Dongeng-dongeng menghiasi kehidupan dan sejarah manusia seperti lukisan dan pahatan-pahatan yang bergelantung pada dinding-dinding peradaban, mereka adalah buah dari masa, adalah parodi sebuah perjalanan peradaban dan manifestasi dari kekuatan imajinasi. Banyak peran keturut andilannya dalam sejarah pemikiran dan persepsi kita, baik untuk pembelajaran sejarah yang berlalu, realitas yang ada sekarang dan harapan serta ketakutan visioner kita untuk masa depan. Sebab dongeng merupakan refleksi dari cita-cita, idealisme, ketakutan, hirarki, nilai dan segala elemen lain yang ada dimasyarakat, dia adalah fiksi yang diharapkan nyata sehingga dapat menjadi contoh moral, ataupun kenyataan yang difiksikan agar monumental dan menarik. Dari-hal tersebut dapat disimpulkan kalau dongeng mempunyai geopolitiknya sendiri sesuai dengan sejarah masyarakat tempat kelahirannya karena dongeng adalah bagian dari budaya dalam satu sisi, sedang disisi lain dongeng juga menjadi cermin tempat berkacanya budaya itu sendiri agar mengenali siapa dirinya dan akan jadi apa dirinya kelak, hal ini memperjelas ikatan dongeng terhadap ruang, keberadaan, kreasi massa dan waktu. Bisa saja dia berwujud seperti sebuah kritik budaya terhadap dominasi paternal misal saja terhadap : kebebasan menikah dan memilih identitas kemasyarakatan, bisa juga menjadi sebuah parodi realitas kekuasaan pada zamannya, atau sebuah dogma hiburan bertema kepahlawanan yang dimisikan untuk melanggengkan hirarki atau sebuah kebiasaan secara terselebung, sedang penyelubungan tersebut juga banyak yang dikembangkan dengan berbagai motif dan kepentingan lain yang melatar belakangi. Biar bagaimanapun rupa dan bentuknya dongeng tetap disatukan lewat satu hal yaitu mempunyai kadar fiksi.
Dongeng sebagai sebuah nilai-nilai kebudayaan dan kemasyakaratan bisa dicontohkan dalam banyak hal, seperti hormatnya orang Minang terhadap Ibu yang merupakan hasil dari pesan moral yang ada dibalik dongeng Malin Kundang. Cap anak durhako (dari kata durhaka) adalah suatu cap yang mengerikan dan paling dihindari dalam setiap kesuksesan orang Minang, dan cap itu adalah hantu yang menggelisahkan yang dapat menghancurkan gambaran masa depan yang cerah menjadi tenggelam dalam kepekatan kesialan. Ini merupakan penguatan dari nilai-nilai adat orang minang yang banyak disandarkan terhadap nilai-nilai yang ada didalam Islam, dan posisi Ibu di Agama Islam dihadapan anak begitu ditinggikan menjadi orang yang pertama juga kedua bahkan ketiga paling penting sedangkan Ayah setelahnya ( Ayah adalah orang ke-empat yang diutamakan, setelah Ibu sebagai orang yang utama sekaligus kedua dan ketiga yang harus diutamakan) seakan-akan dia sebagai contoh konkrit dari sebuah sanksi hukum yang menandakan pastinya eksistensi hukum tersebut.
Begitupun juga dengan Sangkuriang, dari-sanalah penetapan sistem tabu terhadap insest diberlakukan yaitu larangan menikah kepada sanak sedarah dalam konteks dan kondisi apapun. Hal ini agak menarik jika melihat temanya yang persis seperti legenda Wuku di Jawa dan Oediphus dari Yunani sana, seperti menyiratkan selain adanya sisi universal dalam pandangan moral insest juga ada sisi universal dalam cara menyebarkan wacana moral tersebut, yaitu lewat dongeng.
