stopgoblog

Pancasila Kita

In Esei on Februari 3, 2008 at 4:42 am

Lagi sore sore, kami ngobrol ngobrol soal Soekarno kecil-tokoh yang tak sempat kami lihat langsung itu. Kami sampai pada masa ia masih bernama Kusno,
nama yang kelak diganti menjadi Sukarno,
terinspirasi dari ksatria Karna.

Di dalam dalam otobiografinya, konon namanya diganti karena ia sakit-sakitan. Tapi kami akhirnya menemukan faktor lain. Menurut kami, nama Kusno diganti karena kehendak sejarah, sebab kelak,ia akan dipanggil dengan sebutan Bung.

Apa jadinya kalau ia dipanggil ‘Bung Kusno’, orang akan mengira disuruh ‘bungkusno’, kata Jawa yang artinya kira-kira ‘bungkusin’. Coba bayangkan di telinga, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Kusno. Emangnya tukang warung minta di bungkusin es teh!

Menurut kami, itulah sebab ia harus berganti nama.
Inilah temuan sejarah kami. Mungkin temuan sejarah ini dianggap sepele. Tapi ini adalah peristiwa penting di tengah hiruk pikuk kehidupan bernegara kita. Harap dipahami siapa kami.

Kami hidup di awal abad ke-21, di tengah kehancuran kehidupan bernegara. Dulu, Soekarno dan para pemimpin bangsa sepakat mendirikan negara bernama Indonesia. Negara ini tak sekedar berdiri di atas pasir yang rapuh, tapi di atas landasan yang kuat.

Landasan itu kami tahu bernama Pancasila, artinya Lima Sila. Menurut kami, pemikir utamanya adalah Soekarno. Bagi yang pernah membaca Pidato Lahirnya Pancasila oleh Soekarno, maka akan mendapati sila-sila seperti: humanisme atau internasionalisme atau kosmopolitanisme, nasionalisme, demokrasi, keadilan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan. Itulah yang digali oleh Soekarno dan dipadupadankan dengan kecenderungan semangat munculnya paham-paham modern di tengah alam pemikiran dunia ketika itu, gonjang-ganjing ketidakpastian paska Perang Dunia II, tepatnya pada tahun 1945.

Setelah beberapa perumusan redaksional, Pancasila dibunyikan. Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, Persatuan Indonesia. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suatu kali, saya pernah melihat rekaman video bagaimana Soekarno memperkenalkan Pancasila di depan Kongres Amerika. Saya melihatnya melalui situs populer Youtube.com. Dengan gagah dan penuh kharisma dia memperkenalkan bahwa Indonesia berdiri di atas sila-sila: Believe in God, Humanism, Nasionalism, Democracy, dan Social Justice. Di setiap dia mengucapkan setiap sila, para hadirin bertepuk tangan dengan antusias.

Tapi itu dulu. Jauh setelah Soekarno diturunkan oleh gerakan adu domba PKI vs TNI, Pancasila ikut tenggelam. Soeharto, yang menggantikan Soekarno paska pembunuhan besar-besaran atas pendukung Soekarno- entah itu nasionalis mapupun komunis- justru membuat Pancasila menjadi menyebalkan.

Kami mengenal Pancasila melalui upacara bendera setiap hari Senin. Ketika duduk di bangku sekolah dasar (SD), kami diwajibkan mengikuti prosesi upacara yang menyebalkan. Menyebalkan karena tidak membuat kami merasa dekat dengan makna negara, tetapi justru dekat dengan rutinitas dan disiplin tanpa makna. Coba bayangkan, bagaimana kami yang berseragam merah-putih dengan dasi merah dan topi merah putih berdiri di panas terik setiap Senin tanpa tahu apa makna upacara.

Di tengah upacara itulah kami mendengar Pancasila dibacakan. Dan setiap kepala sekolah yang merangkap insprektur upacara itu membacakan setiap sila, kami wajib mengulanginya dengan keras dan tegas. Itulah Pancasila bagi kami. Selain itu, kami pun harus menghafal butir-butir Pancasila, kalau nggak salah jumlahnya 36 (sori kalo keliru, abis udah lama bro!).

Bagi kami, itulah Pancasila di jaman Presiden Soeharto. Tapi ketika saya duduk di kelas akhir sekolah menengah pertama (SMP) di tahun 1998, Soeharto pun jatuh. Saya melihatnya melalui televisi bagaimana ia membacakan surat yang menyatakan ia memutuskan berhenti sebagai presiden. Sejak itu saya tahu bahwa seorang presiden bisa memutuskan untuk berhenti. Sebelumnya saya pikir seorang Presiden tidak boleh memutuskan berhenti di tengah jalan.

Sekarang, ketika saya masih duduk di bangku kuliah, Soeharto meninggal dunia. Orang-orang banyak membicarakannya. Tapi saya belum mendengar orang-orang membicarakan kembali Pancasila. Padahal menurut saya, kehidupan bernegara bergantung pada bagaimana setiap warga negaranya menjalankan sila-silanya.

