stopgoblog

Arjuna Di Dalam Dan Luar Kampus

In Esei on April 13, 2008 at 1:14 pm

Ada satu esei Goenawan Mohammad yang saya suka. Judulnya, Arjuna Di Kampus, ditulisnya di periode awal tahun 80-an. Esei itu dibuka kisah Dorna mengajar para ksatria kecilnya. Mengajar memanah burung kutilang di atas dahan pohon.

Dorna menyuruh mereka membidik lalu bertanya, “Apa yang kalian lihat?”. Muridnya semua menjawab sama, “Seekor burung kutilang di atas dahan”. Hanya seorang Arjuna yang agak berbeda. Sambil memicingkan mata membidik, ia menjawab, “Hamba melihat leher seekor burung kutilang, Guru”. Agak berbeda, tapi sebenarnya pertanda kelas yang berbeda, bagai langit dan bumi.

Esei yang ditulis sebagai catatan pinggir di majalah Tempo itu sebenarnya berkisah soal kehidupan mahasiswa di dalam kampus yang di-’stabil’-kan rezim diktator Jenderal Soeharto. Akibat Daoed Joesoef dan Noegroho Notosoetanto yang kepingin mahasiswa itu mengarahkan perhatian hanya dan hanya kepada studi akademis di dalam kampus. Tanpa “berpolitik praktis”.

Pada tahun 1978 lalu, kampus diatur menjadi instrumen penghasil makhluk penganalis. Dalam bahasa Daoed Joesoef, mahasiswa adalah makhluk penganalisis (man of analysis) dan bukan makhluk rapat umum (man of public meeting). Rapat umum yang dimaksudkannya adalah semacam aksi besar-besaran yang diorganisir dema-dema (dewan mahasiswa) dari berbagai kota.

Untuk meredam aksi tersebut, maka dibentuk badan koordinasi kemahasiswaan yang mengendalikan kampus melalui pembantu rektor bidang III (kemahasiswaan) di tiap-tiap kampus tersebut. Koordinasi dikendalikan oleh badan koordinasi stabilitas nasional/daerah, atau bakorstanas/da. Semua dema dibubarkan. Dan aktivis-aktivis yang berani membangkang ditangkap.

Tak cukup dengan itu. Dimulailah sistem kredit semester (SKS), yang bertujuan membuat mahasiswa lebih ‘fokus’, dengan membatasi waktu studi di dalam kampus. Motif ini, menurut saya, adalah murni politis. Karena memang terdapat para penggerak aksi dan berpikir kritis di dalam kampus adalah mahasiswa yang usia studinya sudah belasan atau bahkan puluhan tahun.

Mereka ingin mahasiswa fokus. Seperti sang teladan dalam seni memanah, bagai arjuna yang fokus di dalam kampus. Tapi mungkin persoalan yang mendasar adalah mereka terlalu menyederhanakan permasalahan.

Apabila mereka ingin tahu mahasiswa itu makhluk apa, maka pahamilah arjuna. Hadirkanlah arjuna dalam imajinasi. Memang susah mengajak kaum konsercatif untuk untuk menghadirkan sosok seperti arjuna. Karena arjuna tidak sama dengan uang atau kekuasan. Kaum birokrat-akademis hanya piawai membayangkan uang dan kekuasaan. Tak lebih. Kalau mereka punya daya yang kuat dalam imajinasi, mereka akan tahu bahwa arjuna adalah sebentuk imaji. Mahasiswa pun adalah sebentuk imaji.

Mahasiswa bukan sekedar makhluk analisis. Bukan sekedar makhluk rapat umum. Bukan sekedar makhluk megafon dan spanduk protes. Mahasiswa bukan sekedar makhluk. Ia adalah imaji. Imaji yang disebut manusia, Citra dari Yang Maha Pencipta.

Maka, kaum birokrat-akademis tidak bisa memandang mereka sebagai mutlak makhluk di dalam kampus. Mahasiswa juga makhluk di luar kampus. Arjuna di dalam dan luar kampus. Karena itu, mereka berhubungan dengan bharatayuda di dalam dan luar kampus. Padang kurusetra mereka adalah semesta tempat pertempuran baik dan jahat, bukan sekedar kelas yang temboknya bercat putih dengan papan tulis hitam.

Manusia juga terlibat dalam pertempuran politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Suka atau tidak suka, kita semua berada di dalam padang kurusetra. Suka atau tidak suka. Kampus bukan semesta absolut, itu sebabnya manusia-manusia di dalamnya terikat dengan tarik-menarik kepentingan yang membuat segalanya menjadi relatif. Tidak bisa main asal pukul rata.