Di Jawa dongeng mempunyai andil yang besar bagi pendidikan dan pembelajaran, bukan pendidikan anak-anak saja, tapi juga pendidikan bagi orang dewasa. Nilai-nilai justru disampaikan lewat lisan dan salah satu alat transfer nilai yang dominan adalah lewat dongeng, banyak yang bisa dicontohkan namun yang paling mudah dan yang menjadi issue nasional adalah dongeng Wayang. Disana masyarakat Jawa di-ajarkan tentang filsafat hidup, etika, kebijaksanaan, strata masyarakat, spritualitas hingga psikologi manusia dan aspek-aspek lainnya. Tokoh-tokoh yang dijadikan ideal, seperti meng-idealkan tokoh Hanoman ataupun tokoh Karna, itu akan dijadikan sebagai ego ideal atau cita-cita pribadi ideal yang harus digapai oleh seorang pengagum dengan latihan, belajar (ngelmu) dan disiplin (puasa, dsb) ataupun meng-imitasikan atau meniru cara pemecahan masalah ataupun sikap dari tokoh tersebut. Ataupun sebaliknya, orang Jawa selain mengenal dirinya lewat tanggal kelahiran dan Wukunya, mereka juga mengenal dirinya lewat tokoh-tokoh pewayangan sehingga mereka bisa kenal siapa jati dirinya. Misal “aku orangnya tegas, keras namun menjunjung tinggi kebenaran, aku ini mirip dengan Bima”, karakter-karakter yang ada di wayang juga berlaku sebagai opsi pengenalan jati diri bagi si penonton. Ada karakter ideal, ada karakter yang harus dijauhi, seperti Dorna, Aswatama, Kurawa, hal ini bisa dijadikan peringatan atau makian yang bisa menjadi kritik diri bagi masyarakat, contoh “kamu pengecut seperti Aswatama, beraninya sama perempuan” dsb.
Hilangnya dongeng ditengah masyarakat, dan hilangnya kreator dongeng itu sama juga dengan hilangnya cermin bagi realitas sekarang atau masa kini. Nilai-nilai yang tidak lagi disuntikkan lewat dongeng tapi melalui essay dan artikel sama saja dengan tidak meng-awamkan sebuah nilai agar dapat di-akses sebagian besar masyarakat. Seluruh dunia sekarang diam-diam menciptakan dongengnya masing-masing dan menyelipkan makna-makna dan nilai-nilai kedalam dongeng tersebut, seperti Hary Potter, Lord Of The Ring, Narnia, Shriek, Nemo, namun rakyat Nusantara yang sebelumnya begitu fasih berfalsafah dalam dongeng sekarang membisu, mereka menyerap segala informasi dan pesan dari luar tanpa bisa memantulkan apapun yang mereka terima karena hal tersebut sama sekali tidak terkait dengan tanah, bumi dan realitas mereka. Lord Of The Ring itu adalah adopsi dari prinsip bilbikal, tokoh utama yang baru ditemukan di Pub dan sebagai seorang nobody itu sebetulnya sama seperti prinsip Nabi Isa (Yesus dalam kristiani) yang tidak kenal hingga berumur 30, selama itu dia hanya orang biasa. Begitupun juga tokoh-tokoh yang lain, mereka merupakan citra dari Isa dalam berbagai bentuk dan sisi yang lain. Hary Potter, adalah penghidupan kembali akan hasrat untuk kembali kedalam dongeng atau mitos-mitos Yunani lama dan memang banyak muatannya yang bisa ditemukan disana.
Matinya dongeng-dongeng ditanah air adalah akibat dari putusnya tali kebudayaan yang ada didalam Nusantara sehingga cerita tentang tanah, udara, manusia, binatang dalam alegorinya, air, api milik Nusantara tidak pernah diteruskan. Tokoh-tokoh dongeng baru yang lahir si sudut-sudut ruang kebudayaan kita diabad 21 ini tidak diketahui Nasibnya seperti apa, karena mereka tidak disorot kamera dan wartawan, mereka tidak disorot pasar, karena itu pemirsa tak akan pernah menyorotnya pula. Mereka dibiarkan disudut-sudut kegelapan sebagai “yang tak dikenal”. Inilah petanda ruang kebudayaan itu telah berhenti tumbuh, karena tokoh-tokoh itupun ikut tumbuh bila kebudayaan tumbuh, mengapa tokoh-tokoh dongeng itu tidak lagi tumbuh? Karena kita sedang sibuk menumbuhkan tokoh-tokoh lain yang berasal dari tanah yang begitu jauh, cerita-cerita itu telah didominasi dengan cerita-cerita lain, bukan sebagai pembanding, bukan sebagai pertukaran tapi sebagai pengganti. Cerita-cerita itu tidak memiliki kaitan dan hubungan refrensi dari belahan budaya manapun dalam bumi Nusantara ini dan para pendongeng kitapun tidak fasih berdongeng dengan logat mereka sehingga mereka cenderung diam atau tetap mendongeng dengan logatnya yang norak dan melahirkan karya-karya imitatif murahan seperti “Heri Potret” dan lusinan karya imitatif lainnya. Ketiadaan dongeng orisinil yang khas, dengan kata lain sebuah cerita yang menceritakan perjuangan dan perkembangan semangat zaman dan Budaya kita, menjadikan kita yang sekarang ini sebagai suatu peradaban yang tidak memiliki hubungan dengan kita yang masa lalu, bahkan berkebalikan darinya. Wujud kita sekarang tak lain dari sebuah “parodi” dari kebudayaan barat, gaya hidup dan eksistensi kita saat ini tidak lebih dari sebuah parodi, sebuah tiruan, sebuah imitasi.