Entahlah. Yang saya rasakan adalah kita tak lagi berdiri di atas Pancasila. Kita seakan-akan di atas ‘Keuangan Yang Maha Esa’, sebab semua orang terlihat menyembah, memuja dan mencari uang, uang, dan uang. Kita seakan-akan berdiri diatas sila ‘Kemanusiaan yang Kerdil dan Biadab’, sebab begitu mudahnya orang Indonesia saling membantai dan menyerang hanya karena berbeda keyakinan dan kepercayaan. Kita seakan-akan berdiri di atas dasar ‘Persatean Indonesia’, meminjam istilah pendiri negara Moh. Hatta, sebab untuk menyatukan bangsa ini kerapkali sering harus main tusuk seenaknya sehingga banyak yang terpaksa ikut. Kita seakan-akan berdiri di atas ‘Kerajaan yang dipimpin oleh khianat kemunafikan dalam persekongkolan/perselingkuhan’, sebab seringkali kehendak rakyat dikhianati oleh perselingkuhan antara partai-partai politik. Kita seakan-akan berdiri di atas sila ‘kesenjangan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ sebab begitu lebarnya jarak antara perikehidupan kaum tak punya (The Have Not) dan kaum berpunya (The Have) di negeri ini. Itulah Pancasila kita sekarang.

Mungkin, membicarakan Pancasila terasa membosankan buat kebanyakan generasi kami. Seakan-akan tidak ada gunanya. Entahlah, saya sendiri mungkin merasa tidak ada gunanya menuliskan soal Pancasila. Namun saya harus jujur bahwa kadang saya teringat pidato Soekarno yang menyatakan bahwa ‘Indonesia, berbeda dengan negara-negara lain, bahwa Indonesia adalah negara yang membawa ajaran!’. Bagi saya, Pancasila adalah ajaran itu.

Memang, seakan-akan negara ini lebih baik dibubarkan saja. Tetapi, kalau dibubarkan, maka ajarannya ikut hilang. Rakyat sendiri, menurut saya, tidak terlalu memusingkan apabila negara ini bubar atau tidak apalagi kalau melihat kelakuan pemimpinnya yang hanya memikirkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi/kelompok/golongannya semata. Tapi apabila mengingat ajaran-ajaran yang dibawa oleh Soekarno, juga Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Yamin, dll, maka alangkah ironisnya negara ini hancur tanpa sempat membuktikan bagaimana Pancasila betul-betul terasa di hati terdalam rakyatnya alias warga negaranya.

Mungkin, saat saya menulis, di tempat lain sedang ada skenario besar untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan, entah itu melalui Pemilu atau tidak. Saya cuma mau bilang, bahwa mereka yang tidak menghayati atau menghidupi ajaran-ajaran para pendiri negara ini lebih baik sadar diri. Orang yang cuek dengan ajaran itu artinya ‘kurang ajar’. Orang kurang ajar itu bisa dihajar lho. Rasanya pasti sakit, apalagi apabila dihajar oleh kekuatan massa rakyat dan sejarah sekaligus.

Maka marilah berhati-hati dalam keterlibatan soal kehidupan bernegara. Berhati-hati, maksudnya, marilah menggunakan hati kita sebanyak dua kali. Jangan sekedar mengandalkan nafsu kekuasaan.

Tomy DG

  1. yup…benar sekali ….
    bukan cuma dalam kehidupan bernegara
    tapi dalamsemua aspek kehidupan…

    HATI harus digunakan …….!!

  2. untuk mencintai pancasila, tak perlu lihat soehartonya.
    pancasila itu adalah kearifan loka bangsa, jauh sebelum gajah mada memulai penjajahan di nusantara sekalipun.

    pancasila adalah sebuah konsepsi yang universal. soeharto lah yang menjadikan pancasila menjadi dagelan.

    pukimak lah!

  3. at last…nulis juga kamu…
    berubah ya berubah bro,…
    tapi nulis blog jalan teruzzz, okay..