Misalnya, dalam konteks pertempuran ekonomi. Apabila terjadi krisis ekonomi-politik seperti sekarang ini, maka mahasiswa pun terkena dan terseret-seret. Harga-harga yang naik melambung, korupsi yang merajalela, kekerasan fisik dan psikologi di dalam dan luar kampus, semuanya itu menyeret mahasiswa. Menyeret untuk berpikir, bersikap, bersuara, berkumpul, dan beraksi. Hal yang sama juga bisa terjadi bagi para pelajar sekolah menengah dan pekerja profesional, buruh, petani, nelayan, dan lain-lain.

Saya sendiri tak berani mendefinisikan mahasiswa secara mutlak. Saya hanya berani menyebutnya sebagai arjuna di dalam dan luar kampus. Saya hanya berani membayangkan saja, atau mengisahkan sebagai sebentuk narasi. Mungkin akan lebih baik kalau saya menutup tulisan ini dengan suatu narasi fiksi. Tentang Arjuna sepulang dari pelajaran memanah.

Sepulang dari pelajaran membidik burung kutilang di atas dahan pohon, para ksatria kecil berjalan beriringan disebelah gurunya, Dorna. Tiba-tiba lewat perempuan yang kecantikannya bagai seorang dewi turun dari kahyangan.

Semua orang terpesona, dan Dorna tiba-tiba menguji pandangan murid-muridnya. Katanya, “Anak-anak, apa yang kalian lihat?”. Mereka memicingkan mata dan jawabannya berbeda satu sama lain. Ada yang menjawab melihat ‘bibir bagai delima’, ‘rambut sehitam langit malam yang hangat’, ‘mata yang seindah rembulan’, ‘jenjang kaki yang gemulai’, ‘payudara bagai gunung’, dan lain-lain.

Hanya Arjuna yang sedari tadi membuka matanya lebar-lebar, menjawab tanpa berkedip, “Hamba melihat seorang perempuan yang kecantikannya bagai seorang dewi turun dari kahyangan, Guru”.

Tomy DG

  1. hehe, mahasiswa itu memang imaji yang dikonstruksi untuk mengejar citra-citra mati yang ga pernah berhubungan dengan realitas manapun. Citra indeks-prestasi sebuah dasar logika akumulasi kapital dan total kualitas, citra sarjana dan nama-nama belakang imaji tentang superioritas diri dan mimpi-mimpi profesionalitas, seharusnya semua orang balik ke monasteri, balik ke madrash, balik ke surau, balik ke pesantren, balik ke tokoh-tokoh masyarakat, balik ke alam, balik ke bumi, balik untuk membaca qalam yang ada di jagad raya ini.

    Tapi segala wajib belajar dan urusan kampus ini sebetulnya sebentuk kacamata kuda yang diberikan pada rezim. Dan imaji yang ditanamkan tentang hubungan antara kampus sebagai pabrik citra dan relevansi citra yang diberikannya dalam masyarakat telah menjadi kepercayaan yang berkerak dimasyarakat.

    Tapi kita harus toleran, satu2 diselesaikan setidaknya untuk sekarang ini Mahasiswa harus mampu melihat bahwa mereka adalah manusia yang belajar, ruang kelas mereka bukan kampus, bukan bumi, tapi jagad raya yang penuh kebesaran dan misteri ini. Bukan dosen penguji yang menilai kualitas kita, tetapi Allah dan segenap mahlukNya yang ada di-alam ini dari apa yang bisa mereka berikan untuk kebaikan mereka semua.

    Dan semua orang kelak menjadi siswa, setelah itu menjadi mahasiswa. Ketika mereka menjadi Mahasiswa mereka tidak akan pernah berhenti jadi Mahasiswa selama mereka masih mau belajar dalam hidup ini.

    Bagus tulisan lw Tom.

  2. jikalau begitu
    seharusnya kampus institut
    selayaknya diubah menjadi univesiteeiitt..!!! bukan ??

    salam -Rama-

  3. Tres, kon iku memang cocok jadi aktor ramayana.
    Tapi yang jadi hanuman.

  4. hahaha…

    aku lebih cocok jadi rama…

    kamu aja yang jadi hanuman.

  5. Wes ta Tom ngalah ae, koen ngerti kan Hanuman nek ngamuk yaopo

  6. kira-kira kalo arjuna-nya suka bolos, gimana sikap dorna ya? apa arjunanya disuruh gantian jadi target buruan??? kqkqkq…;-]

    terusss, kalo yang lewat waktu itu bukan cewek cantiq??
    tapi cewek gemuk gimana ya??? bukan bidadari,…tapi….bida%$&$*%$#@^$

    wes2, ampun2….pisss bro!!^_^

  7. klo mhs nurut semua kan bagus tom. semua cepet lulus g ada yang kul lama2. dosennya bosen liat qta.hahahahaha… .

  8. …………???

  9. wah gimana jadinya kalo Hanoman dan rahwana masuk kampus barengan ya…?
    Pasti terjadi huru hara dimana-mana.

  10. Somehow i missed the point. Probably lost in translation :) Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Snaffle.

All comments are screened for appropriateness. Commenting is a privilege, not a right. Good comments will be cherished, bad comments will be deleted.