak ada elitisasi dan segmentasi kelas dalam Bahasa, dan orang tidak harus lagi malu untuk bangga terhadap Bahasanya sendiri (dengar itu Nadine?), karena itu adalah Bahasa kita maka kita harus menerima dan berbangga dengannya dengan sepenuh hati.

Aku tercerahkan untuk menulis ini dan mengkaitkannya dikarenakan kata-kata Gus Dur “Daripada Pusing memikirkan 90 persen orang Indonesia bisa berbahasa Inggris agar dapat menguasai Teknologi Informasi, kenapa tidak mengubah bahasa Teknologi Informasi menjadi Bahasa Indonesia agar seluruh orang bisa Paham” dia bisa berbicara seperti ini karena dia melihat adanya hubungan antara mampu berbahasa Inggris dengan kemajuan, dia mampu menyibak ilusi tersebut. Karena itu ilusi segementasi kelas dan nilai intelektualitas dari Bahasa adalah sebuah kabut yang harus kita sibak dan enyahkan, agar kita bisa memperlakukan Bahasa seperti apa adanya Bahasa itu layak diperlakukan. Bukankah dengan membudayakan bangga berbahasa Indonesia dimanapun dalam diskursus apapun secara tidak langsung kita juga akan mencerdaskan bangsa kita? Dan bila kita tidak membudayakannya sama saja dengan mengisolasi satu jaringan informasi agar tidak bisa di-akses secara massal karena Bahasa UFO-nya yang asing itu? Dengan kata lain sama saja dengan membiarkan kebodohan massal berlangsung karena kesulitan meng-akses informasi yang ada karena kelainan Bahasa. Kalau tetap kuat berpegang pada Bahasa Inggris aku usulkan begini saja, kita jadikan saja Bahasa Inggris sebagai Bahasa pemersatu.

Nb :
- Stopgoblog sebagai nama lahir sebagai makna penyadaran sekaligus kritik budaya sekaligus ada nilai kejenakaan, persis seperti “that’s right my brother” Republik mimpi. Nama ini hanya sebagian dari kritik.
- Dan kadang, ada tulisan saya yang ke eja dengan bahasa Inggris karena pengkoreksi otomatis yang ada dipiranti Ms Word, yang dengan otomatis mengkoreksi tulisan saya secara tidak saya sadari terkadang. Jadi kalau ada beberapa kata yang belum ter-edit saya mohon teguran dan maaf serta maklum.
- Kritik ini bukan saja berlaku untuk satu dua golongan, tapi berlaku untuk kita semua, termasuk saya sendiri sebagai penulis.

Karangan :
Dion Priatma

  1. Byk jg tu yang sok-sok bhs ibggris jd huruf T dibaca C. Sering ngomong bhs inggris kli jadi ga biasa ngomong bhs indonesia, byk bgt tu pnyanyi ngomongnya gitu! Pakabar nyet?

  2. agak males mas berbahasa indoensia yang baik dan benar itu. toh, menurut orang malaysia, bahasa indonesia juga sudah keluar pakem. belakangan ini malah media malaysia memuat ejekan karena lagu indoensia yg jelek jelek diimpor ke malaysia. hwarakadah … :D

  3. Sepakat Lim, sepakat. Kabar gw baek. nyet, HP gw rusak nomor jadi ikut ilang, smsin gw nyet.

    Papabonbon : baru tau gw, masa sih gitu? yah kompensasi rasa inferior itu kesombongan buta, patut kita kasihanin pribadi macam itu. sebetulnya bahasa Indonesia gak keluar pakem, pakem atau standar dari bahasa itu kan ke-konvensionalannya, artinya ke-umum-an bahasa itu sendiri (dalam ranah percakapan). Lagipula standar bahasa Indonesia juga sudah termasuk tinggi, artinya kita sebetulnya tidak membutuhkan banyak kata serapan tapi elitisasi pembahasaan membutuhkan jargon untuk menyatakan status mereka. Liat aja, deklarasi kata serapannya dapat digantikan dengan “menyatakan”, kata “subtitusi” dapat dikatakan cukup dengan “pergantian”, kata “alienasi” dapat digantikan menjadi “keterasingan”, tapi kenapa jargon itu tidak di-umumkan? yah itu kan untuk gaya2an saja, pembedaan kelas sosial, pseudo-philosophy atau pura-pura filosofis (nah bisa digantikan lagi kan?).

    Justru Bahasa Malay kalau anda lihat, sangat amburadul sekali dan banyak kata-kata pengganti Inggrisnya. Makanya pelajaran Bahasa Melayu mulai digalakkan lagi sekarang.

  4. Bahasa Malay memang hancur bin lebur bung! tidak ada karakter kalau saya boleh menyebutnya demikian, dan orang melayu mengakuinya sebagai bahasa rojak. masalah lagu yang jelek ke malay, masih tidak sejelek lagu mereka sendiri, so…Sirik Tanda Tak Mampu itu memang istilah yang terbukti dan satu lagi para pelajar dari eropa yang belajar di malay sebelumnya sudah harus mengambil mata kuliah bahasa Indonesia di Eropa sana, BUKAN BAHASA MELAYU BUNG!…anyway, memulai penggunaan bahasa Indonesia di bidang teknologi informasi sudah bisa dengan instalasi paket bahasa Indonesia pada sistem operasi dalam komputer anda.

