Di dalam blognya, (http://meontology.blogdrive.com),
Dr. Boas Boangmanalu mengajukan pernyataan menarik:
mengapa buku-buku Karl Marx penting dan perlu dibaca?.
Saya memiliki beberapa alasan untuk menjawab mengapa
buku-buku Marx penting & perlu dibaca. Alasan-alasan
itu saya tuliskan dibawah ini.
Marx Penting Dibaca
Buku-buku Karl Marx penting dibaca, sebab pemikirannya
lahir penuh ketajaman dan kedalaman serta keluasan
sebagai suatu antitesa dari tesa filsafat liberalisme
yang melahirkan kapitalisme sebagai suatu sistem
ekonomi-politik di periode abad ke-19 dulu.
Liberalisme ketika itu merupakan penerapan paham yang
dicetuskan oleh Adam Smith, sebagai antitesa dari
paham ‘kapitalisme-intervensi negara’ atau yang
dikenal sebagai merkantalisme.
Ketajaman pemikiran Marx bisa kita baca secara
meyakinkan dalam Kapital (I-III), yang membedah
bagimana nilai pakai komoditi menjadi uang, kemudian
uang berubah menjadi kapital, dan kapital menjadi
kapitalisme. Dan setiap proses perubahan itu ternyata
penuh dengan penindasan, mulai dari nilai pakai
komoditi menjadi nilai tukar (setelah melewati waktu
kerja), kemudian pekrja itu sendiri tak mendapatkan
bayaran setimpal sesuai waktu yang dihabiskannya untuk
berproduksi akibat diambil begitu saja sebagai nilai
lebih oleh kaum pemilik alat produksi (kaum borjuis).
Kelak, nilai lebih ini terus berakumulasi menjadi
kapital, dan kapital ini pun berakumulasi pula yang
nilainya diambil oleh para pemilik kapital, atau kaum
kapitalis. Dan Karl Marx pun membedah dengan tajam
bagaimana sistem akumulasi tadi melahirkan kelas-kelas
dalam masyarakat. Hal ini membuat Marx maju beberapa
langkah, karena mampu memasukkan pisau bedah tinjauan
ekonomi-politik ke dalam perut stratifikasi sosial
masyarakat melampaui teori-teori sosiologi yang pernah
ada sebelumnya di zamannya dulu.
Kedalaman pemikiran Marx bisa kita baca secara
meyakinkan dalam karya-karya seperti Tesa-tesa Atas
Feuerbach, yang mampu menyelami permasalahan tua nan
berkarat di dalam dunia pemikiran yaitu pertentangan
antara idealisme versus materialisme. Marx menekankan
bahwa pandangan yang menganggap seakan-akan ada
dualisme antara idealisme versus materialisme bisa
diakhiri melalui tindakan ajaib yang disebut sebagai
‘praksis’. Karena disatukan ‘praksis’, antara
idealisme dengan materialisme tak bisa lagi disebut
sebagai dualisme, tetapi sebagai ‘dialektika’. Sekali
lagi, pandangan ini memecahkan permasalahan tua nan
berkarat yang dipusingkan oleh pemikir-pemikir
filsafat sebelum Marx. Katanya, ‘Tindakan pemahaman
adalah suatu tindakan sosial, yang bersifat praktis’.
Tak cukup dengan itu, ia mengajak (sekaligus mengejek)
para pemikir itu bahwa sudah cukuplah para filsuf
sibuk menafsirkan dunia, yang perlu adalah
mengubahnya.
Keluasan pemikiran Karl Marx bisa kita baca secara
meyakinkan sejak Marx Muda menuliskannya di dalam
Naskah-naskah Ekonomi-Politik 1844 (Naskah-naskah
Paris). Naskah-naskah tersebut, yang diterbitkan
setelah ia meninggal, yang merupakan tulisan-tulisan
awal yang kental akan prinsip-prinsip moral humanis.