Karena itulah, dongeng lama harus diteruskan. Karena dengan begitu berati kita juga sedang meneruskan peradaban kita sendiri. Dongeng itu harus berasal dari realitas kita sekarang apapun itu bentuknya entah berbentuk realitas bencana dan kesusahan, dongeng tentang kemiskinan orang-orang mayoritas dan betapa berkuasanya orang-orang yang minoritas. Dongeng tentang para pejabat yang seenaknya lempar melempar kesalahan sehingga si-Pitung terpaksa main hakim sendiri nempelengi tanpa gubris jaksa dan polisi. Atau dongeng tentang Si-Buta dari Goa Hantu yang keluar dari lubang pertapaannya dan mengusahakan kesadaran bersama dari orang-orang yang acuh akan realita. Dongeng tentang Semar yang turun ke Jalan untuk membantu para petani dan rakyat kecil melawan para tengkulak. Dongeng tentang Ayam hitam yang dikirim oleh perkampungan siluman untuk menyebarkan virus flu ke-Ayam-ayam kerajaan Nusantara hingga seluruh madyapada berguncang karenanya. Dongeng itu harus tidak lepas dari realitas dan semangat jamannya. Karena pada dasarnya, mendongeng itu seperti bermain layang-layang, kamu boleh menerbangkannya setinggi mungkin tapi kamu harus menjaga agar benang itu tidak putus, karena benang tersebutlah yang menghubungkan layang-layang itu (yang mengawang-ngawang dalam kefiksiannya) terhadap tanah dan pijakan kakimu (dasar realita/landasan realita).
Salah satu atau bagian kecil dari meneruskan kebudayaan dan karakter Bangsa adalah, meneruskan dongeng yang mempunyai hubungan yang unik dengan realita, karena hubungan itu selalu dimediasikan oleh kefiksiannya. Karena itu dia unik, karena itu juga dia sungguh menghibur.
Seperti Wahyu Allah yang kira-kira berbunyi “Tidakkah Aku menciptakan manusia, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka bisa saling belajar?” Dengan memelihara kelangsungan diri kita atau identitas kita sebagai Bangsa, kita bukan saja belajar dari kebijaksanaan kita sendiri namun juga kita membiarkan dunia belajar dari kebijaksanaan kita. Namun apabila pada realitasnya kitapun tidak lagi berbangsa, bersuku dan berbudaya, namun kita telah menjadi sebuah parodi dari budaya Amerika atau Eropa? Bagaimana mereka bisa belajar kalau kita sendiri telah menghilangkan kemajemukan kita sendiri? Maka carilah eksistensi kita, dibalik tanah, air, pohon, daun, manusia dan berbagai eksistensi lain yang ada disekitar kita, ayo gali, lalu dongengkan. Temukan lagi parodikan lagi mainkan lagi tokoh-tokoh Nusantara di Abad 21 ini.
Karangan : Dion Priatma
kawan-kawan stop goblog, silakan berkunjung ke blog kami…
ada salam dari seorang teman lama: timur
http://www.kapasmerah.tk
hahaha nanti gw kunjungin lw kawan. Gw sms TOmy juga. Salam Sastra
“cogito er tum dubis dum” Sebuah bangsa akan hancur ketika bangsa itu melupakan budayanya sendiri”
Sebuah bangsa baru akan berdiri ketika mereka menciptakan budaya sendiri. jadi jangan takut kehilangan budaya ketika kita dapat menciptakan budaya yang lebih baik.