  5. pastilah lw yang lebih tau soal itu Mbo. Gw dengar soal bahasa melayu wajib itu dari kawan juga, katanya karena takut kepunahan bahasanya sendiri. Terimakasih buat informasinya kawan.

  6. It’s all Greek to me…hehe…(entah apalah artinya)

  7. : D

  8. Saranku, judulnya diganti jadi “bahasa campur aduk dan kelas sosial”

  9. wajarlah bahasa indonesianya campur-campur,lawong orang indonesia aja pemikirannya juga gak jelas,semua yang dari luar (Barat) diambil tanpa ditelaah dulu mana yang benar dan yang salah karena emang kita sendiri gak punya standart pemikiran/prinsip yang jelas.

  10. hehehehe..apalagi di TV tom, yang notabene (ini ind apa inggris?)udah dijadikan kiblat banyak orang yang ingin dianggap ‘tahu’ dan ‘maju’..wong kalo kita beli sesuatu aja udah pake bahasa cash or credit..mungkin agar maksudnya lebih cepet, cuman yang ada banyak orang melongo bingung..pdhl kan lbh gampang bilang tunai atau kartu kredit..jadi gak kasih pengelasan 2 kali..btw..lek da;am diskusi pake 2 bahasa, indonesia dan jawa, itu juga termasuk bahasa indonesia campur aduk yo?? padahal seru cuk..lek diskusi ditambahi boso jowo..hahahahahahaha

  11. Orang lebih cendrung menggunakan bahasa yang komunikatif menurut standar mereka. sehingga sering melalaikan kebakuan bahasa Indonesia sendiri. akhirnya bahasa Indonesia menjadi terasing di negerinya sendiri.

  12. Didiek : Ganti judul? usul yang bagus, gw pertimbangin nanti kalau gw mau kirim ulang ke ruang lain. makasih kawan.

    Marina : Sebetulnya kita punya, tapi awalnya ditelantarkan, akhirnya terpencar dan sekarang lenyap dari aktifitas kultural kita hingga saatnya kita betul2 merindukannya kita harus menggali dan mencarinya lagi. Dan ketika kita terlalu banyak menelantarkan suatu hal, apa saja sifat hal tersebut, ketika saatnya hal-hal itu betul2 dibutuhkan lalu kita mencarinya kita tidak akan menemukan semuanya karena sebagian telah lenyap. Banyak contoh, dari hal yang berhubungan sampe analogi2 terkecil- bekerja dengan prinsip yang persis seperti itu. Karena itu kita harus cari sebelum terlambat.

    Tomy : Tom dipanggil Nelly

    Nursalim : Bahasa telah kehilangan arah tujuan dan manfaatnya. Kecuali kepura-puraan. Dizaman ini, sulit sekali kita menemukan kejujuran, sekalipun era ini era pembebasan berpendapat namun yang terjadi pengekangan pendapat. Karena kita selalu menantikan applaus dan tepuk tangan riuh dari orang-orang sekitar atau pengakuan lain, dan kita menjadi semakin berpura-pura, semakin jauh dari kebenaran juga semakin jauh dari kehidupan. Hidup memang senda gurau, tapi bukan sandiwara, karena disini yang terbaik tidak memerankan apapun selain fitrahnya sebagai manusia, khalifah dimuka bumi, yang diutamakan bukan indeks prestasi atau penumpukan harta karun yang dipertontonkan, yang diutamakan adalah kebenaran dan kebaikan.

  13. khawatirnya, mereka itu cuma ingin dianggap bisa bahasa asing, atau ingin dianggap prnah tinggal di luar negeri, walupun cuma di brunai atau timor leste karena transit. semoga segera insyaaaaf.

  14. ya itulah kado istimewa untuk ultah ke-200 kebangkitan nasional.

  15. ko kaya gitu

  16. ya, gara-gara gempuran bahasa indonesia yang amburadul, bahasa moyang gue hampir lenyap di daerah gue sendiri.
    yah itu trend remaja masa kini, mungkin dengan berbahasa indonesia yang campur aduk bahasa asing dan ditambah istilah-istilah mereka sendiri dipersepsikan sebuah hal yang bisa menguatkan jati diri dalam pergaulan. moderen abis metode berpikir remaja sekarang.

    gebleg. bahasa nasional jadi hancur, bahasa regional jadi punah.

    what the fuck is it? alahmak.

    by the way, bush way, alah way, gue remaja juga lho, kwowkwowkwowk.

  17. Aku agak sedikit setuju dengan tulisan bung dion ini. Tapi lebih baik mencaoba daripada tidak sama sekali.. Menurut saya tulisan ini terlalu subjektif, memang ada beberapa orang yang bangga dengan keahlian bahasa inggrisnya tetapi tidak semua orang…. nilai aja sendiri, klo kau gimana nyampur2 jg ga?

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.