  4. pancasila tidak membumi sebab itu produk klaim dari 60 orang anggota BPUPKI. yang tidak mencerminkan suara seluruh rakyat. sebab sangat lucu sila pertama yang bernuansa agama harus berelaborasi dengan sila lainnya yang lebih membutuhkan sekulerisme dalam implentasi pelaksanaan. terbukti dasar negara ini menjadi polemik sampai tahun 1959, dalam sidang -siang konstituante.
    hanya kolaborasi sukarno dan nasution pancasila dijadikan dasar negara tanpa ada yang berani mempertanyakan. dan konsep pancasilanya sukarno lebih cocok untuk diplomasi politik negeri indonesia.
    Ali murtopo selaku aspri presiden suharto pernah memberi masukan kepada presiden. bahwa indonesia bukan negara agama, akan tetapi juga bukan negara sekuler, tapi negara pancasila.
    oleh karena itu dalam menjalankan pemerintahan dua elemen tersebut harus ada yang dikobarkan. berhubung pemilu 1971 aceh yang mayoritas islam, partai islam menang dan maluku yang mayoritas kristen partai yang berbasis kristen menang, mulailah kelompok keagamaan baik itu islam, kristen “dianiaya” secara politik. parkindo, partai katolik yang cukup agamis disuruh bergabung dengan PNI, IPKI yang sekuler serta Murba yang rada-rada sosialis(Pendirinya kan tan Malaka).
    nah, kalau api dan air digabung apa yang terjadi? ya bentrok melulu.
    sementara kelompok islam yang secara kultural telah dipecah-pecah oleh Konsepnya Snouck Hournye sulit menerima penyatuan. dan mereka dituding dibelakang Komji(komando Jihad), dan kelompok islam merasa teraniaya secara politik pada waktu itu. sementara yang menikmati kekuasaan banyak dari kalangan sekuler, sehingga permusuhan antara islam dan seluler cukup meruncing. bahkan sampai saat ini. dan semuanya sama-sama mengklaim memiliki hak sejarah untuk paling benar atau paling pas menjalankan pancasila.

    jadi ajaran yang pas negara ini adalah membuang salah satu dari sekulerisme atau agama. kalau buang sekulerisme berarti eka sila, kalau buang agama berarti catur sila.

  5. Indonesia memang bukan negara agama, juga bukan negara sekuler. Tapi negara yang bukan-bukan, hehe3.. Keren kan jadi warga negara yang bukan-bukan. Daripada jadi negara buka-bukaan, kan lebih bagus jadi negara yang bukan-bukan.

  6. haha… . lucu paling klo pres kita yang pertama dipanggil “bung kusno”. ati2 tom bisa2 km dianggep menghina.hehehe… .

    yo wis, numpang mampir kok. kapan2 ae komin yang nggenah… .

  7. Siapa bilang hari ini pancasila tidak perlu lagi diperdebatkan. Ditengah arah bangsa yang saat ini sedang tidak bertujuan, justru kita para generasi muda wajib kembali menhadirkan perdebatan tentang Pancasila. Marilah kita belajar untuk jujur, sebenarnya tepat atau masih relevankah kita menjadikan Pancasila sebagai, satu2nya tujuan hidup bagi bangsa yang sudah berumur lebih dari setengah abad ini. Karena tentu saja banyak anak muda di negri ini yang memiliki warna idiologi yang beragam. Dari demokrasi liberal sampai pada pemuja pasar, dari humanisme sampai kepada komunis anarkis, dari religius moderat sampai kepada sektarianisme chauvinis. Jadi menurut saya inilah saatnya kita membenturkan Pancasila dengan berbagai macam idiologi yang berkembang di alam pikiran anak2 muda negri ini. Dan mari kita lihat seberapa besar kesaktian Pancasila ditengeh serbuan idiologi2 yang berkembang di negri ini. Dan dari sini lah mungkin kita baru bisa menentukan masih relakah negri ini ditentukan arahnya oleh Pancasila. Atau jangan-jangan memang Pancasila hanyalah sekedar ephoria dari pada para pendiri negri ini yang baru saja lepas dari belenggu penjajahan. Mari kita berdebat kawan, karena perdebatan adalah salah satu jembatan keledai menuju pencerahan berfikir.

  8. dunia itu2 saja. perkembangan ideologi itu cuma perubahan bunga gaya tapi kuda2nya tetap sama. Perjuangan kelas masyarakat itu bukan terjadi dan dimengerti sejak Marx saja, bahkan perjuangan kelas sudah dipahami sejak penuntutan pembebasan Yahudi dari perbudakan Firaun oleh Nabi Musa dan pengklaiman bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan, bahkan di masa yang jauh lebih lama dari itu. Marx dan sosialisme dan polemik kelas sosialpun bukan sesuatu yang baru, dan perjuangan untuk menyatukan itu dimata Allah mengajarkan kepada mahluk bahwa harusnyapun manusia sama dimata sesama manusia.

    Karena itu serbuan ideologi2 dan pemikiran baru sekarang ini sebetulnya cuma lompatan2 dari ekstrem kiri ke kanan yang ada sejak dulu, kaum adat dan kaum agama, kaum santri dan kaum abangan, partai pariche dan sadducce atau demokrasi liberal dan demokrasi sosialis, pemerintahan dan tanpa pemerintahan (anarkis, balik kezaman komunitas2 purba kala dulu), itu sudah ada sebelumnya namun hanya muncul dengan nama dan logatnya baru. Namun topiknya masih itu ke itu aja.

    Nah, yang harus kita lakukan justru menghubungkan keterkaitan sejarah bangsa dengan pancasila, seperti hujan deras bilang. setelah itu mencari bentuk2 terserapnya nilai2 tersebut selama kelangsungan bangsa Indonesia. Baru menyimpulkan bagaimana masa depan kita dengan pancasila setelahnya.

    Perlu ada poswacana ni Tom, bagus tulisannya tapi belum selesai kawan.

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.