Dari tulisan-tulisan tersebut kita dapat meletakkan
titik awal berangkat melalui pembacaan ketat tentang
bagaimana ia membangun kapal humanisme sebelum kelak
meluaskan penjelajahannya melalui samudera
hakikat materialisme-historis, sampai di pulau-pulau
hukum-hukum perkembangan dan tranformasi sosial.
Naskah-naskah Paris berisi tentang hubungan atau
relasi antara manusia dengan kerja (kelak
dikembangkannya secara menawan dan tajam dalam
Kapital) hingga keterasingan atau alienasi manusia
dalam masyarakatnya.
Marx Perlu Dibaca
Buku-buku Karl Marx perlu dibaca pada abad ke-21 ini,
sebab pemikirannya masih mampu untuk membedah krisis
kapitalisme global yang sudah kita rasakan di tahun
2008 ini (melalui tinjauan deterministik
ekonomi-politik). Pemikiran Marx juga masih mampu
membedah krisis keterasingan manusia di dalam
masyarakat konsumsi abad ke-21 di negara dunia ketiga
seperti Indonesia, yang bisa kita tinjau melalui pisau
bedah cara-cara produksi dan fetisisme komoditi.
Sebagai anak muda Indonesia, saya berpendapat bahwa
buku-buku Marx sangat perlu dibaca apabila kita butuh
untuk membedah lahirnya negara Indonesia paska PD II
di abak ke-20 lalu, melalui kacamata
materialisme-historis. Indonesia-sejak ia masih
merupakan ratusan suku-suku yang tersebar lalu
menjelma kerajaan-kerajaan hingga menjadi negara
kolonial hingga negara merdeka yang modern- ternyata
masih tak sepenuh bertransformasi secara sosial.
Maksudnya, kita masih menjumpai feodalisme di sebuah
negara yang saat ini sudah menerapkan liberalisme baru
di dalam sistem perekonomian kapitalisnya. Kita juga
masih menjumpai bagaimana cabang-cabang produksi
penting dimasukkan sebagai proyek liberalisasi, namun
yang menguasai alat-alat produksinya bukan kaum
borjuis nasional, namun kaum borjuis transnasional.
Fenomena seperti diatas membuat kita butuh untuk
membaca Marx dengan kritis. Artinya, kita tak perlu
menganggap bahwa pemikiran Marx sebagai sesuatu yang
final dan absolut, namun perlu dikembangkan sesuai
dengan apa yang berlaku di tanah air ini. Dalam
kesempatan ini pula, saya berharap agar kita-sebagai
anak-anak muda calon pemimpin masa depan negeri dan
dunia, untuk melanjutkan tradisi agung yang sudah
dimulai oleh para pendiri negara ini. Kita bisa
melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh Soekarno,
Hatta, Syahrir, dll. Mereka membaca dan mempelajari
pemikiran-pemikiran Karl Marx, dan mengembangkannya
untuk konteks bumi pertiwi tanah airnya ketika itu.
Maka lahirlah konsepsi seperti marhaenisme ala
Soekarno atau koperasi ala Hatta. Mereka mempelajari
pemikiran Marx tanpa membabi buta menganggapnya
sebagai dogma yang absolut.
Sebagai penutup, saya menyimpulkan bahwa buku-buku
Marx penting dan perlu dibaca agar kita bisa
menghayati mengapa Marx sampai berkata, “Saya bukan
seorang Marxis“.
Perkataan ini kelihatan sebagai canda, namun
sesungguhnya ilmiah.
Maka, mari membaca dan mempelajari pemikiran Karl Marx!
Tomy DG
kayaknya kalo yang ngajarin tomy, apapun tentang marx jadi keliatan sedikit lebih mudah ya…
udah khatam baca kapital siyy.
jgn lupa kuliah ya…nanti fans2mu kecewa lo….
klo menurutmu, marx itu gimana tom?
Menurutku, Karl Marx itu punya visi mengubah dunia supaya jadi lebih baik. Dalam bahasa sederhana, dia paling nggak suka sama dua hal: penindasan dan keserakahan. Singkatnya, dia nggak suka sama satu hal: ketidakadilan. Sebenarnya keresahan Karl Marx sama dengan keresahan banyak orang, sama-sama merasa ketidakadilan harus diakhiri. Yang membedakan Marx dengan banyak orang, dia nggak tinggal diam. Ketidaksukaannya diekspresikan melalui aksi dan pemikiran yang rasional. Dan dia berani berkorban.
