Dongeng
In Esei on Juni 12, 2008 at 5:43 pmDongeng-dongeng menghiasi kehidupan dan sejarah manusia seperti lukisan dan pahatan-pahatan yang bergelantung pada dinding-dinding peradaban, mereka adalah buah dari masa, adalah parodi sebuah perjalanan peradaban dan manifestasi dari kekuatan imajinasi. Banyak peran keturut andilannya dalam sejarah pemikiran dan persepsi kita, baik untuk pembelajaran sejarah yang berlalu, realitas yang ada sekarang dan harapan serta ketakutan visioner kita untuk masa depan. Sebab dongeng merupakan refleksi dari cita-cita, idealisme, ketakutan, hirarki, nilai dan segala elemen lain yang ada dimasyarakat, dia adalah fiksi yang diharapkan nyata sehingga dapat menjadi contoh moral, ataupun kenyataan yang difiksikan agar monumental dan menarik. Dari-hal tersebut dapat disimpulkan kalau dongeng mempunyai geopolitiknya sendiri sesuai dengan sejarah masyarakat tempat kelahirannya karena dongeng adalah bagian dari budaya dalam satu sisi, sedang disisi lain dongeng juga menjadi cermin tempat berkacanya budaya itu sendiri agar mengenali siapa dirinya dan akan jadi apa dirinya kelak, hal ini memperjelas ikatan dongeng terhadap ruang, keberadaan, kreasi massa dan waktu. Bisa saja dia berwujud seperti sebuah kritik budaya terhadap dominasi paternal misal saja terhadap : kebebasan menikah dan memilih identitas kemasyarakatan, bisa juga menjadi sebuah parodi realitas kekuasaan pada zamannya, atau sebuah dogma hiburan bertema kepahlawanan yang dimisikan untuk melanggengkan hirarki atau sebuah kebiasaan secara terselebung, sedang penyelubungan tersebut juga banyak yang dikembangkan dengan berbagai motif dan kepentingan lain yang melatar belakangi. Biar bagaimanapun rupa dan bentuknya dongeng tetap disatukan lewat satu hal yaitu mempunyai kadar fiksi.
HUKUM : PARODI, ZEN DAN KONTEKSTUALISASi TANPA BATAS
In Esei on Juni 12, 2008 at 5:39 pmKalau kita jalan ke Glodok, sebuah wilayah di Jakarta, dan Jakarta adalah Ibu Kota Negara bernama Indonesia yang notabene di-Negara ini terdapat Undang-undang “anti-Pembajakan”, Glodok akan menyuguhkan sebuah pentas besar yaitu : Festival Film Bajakan Indonesia. Kalau kita masuk kepedalaman festival yang berlangsung setiap hari tersebut, kita akan sampai dijantung pedagang DVD eceran yang berblok-blok, dimana setiap blok tersebut diatasnya terdapat tulisan “Dilarang Menjual Film BF disini”, dan kalian tebak apa? Tepat dibawah tulisan tersebut mereka menjual film BF. Disaat itu hanya aku sendiri yang bisa menikmati sisi lelucon dan parodi dari Hukum, Hukum ternyata bisa menjadi sebuah hiburan yang ironis, sebuah komedi hitam atau sebuah filsafat eksistensialis yang lebih gila dari Sartre yang mengajarkan kita bukan lagi kekosongan dan ketidak-bermaknaan hidup yang menunggu kita dipuncak namun kegilaan dan kekosongan. Apa ini puncak dari kematian makna, apa di Indonesia ini klimaksnya? Mari berbicara tentang hukum.