Sebenarnya banyak tokoh-tokoh yang juga tulus seperti Marx di dunia. Di Indonesia juga banyak. Juga banyak manusia yang jauh lebih besar pengaruhnya di dunia ini dibandingkan Marx. Kadang orang terlalu takut terhadap ‘nama’ marx atau marxisme, padahal pengaruhnya tidak perlu terlalu dianggap seakan-akan semacam jadi dewa.
Pemikiran Marx soal negara juga penuh keterbatasan. Misalnya, pandangan deterministik ekonomi yang dituliskannya ternyata dapat menjerumuskan suatu sistem kenegaraan juga punya potensi penuh penindasan dan keserakahan. Contohnya di Uni Sovyet.
Aku pribadi setuju sama pandangannya soal dialektika idealisme/materialisme melalui praksis, analisis ekonomi-politiknya tentang kapitalisme, juga moral humanismenya. Untuk yang lain-lain aku belum mampu untuk setuju.
mungkin saatnya mengubah karya max, kedalam sebuah bentuk cerita, agar mudah dipahami oleh anak-anak balita seumuran saya…. bagaimana bung tomy? apakah anda siap akan tantangan saya? karena saya lihat anda sangat mampu membaca dan memahami buku marx das kapital—-yang setebal bantal itu. huuuhh ruarrr biasaaa…
kalo ada yg mau jual buku sekitar karl marx hubungi aku
sakran 085226757777
setuju, setuju, setuju!
kalo aku sih sederhana saja, bung Tom. Marx membuat hidup jadi lebih indah!TABIK…
Tak cukup dengan itu, ia mengajak (sekaligus mengejek)
para pemikir itu bahwa sudah cukuplah para filsuf
sibuk menafsirkan dunia, yang perlu adalah
mengubahnya.
itulah salah satu ciri pemikiran materialisme marx, menurut saya. Ketika seseorang menafsirkan sesuatu, maka jalan pikiran kita akan sesuatu itu akan terpengaruh, sesuai keyakinan kita. Oleh sebab pengaruh itu, tindakan kita akan berubah dan kita akan melawan. Sebagai contoh yang konkret, jika kita menafsirkan seorang Luna Maya, ada yang mengatakan dia baik menurut argumen2 mereka dan ada yang mengatakan dia kurang baik, menurut argumen mereka pula. Dan tentunya orang yang menganggap Luna maya baik tentunya akan bersikap berbeda dengan yang menganggap Luna maya kurang baik. Jadi penafsiran akan merubah jalan pikiran kita, menurut keyakinan kita. Lalu akan merubah tindak kita terhadap yang ditafsirkan. Jadi menurut saya, perkataan marx tersebut adalah representasi pemikirannya sebagai tokoh materialisme yang mempercayai kepada bentuk2 yang nyata saja. Berbeda dengan plato ataupun Syariati dan para pemikir idealisme lain.
benar bung Tom! Tapi ingat, keadilan seperti apa yang diinginkan oleh marx, prosesnya, implementasinya serta dampak yang ditimbulkan. Itulah yang perlu dan layak kita layari. Bukan hanya marx, anak kecil sekalipun pasti tidak suka dengan penindasan dan ketidak adilan.
Disatu sisi ada baiknya kita mempelajari dan menghayati tulisan-tulisan marx serta tafsiran2nya entah apapun itu, tetapi disisi lain ada yang lebih penting yaitu sampai sejauh mana kita dapat berbuat dan bertindak untuk mewujudkannya.
Boong besar itu semua…
Hidup Suharto……
Hidup SBY..
Hidup Barack Obama..
Mari kita dukung petinggi2 kita, dan menjadi bagian dari meraka. Bumi hanguskan orang2 lemah dan tak berdaya maka kedadilan yang dicita-citakan marx mungkin akan terjadi.